it’s about all word’s

The Young gun Jerry Aurum

Posted by: algooth putranto on: May 3, 2007

Menguak kekuatan perempuan lewat Femalography

Perempuan adalah inspirasi. Sebuah keindahan yang tak akan pernah habis digali dari sisi manapun. Tentu saja butuh kemampuan lebih untuk bisa menempatkan keindahan perempuan tak hanya sebagai objek, namun juga meletakkannya sebagai subjek.

Hal itulah yang berusaha ditampilkan Jerry Aurum Wirianta, seniman grafis dan fotografi, dalam pameran yang berjudul sama dengan buku Femalography di Plaza Senayan City mulai hari ini.

Sesuai dengan namanya, pameran ini menampilkan berbagai ide fenomenal dalam fotografi dengan subjek utama perempuan.

Butuh waktu lima tahun dan duit tak kurang dari setengah miliar untuk menerjemahkan berbagai karakter perempuan dalam karya-karya yang unik, berani, dan inspiratif.
Pengakuan akan kekuatan dan kekayaan tubuh perempuan jelas tergambar dalam berbagai manifestasi pose yang tidak biasa.

“Namun, perlu digarisbawahi, perempuan menjadi subjek dalam pameran ini, bukan sekadar objek foto biasa,” tegas eksekutif muda ini.

Lebih dari 100 orang terlibat dalam pembuatan Femalography mulai dari aktris dan model seperti Rachel Maryam, Dian Sastro, Aline, Dinna Olivia, Indah Kalalo, Adella-Aletta, Endhita, VJ Cathy. Namun lebih banyak lagi perempuan dari kalangan biasa.

Sebelum pameran di Indonesia, Jerry meluncurkan buku yang dicetak secara eksklusif itu bersamaan pameran tunggal internasional bertajuk sama di Ministry of Information, Communications and Arts Building, Singapura, September lalu.

Tak hanya dihadiri banyak tamu penting, pada akhir tahun lalu, Borders Bookstore Singapore menobatkan buku itu sebagai 2nd Best Recommended. Gelar yang jarang diraih buku-buku karya orang Indonesia.

Satu alasan menggelar pameran di Singapura karena negara kecil itu adalah gerbang Asean. Selain itu masyarakat di sana tak akrab dengan model di buku tersebut sehingga penilaian yang datang lebih jujur.

Tentu saja ada faktor lain yang membuat pemilik Jerry Aurum Design and Photography dan White Tomato Graphic Design itu cukup lama menggelar pameran di Tanah Air.

Pertama pengalaman buruk pameran CP Biennale Jakarta Urban Culture tahun lalu. Selain itu tentu saja tiadanya penghargaan dan perhatian pemerintah pada kegiatan yang membuat masyarakat melek seni.

“Gue ngirim permohonan pameran ke pemerintah Singapura langsung dibalas hanya dalam waktu tiga jam. Sementara surat ke Galeri Nasional ditunggu sampai enam bulan nggak jelas juga,” tutur bungsu dari tiga bersaudara ini sambil tertawa.

Respon pemerintah negeri jiran bukan itu saja. Mereka pun memberi banyak kemudahan mulai dari izin hingga banyak potongan biaya untuk terselenggaranya pameran seni.

Modal nekad

Meski sudah menjadi satu pemain besar di bidangnya, Jerry tak banyak berubah. Tetap idealis seperti saat dia mulai bertahan hidup di Jakarta usai meraih gelar cum laude dari
Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Gue ke Jakarta sebagai orang udik bahkan jalur bis pun tak tahu. Selama empat bulan pindah kerja selama dua kali sebagai perancang grafis bergaji Rp1,5 juta. Akhirnya gue betul-betul keluar dan buka usaha sendiri,” kenang pria kelahiran Medan itu.

Dengan modal seadanya, pada usia 24 tahun, di sebuah rumah kecil di pinggiran Jakarta, Jerry memutuskan untuk membuka usahanya sendiri, Jerry Aurum Design and Photography.

Strateginya cukup unik karena menyasar pangsa pasar premium. Dibuatnya sejumlah 500 eksemplar kalender kecil dengan foto karyanya. Separuh dipasarkan melalui kawan-kawan almamaternya di Toko Oleh-oleh Ganesha ITB.

“Separuhnya disebar secara gratis ke kenalan. Rupanya petinggi Connoco Philips tertarik dan menawari proyek pemotretan kilang di pedalaman Palembang selama tiga hari dengan nilai Rp45 juta. Sejak itu gue nggak pernah ngasih harga murah untuk kerjaan,” ujar dia.

Alasannya, pangsa pasar premium tak pernah melihat harga. Mereka adalah konsumen yang mementingkan kualitas, profesionalitas dan tak mentoleransi kesalahan sekecil apapun.

Kurangnya percaya diri bermain di pasar ini disebut Jerry menjadi alasan, perancang grafis dan fotografer di Indonesia kurang berkembang bahkan tertinggal dibandingkan praktisi negara-negara Asean.

Meski konsisten di jalur premium, sejak Januari 2005 Jerry mulai melebarkan pasar dengan mendirikan White Tomato Graphic Design untuk mengelola proyek-proyek yang harganya lebih miring dan tidak mengejar untung.

Toh mapan tak membuat Jerry melupakan beban sosialnya pada lingkungannya. Dia tak segan-segan membiayai proyek-proyek nonprofit seperti pameran, mengajar hingga proyek desain tukang roti yang jelas tak punya cukup duit.

“Selalu ada keuntungan yang bisa kita dapat dari membagi isi kepala kita pada lingkungan kita,” tutur dia.

Untuk ke depan, Jerry memang masih terobsesi pada Femalography yang direncanakan menjadi trilogi. Lagi-lagi semua biaya penggarapannya diambil dari isi kantongnya sendiri.

Tujuannya? Apalagi kalau tak membuat orang Indonesia semakin banyak yang melek seni dan memberi ruang bagi sesama praktisi baru di bidang ini maju bersama-sama di tengah serbuan tenaga asing.

*wawancara bersama Wulan Gembul, dimuat Bisnis Indonesia 23 Februari 2007

3 Responses to "The Young gun Jerry Aurum"

top abis…!!! jadikan indonesia lebih berwarna..
sukses buat bang jerry, sukses buat para peliputnya, sukses jg buat para pekerja seni indonesia! amin.. :)

can’t say..
TOP wat bang jerry!

Salute……..

Bang Jerry layak jadi Panutan buat para fresh graduate…..

Die Harder Pisan Euy…..

Leave a Reply


  • Mo: aer got...!
  • ray: Hitoshi Tadano is a great show, where else can you see Maria as a cute sauna lady! http://japansugoi.com/wordpress/maria-ozawa-and-yuri-ebihara-appea
  • Arman: Yth. Sdr. Algooth, apakah bisa minta tlg informasi beasiswa/sponsor dr YKHD untuk mahasiswa sekolah theologi? Trimaksh sblmnya..

Categories

Archives

Tags

Pages

 

May 2007
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031