it’s about all word’s

Perth: Indahnya kota bule yang ndeso

Posted on: February 22, 2008

Ramahnya pedesaan di Australia Barat

Pada dasarnya manusia memang spesies aneh yang selalu tak pernah puas dengan kondisi yang dialaminya. Jika terbiasa hidup dengan hiruk-pikuk metropolis biasanya justru cenderung memilih tetirah ke pedesaan.

Australia Barat termasuk salah satu tempat yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya. Negara bagian terluas di dunia dengan luas mencapai 2,5 juta kilometer persegi ini jumlah penduduknya hanya 1,8 juta orang. Sebagian besar berjejalan di Kota Perth.

Karena letak Perth yang berada di ujung Lautan Hindia menjadikannya sebagai satu wilayah yang menyenangkan untuk dikunjungi para penyuka ketenangan pedesaan. Selain itu, letaknya yang tidak begitu jauh dari Jakarta membuatnya menjadi salah satu kota tujuan belajar.

Suasana tenang khas pedesaan di kota pantai barat negara bagian Australia Barat itu sudah langsung terasa begitu mendarat di Bandara Internasional Perth yang memiliki kawasan hijau sangat luas.

Karena dibangun di tepi Sungai Swan, banyak danau atau kolam di Perth yang terus dipertahankan, bahkan dipercantik dengan kawasan taman sebagai bagian dari tata ruang kota yang dilindungi untuk wilayah tangkapan air dan habitat hewan liar.

Salah satu danau yang terkenal adalah Hyde Park. Kolam seluas 15 hektare ini selalu ramai dikunjungi penduduk kota tiap musim panas atau musim semi tiba. Satu lagi taman yang selalu menjadi rujukan semua keluarga di Perth untuk piknik sembari memandangi kota kesayangan mereka dari ketinggian adalah Kings Park dan Botanic Garden yang memiliki koleksi tanaman yang mengagumkan.

Bagi penggemar wisata budaya bisa mengunjungi Western Australian Museum, Art Gallery of Western Australia, dan Perth Institute of Contemporary Arts. Sementara untuk yang membawa anak-anak bisa berwisata ke The Aquarium of Western Australia untuk menyaksikan kehidupan ikan paus di Koomba Beach di Burnbury, selatan Perth.

Jika Anda penggemar makanan, jangan lewatkan untuk melakukan tur mengunjungi pabrik cokelat, keju, dan anggur di daerah perkebunan anggur Swan Valley atau minum kopi di Claremount, Subiaco, dan Victoria Park.

Bagi orang yang gemar melihat keindahan alam panduannya cukup mudah. Di sebelah selatan ada kota-kota pantai Fremantle dan peternakan serta pertanian dan ladang anggur ke arah Northam.

Adapun ke arah utara dan barat adalah wilayah pedesaan. Pada wilayah utara Anda akan bisa menemukan daerah Kimberly yang dihuni banyak komunitas aborigin. Ke arah utara saya pernah ke Dongara, kota di tepi pantai yang kecil, tapi indah. Sayangnya, pasir pantainya tak sehalus dan seputih pasir pantai di Bali. Salah satu yang harus Anda coba di tempat ini adalah masakan craper fish ditemani anggur merah.

Bagi pasangan baru yang ingin menikmati wilayah pedesaan ada pilihan yang asyik yaitu wilayah kampus Muresk Institute of Agriculture Curtin University di kota Northam. Pihak kampus menyewakan pondok bergaya country.

Jika datang pada Juli, Anda bisa menyaksikan kompetisi anjing gembala di lapangan kampus tersebut. Kalau pasangan Anda penggemar balap reli, kampus ini juga setiap tahunnya menjadi lokasi seri reli dunia.

Dari sini Anda bisa saja melanjutkan perjalanan ke wilayah gurun di wilayah pedesaan utara a.l. bukit granit Yorkrakine Rock, Doongin Peak, dan York Farm yang merupakan kampung pengelana kulit putih.

Tempat lainnya adalah Charles Gardner Reserve. Di tempat ini Anda bisa melihat koloni semut gurun. Ada dua jenis semua yang wajib Anda waspadai, yakni semut bulldog dan black jumper. Semut bulldog paling bongsor di banding sesamanya dengan panjang bisa mencapai 3,5 cm.

Kota tua

Hanya 20 km dari Perth, di hulu Sungai Angsa berdiri kota pelabuhan Fremantle. Nama kota pelabuhan ini diambil dari nama Kapten HMS Challenger, Charles Fremantle yang menemukan wilayah itu pada 25 April 1829.

Jika Anda menyeberangi selat kecil itu bisa ditemukan Rottnest Island yang terkenal dengan binatang mungil berbulu bernama quokka. Bagi pejuang kemerdekaan Indonesia, Fremantle seharusnya terkenal. Sebab dari pelabuhan ini bule-bule Australia memboikot kapal Belanda atau memasok alat-alat perjuangan para pemimpin revolusi di Jakarta.

Yang menarik dari Fremantle adalah bangunan di tepi sungai yang terawat. Tidak seperti kota tua Jakarta atau kota lama Semarang yang kumuh. Di kota pelabuhan Fremantle bangunan tua dipelihara dengan baik. Sebaiknya untuk menuju Fremantle menumpang kapal yang ditempuh hanya 90 menit dan berakhir di sebuah terminal Pelabuhan Beach Street di pinggiran Fremantle.

Dari tempat itu Anda dapat singgah ke bangunan gudang tua bernama Wild Flower Land yang merupakan pusat kerajinan bunga kering alami. Salah satu yang wajib Anda bawa pulang sebagai oleh-oleh adalah bunga summerbloom.

Kalau belum capek segeralah berjalan menuju kota pelabuhan Fremantle yang terbagi menjadi dua bagian, yakni Fremantle dan South Fremantle. Hampir semua bangunan di tempat ini adalah bangunan kuno.

Beberapa bangunan itu diubah menjadi museum a.l. Shell & Rock Museum, The Energy Museum, Fremantle Prison Museum, dan West Australia Maritime Museum. Ada pula yang menjadi bangunan komersial dan fasilitas publik seperti Tourist Info & Town Hall, Fremantle Hospital, Tradewinds Hotel, Esplanade Hotel, Harbour Village Apartments, dan Biscuit Factory Apartments.

Satu tempat yang cocok bagi Anda untuk menikah adalah Fremantle Town Hall yang diresmikan bertepatan dengan ulang tahun ke-60 Ratu Victoria pada 1887. Roundhouse yang didirikan pada 1831 mulanya adalah penjara pertama di Koloni Swan River.

Satu tempat lagi yang selalu dipadati orang adalah Fremantle Markets yang dibangun pada 1897, namun sampai saat ini bangunan itu masih berfungsi dan berdiri kokoh. Satu atraksi ke Fremantle adalah pasar tradisional yang hanya buka pada Jumat, Sabtu, dan Minggu atau hari-hari libur. Pasar ini menempati lahan seluas hampir setengah hektare di ujung utara South Terrace Street.

Anda bisa berburu aneka macam pakaian khas Australia, batu permata, kerajinan kayu, barang-barang dari kulit domba dan ribuan pernik cenderamata yang memikat wisatawan yang menyinggahi tempat ini.

Sayangnya, bulu kanguru sulit ditemukan di tempat ini. Tapi jika Anda cukup ‘nakal’ pasti bisa menemukan dan membawanya pulang ke Jakarta. Jika capai berbelanja di Fremantle Markets, Anda bisa mengaso sejenak di warung-warung makan. Tak usah khawatir tak bisa makan di tempat ini. Semua jenis makanan bisa ditemukan di sini. Masakan Eropa dan Asia lengkap tersedia termasuk sate hingga nasi rendang padang.

Seperti halnya di Perth, di Fremantle juga banyak pengamen, tapi mereka sangat profesional. Selain jago, karena umumnya mahasiswa, para pengamen itu juga sangat sopan dan menjaga etika berpakaian dan kelakuan.

Satu agenda yang tak boleh dilupakan adalah berbelanja kerajinan mutiara Artisans of The Sea yang dikelola Kailis Broome Pearls. Dijamin tak ada mutiara imitasi di tempat ini.

Sempat jadi penampungan napi

Perth memang berbeda dengan Melbourne atau Sydney yang terletak di wilayah New South Wales dan dikenal sebagai kota tua di Australia serta sempat berebut menjadi ibu kota setelah wilayah jajahan Inggris itu menjadi federasi.

Tata ruang kota yang awalnya adalah ibu kota Koloni Sungai Swan itu tak jauh berbeda dengan Canberra yang dibangun sebagai kota taman, di mana penduduknya bisa tinggal berdampingan dengan taman, hutan kota, tepi sungai, dan pantai yang indah.

Perth berdiri pada 1829 atas permintaan dari pengusaha dan petani. Pada 1850 Perth menjadi tempat penampungan narapidana (napi) untuk mendapatkan tenaga kerja yang murah. Ini memang sudah lazim dipraktekkan pada masa lalu.

Nama Perth sendiri dipilih oleh Kapten James Stirling yang mencapai tempat itu pada 2 Mei 1829 berdasarkan permintaan Sir George Murray, Sekretaris Koloni, yang meminta agar lokasi tersebut diberi nama berdasarkan tempat kelahirannya, Perthshire di Skotlandia.

Berdirinya kota Perth disepakati pada 12 Agustus 1829, ditandai dengan penebangan pohon oleh istri sang kapten, Helen Dance sebagai tanda berdirinya wilayah yang oleh suku Nyungar (Aborigin) disebut Boorloo.

Cuaca Perth pun boleh dibilang sangat bersahabat sepanjang tahun. Dalam musim panas suhu rata-rata berkisar antara 15-26 derajat celcius dan temperatur di musim dingin berkisar antara 12-21 derajat celcius. Tentu saja tak terlalu dingin bagi Anda yang warga tropis.

Dengan kondisi ini jangan kaget jika sepanjang perjalanan Anda bakal sering disambut koak parau gagak atau cicit-cuit burung-burung macam burung gereja, betet, kakatua putih dan hitam, serta nuri yang banyak bergerombol di pohon-pohon sepanjang perjalanan dari bandara menuju jalur utama kota.

Banyak pilihan transportasi

Sebetulnya di Australia Barat, lebih menyenangkan jika berwisata dengan mengendarai mobil ke wilayah pedesaan yang indah pada musim semi atau pada awal musim panas.

Soal surat izin mengemudi (SIM), Anda tak perlu bingung karena SIM Indonesia bisa digunakan untuk masa tiga bulan setelah melapor ke kepolisian setempat. Sisanya, patuhi batas kecepatan dan berhati-hatilah pada binatang yang kerap melintas di jalan raya.

Dengan mengendarai mobil, Anda bisa menyusuri jalur ke arah pedesaan atau wilayah permukiman tua yang telah ditinggalkan penduduk di masa gold rush. Satu nasihat lagi-lagi adalah batas kecepatan tertinggi yang hanya mencapai 110 km/jam. Tanda setop di persimpangan pun harus diperhatikan. Jangan sekali-kali dilanggar sebab tanpa Anda sadari di titik-titik tertentu sudah dipasang kamera pemantau kecepatan.

Untuk transportasi berkeliling kota Perth, Anda bisa mengandalkan sistem transportasi seperti bus, kereta api, termasuk bus CAT gratis yang membawa kita berkeliling ke sejumlah tempat-tempat menarik.

Harga karcis bus mulai dari Aus$1,2 dan akan semakin mahal tergantung seberapa jauh Anda ingin pergi. Umumnya Anda tidak akan nyasar asalkan mengerti Bahasa Inggris. Jalur bus pun umumnya sudah tertera di tiap tempat pemberhentian.

Kalau masih kurang yakin, bisa saja Anda bertanya pada supir yang umumnya bersikap ramah. Anda yang cukup berumur pun tak perlu khawatir untuk naik bus sebab kendaraan ini akan dimiringkan ke kiri oleh sang sopir hingga pijakan di pintu sejajar dengan trotoar.

Untuk trem di Perth sistemnya serapi di kota-kota besar lain di Australia. Kalau Anda bandel sebetulnya bisa saja naik ke dalam trem tanpa membayar karena jarang ada pemeriksaan.

Kapal pesiar

Untuk menuju Fremantle yang berada di hulu Sungai Swan ada dua cara, yakni jalur darat dan sungai. Sebaiknya Anda mencoba menumpang kapal karena dengan cara ini pemandangan di sepanjang alur Swan River yang menghubungkan Perth dengan Pelabuhan Fremantle bisa dinikmati sepuas-puasnya.

Satu kapal yang bisa menjadi rujukan adalah James Cook Cruises. Jika Anda ingin sensasi lain, bisa memilih kapal-kapal pesiar lain yang ramai berjajar di Dermaga Barrack Street Jetty, yang terletak di jantung kota Perth.

Perjalanan terayun-ayun gelombang ini berjalan sekitar 90 menit dan akan berakhir di sebuah terminal pelabuhan Beach Street di pinggiran Fremantle. Sisanya, jalan kaki dengan aman menjadi sesuatu kemewahan yang tak mungkin didapatkan di Jakarta.

Sistem transportasi di Perth bukannya tak memiliki kekurangan karena kendaraan umum ini ternyata hanya beroperasi hingga pukul 9.00 malam. Hanya taksi yang bisa diandalkan. Tak ada bajaj, bemo, atau ojek kesayangan seperti di Jakarta.

Bisnis Indonesia Edisi: 26/11/2006

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 45 other followers

%d bloggers like this: