it’s about all word’s

Kembalinya perlawanan dari Gang Potlot

Posted by: algooth putranto on: April 10, 2008

Pertengahan tahun 1990-an musik menjadi satu-satunya perlawanan di tengah rezim Orde Baru yang represif. Generasi Jakarta akan terus mengenang Poster Kafe di Manggala Wana Bhakti yang menjadi batu penjuru pusat musik perlawanan.

Disebut perlawanan karena band-band yang manggung umumnya adalah grup band rock di luar major label. Dari Poster Kafe cukup banyak lahir artis dan musisi yang kini malang melintang di Tanah Air.

Saya mencatat Slank yang dibentuk dari Cikini Stone Complex (CSC) tahun 1983 adalah salah satu jebolan Poster Kafe yang sampai kini masih membawa semangat perlawanan tersebut.

Lewat lirik-lirik musik mereka, Slank yang diperkuat formasi emas, Bimbim (drum), Kaka (vokal), Bonky (bas), Pay (gitar) dan Indra Q (kibor) memberi ruang berekspresi bagi massa generasi muda 1990-an.

Sejak album pertama, Kampungan yang dirilis tahun 1992, Slank konsisten membuat merah kuping generasi mapan. Ketika band-band yang lain sibuk memainkan glam rock dengan lirik sesuai kaidah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), Slank cuek memainkan rock and blues dipadu lirik dengan bahasa jalanan Jakarta.

Tema yang diusung Slank hingga album Minoritas (1995) cukup beragam mulai dari curahan hati jomblo, aborsi, birokrasi, frustasi pengangguran, pacar cantik tapi bawel, tuntutan penampilan formal hingga tentu saja sentilan pada politik sekadar formalitas.

Dengan kemasan di luar kewajaran Slank sukses secara komersil. Tak hanya itu, massa fanatik mereka pun terbentuk sampai pelosok tanah air. Boleh dikatakan, Slank adalah representasi tandingan bagi Iwan Fals yang mulai menua. Gang Potlot pun tak pernah sepi.

Sayang usai album kelima tersebut, Slank harus kehilangan Bongky, Indra Q dan Pay. Narkoba disebut-sebut sebagai pangkal masalah perpecahan supergrup Indonesia tersebut.

Kondisi itu direpresentasikan Bimbim dan Kaka dalam album Lagi Sedih yang dirilis tahun 1996. Slank makin sedih setelah gitaris Reynold memilih mundur ketika promo album berjalan.

Beruntung manajer mereka saat itu Lulu Ratna atas referensi pemain bas Ivanka ingat pada sosok Abdee Negara dan Ridho Hafiedz. Lewat proses audisi yang kebetulan kedua gitaris itu masuk dan resmi memperkuat Slank hingga saat ini.

Dengan dua gitaris, Slank makin rock and roll serupa dengan ikon mereka, Rolling Stones. Sampai saat ini sudah enam album yang mereka rilis a.l. Tujuh (1997), Mata Hati Reformasi (1998), album kembar 999+09 (1999), Virus (2001), Satu-satu (2003) Road to Peace (2004), Plur (2004) dan Slow But Sure (2007).

Dari setiap album itu pula, lirik-lirik Slank yang semakin berani tak jarang sering dipakai sebagai jargon-jargon politik yang ramai sepanjang 1998 hingga saat ini. Tak heran cukup banyak partai yang mengincar Slank.

Gosip Jalanan

Belakangan angin terasa kencang ketika Slank digandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kampanye pemberantasan korupsi. Gara-gara tembang ‘Gosip Jalanan’ yang dimainkan di Lobi Utama Gedung KPK, 3 April lalu membuat Badan Kehormatan (BK) DPR merasa terhina.

“Lagu tersebut sangat menyakitkan bagi anggota dewan dan keluarganya karena dinyatakan bahwa DPR sebagai lembaga pembuat UU sekaligus pelaku korupsi” ujar Ketua BK DPR Irsyad Sudiro usai bertemu dengan Ketua DPR RI, Agung Laksono.

Dalam syair lagu “Gosip Jalanan” itu termuat kata-kata ‘Mau tau gak mafia di senayan, Kerjanya tukang buat peraturan, Bikin UUD ujung-ujungnya duit’.

Malamnya, tak kalah galak, Wakil Ketua BK, Gayus Lumbuun siap melaporkan tentang penghinaan dalam lagu tersebut kepada aparat hukum, setelah melengkapi terlebih dahulu alat-alat bukti.

Untuk itu BK akan mencari kaset yang berisi lagu tersebut dan juga akan meminta pertimbangan hukum kepada komisi III DPR.

“Kami melakukan upaya hukum terhadap grup band ini karena grup band ini adalah grup band komersial, bukan seperti lembaga swadaya masyarakat yang dalam menyuarakan keburukan-keburukan DPR tidak secara komersial. Ini adalah bentuk komersialisasi yang tidak benar. Oleh karenanya kami juga akan meminta pertimbangan komisi III yang membidangi hukum. Ini penting karena harkat, martabat dan kehormatan bangsa ada di gedung ini, ada batasan dan etika untuk mengkritik” tegas Gayus berapi-api.

Irsyad dan Gayus yang sibuk menjaga kehormatan DPR rupanya tak tahu tembang ‘Gosip Jalanan’ adalah salah satu lagu di album Plur yang dirilis Slank empat tahun yang lalu.

Belakangan setelah enam hari jadi bahan tertawaan akhirnya BK DPR urung mengadukan Slank, kepada wartawan Gayus menyerahkan evaluasi atas kasus lirik lagu berjudul “Gosip Jalanan” itu diserahkan pada masyarakat untuk menyikapinya.

Bak sumpah yang didengar langit, hanya berselang jam, anggota Komisi IV DPR RI, Al Amin Nur Nasution dicokok KPK karena tertangkap tangan menerima suap senilai Rp71 juta dari Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, Azirwan.

Sayang sampai kemarin, personil Slank belum bisa diminta komentar. Tapi bisa diduga anak-anak Potlot itu akan mengambil gitar lalu melantunkan dendang bertajuk “Hey Bung!” dari album Generasi Biru (1994)

Hey bung yang di atas sana coba turun ke jalan.
Lihat-lihat situasi apa yang terjadi.
Hey bung yang di balik meja coba turun ke jalan
Tunjukkan rasa perhatian
Hey bung di dalam gedung megah coba turun ke jalan
Liat-liat kondisi biar pasti!

Leave a Reply


  • barathadiningrat: klo aku bawa ttmku boleh nggak Monic ? soalnya istriku takut ..ttmku juga cantik kok gimana thanks ya Monic yang baek.
  • barathadiningrat: we are a nice couple Bandung, Mature and look forward that swinger is a good moment to find variation or additional fun, maybe talks, share and many w
  • ebsar saputra: loe cantik buangat sech??

Categories

Archives

Tags

Pages

 

April 2008
M T W T F S S
« Mar   May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930