Posted by: algooth putranto on: February 21, 2008
Indonesia sejak lama diketahui rentan gempa karena lokasinya berada di kawasan “Relung Volkano” yang mengitari landas samudera Pasifik. Sebut saja gempa besar di Liwa, Aceh hingga Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Kondisi ini sejak dulu sudah disadari nenek moyang kita dengan membangun rumah tradisonal yang tahan gempa. Arsitekturnya memiliki ciri khas ringan, menghindari sambungan jepit dengan pondasi umpak.
Namun seiring kemajuan jaman, rumah-rumah kayu itu kini mulai ditinggalkan. Tidak hanya karena alasan kekinian tetapi juga karena keterbatasan bahan baku kayu yang semakin mahal.
Sebaliknya beberapa hasil riset modern dalam negeri yang dikembangkan justru kurang memasyarakat karena tiadanya dukungan dari pemerintah yang lebih suka melihat bencana demi bencana menimpa rakyatnya.
Seismic Bearing
Sebut saja penggunaaan bantalan karet alam (Seismic Bearing) untuk melindungi bangunan terhadap gempa bumi, yang dikenal sebagai base isolation karya Balai Penelitian Teknologi Karet Bogor.
Teknologi pembuatan dan bahan bantalan tahan gempa yang digunakan untuk rumah tinggal maupun maupun gedung bertingkat ini sebagian besar ada di dalam negeri.
Aplikasi bantalan ini digunakan untuk melindungi gempa bumi dibuat dari kombinasi lempengan karet alam dan lempeng baja yang dapat mengurangi daya reaksi hingga 70%, karena secara alami karet alam memiliki sifat fleksibilitas dan menyerap energ
Bantalan tersebut dipasang disetiap kolom yaitu diantara pondasi dan bangunan. Karet alam berfungsi untuk mengurangi getaran akibat gempa bumi sedangkan lempeng baja digunakan untuk menambah kekakuan bantalan karet sehingga penurunan bangunan saat bertumpu diatas bantalan karet tidak besar.
Pengaruh gempa bumi yang sangat merusak struktur bangunan adalah komponen getaran karet horizontal. Getaran tersebut dapat menimbulkan gaya reaksi yang besar, bahkan pada puncak bangunan dapat berlipat hingga mendekati dua kalinya.
Oleh sebab itu apabila gaya yang sampai pada bangunan tersebut lebih besar dari kekuatan struktur maka bangunan tersebut akan rusak. Gaya reaksi yang sampai bangunan dapat dikurangi melalui penggunaan bantalan karet tahan gempa.
Pada dasarnya cara perlindungan bangunan oleh bantalan karet tahan gempa dicapai melalui pengurangan getaran gempa bumi kearah horizontal dan memungkinkan bangunan untuk begerak bebas saat berlangusung gempa bumi tanpa tertahan oleh pondasi.
Rumah Baja
Teknologi lain adalah rumah anti gempa yang dibangun dengan sistim baut (semua bagiannya disambungkan dengan baut) sehingga dapat dibongkar pasang dengan mudah karya Akademi Teknik Mesin Industri (ATMI) Solo.
Menurut Andre Sugijopranoto SJ, tiga bangunan yang dibangun di Aceh sudah terbukti mampu bertahan ketika diguncang gempa berkekuatan 6,2 skala Richter yang mengguncang ujung barat Indonesia tahun lalu.
“Setelah bencana kita lalu membangun 300 unit rumah tahan gempa di Aceh. Beberapa diantaranya unit sekolah dan rumah ibadah dan sebentar lagi mungkin ke Malaysia dan Brunei,” ujar Andre.
Menurut dia rumah ini dibuat dengan desain rumah panggung dengan pondasi setempat atau umpak dari beton yang dihubungkan dengan baut ke struktur utama yang terbuat dari baja anti karat.
Dinding bagian bawah terbuat dari plat dengan ketebalan 1 mm dan dilapisi powder painting agar tidak mudah berkarat. Sedang dinding bagian atas berupa humanboard, yaitu campuran serat kayu dengan semen dengan ketebalan tertentu.
Pencampuran semen yang banyak membuat dinding ini tahan api. Juga ada pilihan dinding campuran antara stereofoam dan semen sehingga tahan guncangan.
Untuk bagian atapnya dibuat dari seng yang dilapisi aluminium sehingga tahan karat. Sementara untuk kusen jendela dan pintu digunakan aluminium yang ringan dan tahan karat.
Rumah ini merupakan pengembangan dari model rumah smart modula yang telah lebih dulu dirancangnya. Model ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan rumah cepat yang dibangun untuk perkantoran atau proyek diatas tanah yang bukan hak milik.
Rumah ini dapat dipindahkan dengan mudah karena tidak ada ikatan yang permanen karena menggunakan sistim baut.
“Sistim baut di rumah ini juga berfungsi menahan pergerakan rumah saat ada gempa sebab lubang baut berbentuk oval dengan memberikan tolerasi sebesar 1 cm ke kiri dan ke kanan,” lanjut pengajar ATMI tersebut..
Prinsip itu adalah jika kekencangan baut kalah oleh gerakan gempa. Maka struktur bisa bergerak mengikuti gaya horisontal dan vertikal yang ditimbulkan gempa.
Sayangnya, rumah anti gempa tak populer karena mahalnya harga satu unit bangunan ini.
Untuk membangun rumah anti gempa dengan ukuran 72 meter persegi ditawarkan harga antara Rp 750 ribu -Rp 1,5 juta per meter persegi atau Rp52 juta.
“Selain itu, secara budaya orang Indonesia belum sreg dengan desain minimalis seperti ini dan masih sering kaget dengan harga yang ditawarkan. Padahal kalau dihitung ini lebih murah dibanding rumah kayu atau tembok,” ujar Andre.
28/5/2006
Wah informasinya berguna terutama untuk saat2 kya gini, salam kenal.
kalo boleh tolong donk kasih tau informasi dengan siapa saya dapat berconsultasi unutk bangun rumah anti gempa
tks
rgds
mas…aku mohon dikirimi artikel dan gambar desain rumah tahan gempa dong….boleh kah?
Alhamdulillah….Putra/i Indonesia bisa berkarya demi keselamatan Alam dan Lingkungan…
Mohon alamat dengan jelas jika kami mau memesan rumah yang tahan gempa ini……dimana kami bisa menghubungi..lokasi kami ada di daerah BEKASI Barat..
Terima kasih atas responya dan selamat n maju berkarya terus agar bangsa kita lebih unggul dari bangsa 2 lain.. Amin
kq cma dr internet aj,,,
coba d umumin d tv dll….
jd masyarakat bnyak tw,,,,
selamat sore buat rekan2 semua
kebetulan saya pernah menimba ilmu dan praktek langsung di perumahan anti gempa di jepang yaitu di ICHIJYOKOMUTEN ltdselama 3 tahun.Bagi siapa yangberminat untuk mengembangkan rumah anti gempa kiranya saya bisa memberi masukan yang bermanfaat untuk masalah rumah anti gempa.berdasarkan pengalaman kerja saya sewaktu di jepang membangun rumah gempa kemungkinan besar lebih murah pembuatannya disini karena semua sumber bahan ada di negeri yang tercinta ini. Dibandingkan di jepang yang harus mendatangkan bahan anti gempa dari beberapa negara.untuk lebih lanjutnya dapat menghubungi saya di 085697529178,02196171849.
mbak yani makasih atas info nya . tks
memang pemerintah di indonesia sangat kurang pengetahuan tentang masalah ini
October 5, 2009 at 3:08 am
sangat bagus untuk dibaca dan di implementasikan !
October 6, 2009 at 12:57 am
sayang pemerintah cuma mentok di penelitian…implementasi minim