it’s about all word’s

Menggali emas hijau di Sandaran

Posted by: algooth putranto on: June 4, 2008

Desing bilah helikopter terdengar meninggi. Bandara Sepinggan terlihat bergetar ketika rombongan Komisaris PT Comexindo Hashim Hadikoesoemo dan Bupati Kutai Timur, Awang Faroek Ishak terbang menuju Kecamatan Sandaran.

Hari itu, pukul 9.00 WITA, Hashim dan Awang dijadwalkan untuk melakukan penanaman perdana kelapa sawit secara simbolis. Sejak akhir tahun lalu, PT Comexindo sudah mendapat izin menggarap lahan seluas 21.000 hektare ditanami kelapa sawit.

Hampir dua jam badan, rombongan yang berjumlah 10 orang itu harus menahan diri tak banyak bergerak dengan lutut ditekuk. Lelah tentu saja. Tapi ini lebih baik daripada menempuh jalur darat yang bisa menghabiskan waktu 13 jam di jalur darat yang sebagian lebih cocok disebut jalan kerbau.

Beruntung pagi itu udara cerah. Tak banyak awan seperti sehari sebelumnya. Saya yang duduk di deretan kanan menghadap ke arah depan, bisa bebas memandangi hamparan hutan Borneo yang kini tak lebat lagi. Sebagian malah gundul atau mirip kubangan besar. Sisa penggalian batubara di permukaan atau pembalakan.

Hashim yang duduk di samping kanan saya. Lebih banyak diam. Kaca mata gelapnya membuat saya tak bisa jelas menebak apakah dia menikmati perjalanan ataukah sesekali terlelap. Hari itu badannya belum sehat benar.

Di pojok sebelah sana, putri Hashim, Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo atau akrab dipanggil Sarah terlihat asyik memperhatikan pemandangan. Meski semalam dia tak bisa nyenyak karena kepanasan, Sarah terlihat siap.

Sehari sebelumnya, Sarah memborong banyak souvenir di Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Orangutan di Samboja Lestari. Tak hanya kaos, tapi juga sebuah rompi coklat dia borong.

Sementara di depan Hashim, Bupati Kutai Timur, Awang Faroek Ishak nampak terkantuk-kantuk. Sesekali matanya terpejam. Di sampingnya Direktur Comexindo International Thomas Djiwandono hanya bisa memandang ke samping atau ke depan.

Deru rotor terlalu kencang untuk ditingkahi percakapan. Semua penumpang lebih banyak diam. Di langit Sangatta awan tebal berselang-seling menutupi lansekap. Bias matahari pun terlalu menyilaukan mata.

Masih setengah jam kami harus meringkuk di helikopter. Pulau Birah-birah dengan lautnya yang cerah menggoda untuk diselami. Dari atas jelas terlihat kondisi karangnya yang masih baik.

Kecamatan Sandaran berada pada garis pantai Timur Pulau Kalimantan. Ibukotanya Manubar. Luas Wilayahnya 3.733,54 kilometer per segi, meliputi 10,44% wilayah Kabupaten Kutai Timur.

Sandaran memiliki 7  desa. Sampai tahun 2004, jumlah penduduknya mencapai 5.639 jiwa dengan kepadatan penduduk rata-rata 1,49 jiwa/kilometer.

Berada di ketinggian tanah 500-1000 meter di atas muka air laut, dalam setahun Sandaran memiliki curah hujan 1700 – 2000 mm/tahun. Rata-rata kedalaman muka air tanah adalah 30 cm dengan klasifikasi lereng kurang dari 15%. Cukup landai.

Daerah ini memiliki potensi pertanian seperti padi, palawija, dan sayur-sayuran. Sedangkan komoditi perkebunan yang umum diusahakan adalah kelapa, kelapa sawit, coklat, kopi, lada.

Tentu yang tak boleh dilupakan adalah potensi perikanan budidaya yang didukung dengan garis pantai yang panjang dan hutan bakau yang masih terpelihara.

Masyarakat di tempat itu selain mengandalkan tangkapan juga mulai mengusahakan perikanan darat atau tambak dengan luas areal 76,5 Ha.

Sementara pada sektor peternakan, masyarakat umumnya mengembangbiakkan kambing dan kerbau. Konon kerbau diternakan untuk dimanfaatkan sebagai penarik kayu ketika melakukan pembalakan.

Harus diakui potensi daerah ini cukup beragam. Di bawah permukaan tanahnya terdapat bahan galian golongan C antara lain emas, marmer, batu kapur, batubara dengan deposit 536.000.000 ton pada areal seluas 100.180 Ha.

Dukung rencana pelabuhan Maloy

Jarum jam menunjukkan hampir 12.00 ketika kami melayang di atas Desa Susuk Luar, Sandaran. Di bawah sana lebih banyak daerah yang sudah terbuka. Sebagian malah sudah gundul. Perlahan pilot mulai melayangkan heli menuju helipad sederhana terbuat dari kayu.

Begitu sampai, sejumlah sepatu boot langsung diserahkan pada rombongan. Papan-papan berjajar membelah lumpur yang tebal tempat penanaman perdana kelapa sawit tersebut.

Musik mulai dimainkan. Para penari mulai beraksi. Hashim dan seluruh rombongan mendapat kalung manik-manik khas Dayak. Dalam rombongan terdepan, Komisaris PT Comexindo Hashim Hadikoesoemo dan Bupati Kutai Timur, Awang Faroek Ishak berjalan beriringan menuju titik penanaman.

Lumpur terasa tebal ketika Hashim mengayunkan cangkulnya. “Wah ini lebih berat dari latihan fisik di gym. Saya terlalu tua untuk ini,” ujarnya. Setelah itu tanah diraupnya. Baik-baik diratakan tanah di sekeliling bibit kelapa sawit tersebut.

Kepada sejumlah wartawan Hashim PT Comexindo menuturkan rencananya berinvestasi di Kecamatan Sandaran, Kutai Timur, pada sektor perkebunan kelapa sawit.

Perkebunan tersebut direncanakan mencapai luas 21.000 hektare lebih, terdiri atas 18 ribu hektare kebun sawit inti dan 3 ribu hektare kebun kemitraan atau plasma.

Hashim mengaku tertarik menanamkan modalnya di Kutim lantaran ia merasa tenang berinvestasi di sini. Dengan harapan, ke depan, dapat memberi kontribusi pembangunan berharga, khususnya di Kutim dan Kaltim umumnya.

Dia juga sangat gembira memperoleh kesempatan baik ini untuk mengembangkan sayap usahanya, karena Kutim memiliki lahan luas dan kesuburan tanah yang sangat cocok untuk pengembangan kepala sawit. Dia juga mengaku, warga Kutim (Sandaran) sangat terbuka kepada investor.

“Pada prinsipnya, iklim investasi di sini positif sehingga saya tertarik berinvestasi di Kutim,” sebut Hashim, kakak kandung Ketua Himpunan Keluarga Tani Indonesia (HKTI) Prabowo Subianto itu.

Alasan lain dia tertarik menanamkan modalnya di Kutim, karena penegakan hukum dan pelayanan pemerintah setempat cukup bagus. Pemerintahnya bersih dengan pelayanan yang memudahkan para investor.

Bahkan, dia juga berkeinginan, ke depan, akan menambah luasan areal perkebunan kelapa sawitnya apabila masih diberi kesempatan oleh pemerintah.

“Semua itu membuat saya tertarik berinvestasi di Kutim bersama investor lainnya, karena alamnya subur, rakyat terbuka, keamanan terjamin, penegakan hukum pasti, juga pemerintahannya yang bersih serta bagus,” jelasnya.

Tidak itu saja dia sangat mendukung pemerintah daerah Kutim untuk membangun pelabuhan Crude Palm Oil (CPO) di Maloy. Pelabuhan tersebut dirancang terbesar di Kalimantan, karena letaknya sangat strategis. Yaitu, berhadapan langsung dengan Selat Makassar dan kawasan itu merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

Menurut dia Maloy strategis karena berada di segi tiga emas Kutim. Yakni, Sengata, Wahau, dan Sangkulirang. Ke depan Maloy direncanakan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

“Bagus sekali, saya dengar memang rencana pemerintah ke arah sana. Saya mendukung pengembangan pelabuhan Maloy,” kata Hashim.

Kakak kandung Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Probowo Subianto itu menjelaskan, investor di Kutim akan memberikan motivasi tersendiri bagi warga setempat.

Paling tidak, ada insting bahwa pengusaha sukses Indonesia tersebut telah mengembangkan usaha kelapa sawit, dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kebun kemitraan (plasma).

Menurutnya, dalam kurun 4-5 tahun ke depan, perkebunan kelapa sawit Comexindo akan mulai produksi. Buah kelapa sawit itu diolah menjadi minyak goreng dan kebutuhan lainnya, untuk konsumsi masyarakat. “Makanya, Pelabuhan Maloy bila dijadikan pelabuhan CPO, saya kira semua investor kelapa sawit di Kutai Timur mendukung,” kata Hashim.

Hashim juga optimistis, pembangunan Pelabuhan Maloy bila dijadikan pelabuhan internasional bisa diwujudkan demi menunjang kelancaran kegiatan perkebunan kelapa sawit di Kutim dan sekitarnya. “Kenapa tidak, pemerintah punya power untuk itu,” tandasnya.

Disinggung mengenai bentuk dukungan Comexindo terhadap pembangunan Pelabuhan Maloy, Hashim mengatakan, itu hanya bupati yang tahu.

Yang jelas, sejak akhir tahun 2007, Comexindo sudah mengantongi izin lokasi perkebunan seluas 21.140 hektare. Rinciannya, lahan Comexindo Internasional seluas 7.300 hektare dan Comexindo Karya Sawit seluas 14.160 hektare.

Bahkan, ke depan bila kondisi memungkinkan, Comexindo akan memperluas areal perkebunan kelapa sawitnya. Oleh karena itu, dia sangat mendukung bila ada pelabuhan representatif di Kutim untuk memperlancar roda ekonomi.

Meskipun Comexindo belum menyebutkan bentuk dukungan terhadap pembangunan Pelabuhan CPO Kalimantan, dia berharap, pembangunan infrastruktur terealisasi secepatnya.

“Soal dukungan dana, mungkin kami belum. Intinya, saya mendukung jika Pelabuhan Maloy dikembangkan,” jelasnya.

Usai berbincang dengan sejumlah wartawan, rombongan segera digiring memasuki mobil jenis double cabin yang akan menuju panggung acara penanaman kelapa sawit hari itu.

Diantara rombongan, Direktur Comexindo International Thomas Djiwandono menolak untuk kembali meringkuk di dalam kabin mobil. Dia memilih berdiri di bak belakang.

Kami harus berpegangan kuat-kuat ketika mobil berpenggerak empat roda itu terayun-ayun melibas jalanan berlumpur Desa Desa Susuk Luar. Untung perjalanan begitu singkat. Hanya sepeminuman teh saja tenda besar tempat acara sudah bisa dicapai.

Udara terasa lembab panas. Keringat bercucuran dari pori-pori kulit seluruh rombongan. Tisu hingga sapu tangan tak membantu menyeka keringat yang berleleran. Baju Awang Faroek bahkan terlihat basah kuyup ketika melintasi barikade yang terdiri dari anak-anak berseragam SD dan SMP.

Panas memang namun seremonial tetap harus digelar. Masyarakat sudah menunggu sejak pagi. Rombongan masuk lewat sisi kiri tenda. Tempat meja hidangan dipersiapkan.

Kata sambutan saling bersambut. Hingga tiba giliran Direktur Comexindo International Thomas Djiwandono menaiki panggung. Dengan singkat dipaparkannya rencana Comexindo akan membangun perkebunan kelapa sawit ini dengan luasan efektif kurang lebih 18,000 ha secara bertahap dalam jangka waktu 5 tahun sampai dengan tahun 2013.

Program penanaman yang mulai pada hari ini akan mencapai  seluas 3,000 ha diakhir 2008. Untuk itu kami akan membangun fasilitas pengolahan kelapa sawit dengan teknologi mutakhir berkapasitas antara 90-120 ton tandan buah segar (TBS) per jam.

Usai berbagai kata sambutan silih berganti dan makan siang licin tandas. Panggung berubah meriah ketika tembang dangdut dimainkan. Hashim dan Thomas menyempatkan diri bergoyang.

Sedikit menyempat dari rombongan, Thomas menemui dua perwakilan koperasi setempat. Sahidin dari Koperasi Susuk Usaha Bersama dan Aris dari Bina Usaha Mandiri (desa Marukangan).

Dari mereka mendengar masyarakat senang sekaligus gamang. Ini pertama kalinya mereka harus berurusan dengan industri kelapa sawit. “Kalau lapangan kerja jelas tersedia. Justru alokasi plasma malah tak terserap sempurna.”

Mendengar penuturan jujur warga Thomas optimistis, pihak Comexindo memiliki banyak peluang melakukan kerjasama dengan masyarakat sekitar yang masih menggarap lahan secara subsisten.

Matahari makin tinggi. Udara semakin panas. Thomas kembali menaiki kap belakang mobil. Kali ini jadwal kepulangan tak bisa ditawar-tawar lagi. Rombongan harus segera kembali ke Balikpapan.

Seperti halnya perjalanan berangkat. Rombongan lebih banyak diam. Kali ini Thomas dan Awang Faroek kompak langsung terlelap. Sementara di masing-masing sisi, Hashim dan Sarah memerhatikan lokasi penambangan emas hijau Comexindo di masa depan.

2 Responses to "Menggali emas hijau di Sandaran"

Merupakan sebuah perjalanan yang melelahkan menuju kec sandaran, untuk mendapatkan keuntungan hal itu terasa biasa-biasa saja. srmoga sukses dalam perjalanan lainnya.

[...] sulung mantan Gubernur BI, Soedradjad Djiwandono, abang ipar Prabowo. Thomas juga menjabat sebagai Direktur Comexindo International (CI) milik [...]

Leave a Reply


  • roi: elu disangka orang Jepang tuh Gooth, ada spam huruf kanji.....
  • adedanu: P Adam, Saya punya model kerjasama marketing untuk meraih pasar di wilayah cirebon. Bila berkenan, Silakan kontak kami.
  • ukhti: Apakah PT.Castrol Indonesia mengeluarkan sebuah promo berhadiah? Terima kasih. Email : salimukhti@yahoo.co.id

Categories

Archives

Tags

Pages

 

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30