it’s about all word’s

Gelar luar negeri demi relasi dan gengsi

Posted on: February 20, 2008

Banyak orang berburu gelar di luar negeri dengan bermacam tujuan. Ada yang demi gengsi, kepuasan, atau sekadar mencari relasi. Uang yang mereka tebar untuk menuntut ilmu itu cukup tebal, bahkan ada yang rela mengeluarkan miliaran rupiah demi gelar yang mengembel-embeli namanya. Seperti apa profil mereka?

Sebut saja namanya Chritian, usianya belum tiga puluh tahun tetapi sudah dipercaya untuk mengendalikan sebuah usaha konveksi yang cukup besar di Jakarta dan Bandung. Tak hanya setiap hari berjas rapi dan punya koleksi mobil mewah. Tampilan David yang klimis itu makin meyakinkan dengan gelar BSc dan MBA yang tertera di kartu namanya.

Pada awalnya dia enggan memajang gelar-gelar itu. Tetapi seringkali oleh kawan-kawan sekantornya dia dipandang remeh karena usianya yang masih muda. Akhirnya gelar itu dia pajang.

“Hasilnya sungguh mengejutkan. Apalagi begitu tahu saya lulusan luar negeri. Mereka langsung menaruh hormat,” kenangnya saat memulai kiprahnya di bisnis konveksi enam tahun lalu.

Padahal, lanjutnya, untuk mendapatkan gelar Bsc (Bachelor of Science) dan MBA (Master of Business Administration) di Australia tak sulit. Untuk gelar BSc atau under graduate apalagi di bidang manajemen hanya butuh waktu tiga tahun tanpa skripsi.

Australia memang tak mewajibkan skripsi. Bahkan untuk bisa mengerjakan tugas akhir setingkat skripsi justru sulit. Sebab mahasiswa wajib memiliki nilai yang terbaik dan mendapatkan rekomendasi dari salah satu dosen senior.

Dengan bekal skripsi tersebut, mahasiswa bersangkutan akan mendapatkan gelar tambahan Honour (Hons) yang bisa menjadi tiket untuk meraih gelar master of science lebih cepat dibandingkan mahasiswa tanpa gelar tersebut.

Sedangkan untuk meraih gelar MBA yang-konon bergengsi-itu hanya butuh waktu sekitar setahun. “Gelar MBA yang aneh ada di Indonesia. Masa kursus keterampilan tinggi kok mengharuskan thesis. Pantas jika orang berduit lebih memilih untuk membeli gelar.”

Namun Christian tak sepenuhnya benar. Sebab di Indonesia gelar apa pun bisa didapat dengan mudah. Mulai dari gelar sarjana hingga doktor universitas luar negeri antah berantah bisa diperoleh dengan mudah.

Cukup dengan beberapa juta rupiah, gelar yang diinginkan tersebut bisa didapat. Dan, dipercayai gengsi dan strata sosial pemilik gelar lalu akan melambung tinggi.

Bius gelar luar negeri sebagai peningkat gengsi pun makin menjadi-jadi. Pemiliknya pun beragam dari Wakil Presiden, Kapolri, pejabat setingkat Menteri hingga penjual batu akik. Bahkan rektor Undip, Eko Budihardjo pun bersaksi tentang keberadaan seekor kucing dengan gelar doktor.

Tetapi, gelar luar negeri sebagai peningkat gengsi justru dibantah oleh ilmuwan dan pengusaha Ilham Akbar Habibie yang lahir dan besar di Jerman. Menurutnya dengan gelar luar negeri tak serta merta gengsi seseorang akan terangkat.

“Mungkin benar gengsi akan naik. Tapi itu bagi orang tak berpendidikan dan tidak profesional. Sebab di kalangan orang profesional justru lebih diperlukan skill nyata,” ujarnya usai peresmian Alumni Club University of Chicago, awal pekan lalu.

Menurut pemilik gelar Phd dengan predikat summa cum laude dari Technical University of Munich, Jerman itu justru dengan gelar luar negeri ada tanggung jawab yang lebih besar pada gelar yang telah disandang tersebut.

“Dalam hal penerimaan pegawai saya justru menempatkan gelar sebagai alat pemisah diantara ribuan atau ratusan pelamar. Dan sesi wawancara sebagai alat penilai tertinggi,” ujar peraih Bintang Satyalancana Wira Karya dan Adikarsa Pemuda 1997 itu.

Hanya saja, lanjut Ilham, justru masih terlalu sering ditemui penghargaan yang berlebihan dari pihak industri dalam negeri dan lembaga pemerintahan terhadap gelar-gelar luar negeri.

Akibatnya selama bertahun-tahun hal itu dimanfaatkan sekelompok orang untuk menjual gelar-gelar luar negeri palsu. Itu pun didukung lemahnya penegakkan pemerintah.

Yang justru aneh adalah usaha beberapa universitas negeri untuk menyelenggarakan kelas jauh pernah dipersulit oleh pemerintah. Padahal di saat bersamaan marak ditawarkan gelar ganda hasil kerjasama universitas dalam negeri dan luar negeri.

“Saya punya kawan yang ikut kelas jauh dengan cara online Internet. Hasilnya sama bagusnya dengan orang yang sepenuhnya kuliah di luar negeri,” ujar sutradara muda Riri Riza disela-sela diskusi bertajuk Apa yang dilihat anak dari sebuah film, akhir pekan lalu.

Tak pernah pusing

Riri lebih memilih menyisihkan sebagian uangnya untuk kuliah di luar negeri berkat beasiswa Chevening Inggris di bidang ilmu penulisan naskah film.

Menurut dia bidang ilmu yang dia tekuni tidak ada di Indonesia. Kalau pun ada masih tertinggal atau masih sangat terpola dengan sistem pendidikan Indonesia yang terlalu sarat teori.

Toh, usai mendapatkan ilmu yang dia incar beserta gelar yang berhak disandang. Riri mengaku tak pernah pusing untuk menggunakan gelar dari Inggris itu. “Dunia film itu dunia profesional. Yang dilihat bukan gelar tapi karya.”

Senada dengan Riri, Managing Director PT CB Richard Ellis Indonesia, Anton Soetopo justru melihat penghargaan dunia industri terhadap gelar luar negeri karena mutu yang ditawarkan memang lebih tinggi dibandingkan pendidikan di dalam negeri.

“Kalau dilihat dari materi. Pendidikan Indonesia memang lebih padat tapi tidak penerapannya tidak jelas. Sedangkan di luar negeri, siswa diajak untuk mandiri dan benar-benar mengerti apa yang dipelajari,” tuturnya.

Jebolan George Mason University, Virginia, dan University of Chicago Graduated School of Business itu justru menekankan pentingnya jalinan relasi yang bisa didapatnya usai mengikuti pendidikan di tempat yang bergengsi tersebut,

Anton memberikan ilustrasi dalam satu kelas angkatannya yang tak lebih dari sepuluh orang itu dia bisa semeja dengan manajer terkenal dari sebuah bank terbesar di Amerika atau pemilik supermarket di Asia.

Justru dari setiap kelas diskusi tersebut ilmu-ilmu manajerial yang sudah berhasil diterapkan di berbagai negara itu bisa diserap lebih efektif dibandingkan jika hanya kelas kuliah.

Meskipun untuk itu Ilham atau Anton harus cukup sabar untuk bisa mengumpulkan dana pendidikan yang sangat mahal di University of Chicago Graduated School of Business.

Jika dihitung untuk bisa menempuh pendidikan di tempat bergengsi itu, Ilham dan Anton wajib menyetor duit senilai hampir Rp1 miliar.

Bandingkan dengan gelar MBA ITB kelas reguler (full time) yang hanya mewajibkan peminat gelar ini menyetor Rp45 juta, sedangkan kelas eksekutifnya cukup Rp50 juta.

Selain itu seperti halnya ikatan alumni lain. Pada umumnya antar alumni sekolah ini masih terus berhubungan. Baik sekedar nostalgia hingga urusan menanam duit di Indonesia.

“Pada umumnya jika mereka ke Indonesia pasti yang dihubungi pertama kali ya kawan seangkatan. Jadi kalau dihitung-hitung kesempatan dan manfaat yang didapat lebih dari nilai duit yang disetorkan,” ujar Anton.

Tak heran dunia bisnis dan ekonomi Indonesia pernah sangat tergantung pada ikatan alumni luar negeri sebut saja mafia Barkeley, mafia Harvard hingga mafia Jerman. Nah, termasuk lulusan mana Anda?

*Bisnis Indonesia Edisi: 25/09/2005

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 41 other followers

%d bloggers like this: