Posted by: algooth putranto on: March 1, 2008
Konferensi ke-60 Asosiasi Suratkabar Dunia (WAN) dan sidang ke-14 Forum Editor Dunia (WEF) di Cape Town Juni lalu menemukan fakta bahwa meningkatnya penetrasi Internet justru membuat media cetak makin dicari.
Kondisi ini tentu melegakan. Artinya, kehadiran teknologi digital justru menjadi suatu nilai yang saling melengkapi.
Pendapat tersebut kini bakal makin teruji, karena sebentar lagi akan hadir koran atau majalah masa depan dalam bentuk layar digital temuan Sony Corp dan iRex (anak perusahaan Philips Electronics) yang melakukan riset selama 30 tahun.
Sebelumnya raksasa elektronik Jepang itu telah menciptakan Reader Tablet yang memiliki display hitam-putih dan dapat dibaca di bawah terpaan langsung sinar matahari atau di ruang berpencahayaan rendah.
Display Reader Tablet dapat dilihat hampir dari setiap sudut, layaknya kertas biasa sebab tidak memiliki layar back-lit sehingga display tersebut menjadi lebih hemat daya.
Perusahaan lain yang menjadi pionir kertas elektronik adalah E-Ink yang didirikan para ilmuwan jebolan laboratorium media Massachusetts Institute of Technology (MIT) dua dekade lalu.
Belakangan banyak investor yang bergabung dengan perusahaan yang memiliki omzet bisnis hingga US$120 juta itu mulai dari Sony, Motorola, Philips (Belanda), Gruppo Espresso (Itali), TOPPAN Printing Company, Ltd. (Jepang) hingga Vivendi Universal Publishing (Prancis).
Sejak didirikan hingga saat ini, E-Ink sudah memegang lebih dari 100 paten teknologi tinta electrophoretic. Teknologi tersebut memanfaatkan arus listrik untuk menggerakkan partikel-partikel kecil guna menampilkan teks dan gambar.
Layar dengan teknologi monitor E-Ink ini murah dan tebalnya hanya selembaran plastik sehingga bisa digulung dan dimasukkan ke saku. Untuk membacanya tinggal buka gulungan dan download halaman-halaman yang akan dibaca.
Menurut beberapa penerbit, layar digital ini lebih mudah dibaca dibandingkan layar laptop atau telepon seluler karena selain lebar, resolusinya tajam dan dengan tingkat efisiensi energi yang makin baik.
Menurut rencana, penerbit Hearst Corp di AS, Pearson Plc di Les Echos Paris dan harian De Tijd Belgia akan melakukan uji coba dengan pembaca dalam skala luas akhir tahun ini.
Teknologi ini juga akan memangkas biaya produksi dan ekspedisi (pengiriman) hingga 75% dari total biaya produksi koran dan membantu meraih kue iklan online lebih besar lagi dan tetap terjangkau pembaca di mana pun berada.
Selain Sony, produsen teknologi display LG Philips LCD Co Ltd belum lama ini juga memperkenalkan kertas elektronik berwarna berukuran A4 pertama di dunia.
Kertas elektronik tersebut memiliki ukuran diagonal 14,1 inci (35,9 cm), tebal 0,3 mm dan mampu menampilkan hingga 4.096 jenis warna. LG Philips mengungkapkan kertas elektronik tersebut dirancang untuk beroperasi hemat daya karena hanya menggunakan daya ketika display menyajikan perubahan gambar.
“Kertas elektronik ini merupakan teknologi display masa depan. LG Philips merupakan perusahaan pertama dunia yang mengembangkan display e-paper fleksible berwarna berukuran A4,” tutur Chief Technology Officer/Executive Vice President LG Philips LCD Co Ltd In-Jae Chung.
LG Philips memaparkan, potensi pemanfaatan kertas elektronik tersebut sangat besar. Kertas elektronik tersebut memungkinkan para produsen elektronik memproduksi produk baru yang tidak hanya nyaman digunakan, tapi juga ramah lingkungan.
Kertas elektronik tersebut dibuat dengan menempelkan Thin-Film Transistors (TFT) pada logam dan bukan kaca. Karena itu, kertas elektronik tersebut menjadi lentur.
Dengan menggunakan tinta elektronik produksi EInk Corp, kertas elektronik LG Philips diklaim mampu menampilkan gambar dengan kualitas setara halaman cetak. LG Philips menambahkan, gambar yang tampil pada kertas elektronik tersebut tetap bisa terlihat jelas kendati dipandang dari sudut 180 derajat.
Baterai kertas
Untuk mendukung teknologi ini para ilmuwan AS sedang mengembangkan baterai berbahan kertas sehingga memiliki dimensi sangat tipis dan lentur. Pengguna bahkan boleh menggunting baterai tersebut dan membentuknya sesuai kebutuhan.
“Baterai kertas ini bahkan bisa ditumpuk dan direkatkan untuk memperoleh suplai daya lebih besar,” tambah profesor biologi dan kimia Rensselaer Polytechnic Institute, New York, Robert Linhardt.
Tim pengembang teknologi baterai kertas itu mengungkapkan, baterai berbahan kertas ideal sebagai sumber daya peranti penyimpan data (storage) alat-alat elektronik masa depan.
Ketika menggunakan baterai berbahan kertas, alat elektronik bisa didesain setipis dan seringan mungkin. Bukan tidak mungkin, alat elektronik tersebut juga memiliki kelenturan tinggi dengan kinerja sepadan.
Bisnis Indonesia Edisi: 26/08/2007
March 4, 2008 at 7:32 am
nah, mari berhenti langganan koran. apalagi kalo BI.
)