Posted by: algooth putranto on: February 21, 2008
Judul : Spiritual Capital
Memberdayakan SQ di Dalam Bisnis
Penulis : Danah Zohar dan Ian Marshall
Penerbit : PT Mizan Pustaka, 2005
Tebal : 254 halaman
Judul : Zakat dan Peran Negara
Editor : Kuntarno Noor Aflah dan Mohd. Nasir Tajang
Penerbit : Forum Zakat, April 2006
Tebal : 202 halaman
‘Homo Homini Lupus’ (manusia adalah srigala bagi sesamanya) ujar filsuf Plautus menggambarkan kejiwaan manusia saat dikuasai paham materialisme yang kemudian menghancurkan imperium Romawi.
Saat paham materialisme berkuasa maka kerakusan serta cinta diri menghancurkanpaham kemanusiaannya. Hal ini tidak saja berlaku dalam perjalanan berbangsa namun juga terjadi pada dunia bisnis yang sangat kapitalis.
Paham kapitalisme yang mementingkan nilai-nilai kebendaan akhirnya meminggirkan peran penting nilai-nilai spiritual. Dampaknya sebagian besar pelaku bisnis tidak mengacuhkan spiritualitas dalam perjuangan menggapai kesuksesan bisnis.
Bahkan, tidak sedikit pebisnis yang menganggap nilai-nilai spiritual sebagai penghambat. Dalam bisnis yang sangat berorientasi pada laba, praktek-praktek penghisapan pada sesama terjadi tak terelakkan.
Dalam buku karya Danah Zohar (fisikawan, filosof dan edukator manajemen) dan Ian Marshall (psikiater) diperkenalkan konsep Spiritual Capital atau Modal Spiritual sebagai pengembangan kecerdasan spiritual (SQ).
SC merupakan modal pentingnya dari dua modal bisnis yaitu modal materiil dan modal sosial. Dengan SC, modal individual pebisnis yaitu kecerdasan rasional (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) disempurnakan.
Dengan menyerap paradigma SC diharpkan terwujudnya budaya bisnis berbasis-nilai yang memadukan kegigihan mencari keuntungan dengan cita-cita yang luhur dengan hasil akhir tercapainya kesuksesan materiil beriringan dengan kesuksesan spiritual.
Harapannya tentu saja tumbuh sebuah budaya perusahaan yang mengganti manipulasi dengan pemberdayaan, disiplin yang kaku dengan spontanitas, sikap masa bodoh dengan kepedulian.
Sucikan harta dan jiwa
Harta itu Kotor, Zakat yang membersihkannya hal ini tertuang dalam firman Allah SWT: “Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan (harta) dan mensucikan (jiwa) mereka” (QS. At-taubah : 103)
Maka dari itu, tidak dapat ditawar-tawar lagi, zakat adalah perintah Allah yang mutlak harus dipenuhi sebab sudah ditegaskan begitu pentingnya arti zakat bagi mereka yang memenuhi kategori wajib zakat, yaitu para pebisnis dan kaum aghniya.
Karena zakat sebagai ibadah maaliyah ijtimaiyah–ibadah yang terkait dengan harta dan jiwa sosial yang dimiliki–adalah satu-satunya cara untuk membersihkan harta dari segala kekotoran yang menghinggapinya.
Allah SWT menegaskan dalam firmannya: “Dan pada harta-harta mereka terdapat hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (yang tidak meminta).” (QS. Adz-Dzaariyaat : 19).
Artinya, 2,5% dari harta (penghasilan) yang diperoleh secara rutin adalah hak orang lain. Entah itu penghasilan yang berbentuk gaji, komisi, bonus dan lain-lain, yang memenuhi nisab zakat penghasilan atau profesi.
Sayangnya, tidak semua umau muslim mengetahui arti pentingnya zakat dan menunaikan zakatnya secara konsisten dan teratur.
Beberapa gerakan mempopulerkan zakat di tanah air seperti Badan Amil Zakat Infak dan Sedekah (BAZIS), Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LAZIS), serta Badan Wakaf (BW), Dompet Dhua fa, Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) belum cukup berhasil menciptakan kesadaran zakat yang membumi di kalangan umat.
Peran negara yang diharapkan mendukung gerakan zakat pada gilirannya justru menghambat upaya lembaga-lembaga yang bergerak di bidang zakat tersebut karena kuatnya kepentingan politis di masa-masa tertentu, misalnya menejelang Pemilu.
Cukup mudah ditemui contoh kasus di mana lembaga zakat sangat tergantung pada legitimasi birokrasi negara. Saat publik percaya pada lembaga zakat yang disponsori pemerintah, kuantitas zakat pun meningkat.
Sebaliknya saat birokrasi mengalami delegitimasi, kuantitas zakat pun melemah karena lazimnya kepercayaan rakyat terhadapnya juga merosot setelah dikecewakan oleh wakil-wakilnya di pemerintahan.
26/5/2006