it’s about all word’s

Jalan Menuju CEO

Posted by: algooth putranto on: June 24, 2009

Judul Buku : The CEO Way: 8 Pendekar TI Indonesia
Penulis : Rizagana
Penerbit : Tristar Publishing, Juni 2009
Tebal : 208 halaman

Ini tentang kisah sukses orang Indonesia dalam dunia pekerjaan. Mereka rata-rata anak muda yang sukses meniti karier di perusahaan multinasional (multinational corporation/MNC) di Indonesia.

Ada banyak MNC yang mendirikan anak usaha di Tanah Air, tak terkecuali yang membuka kantor representatif. Mulai dari perusahaan pertambangan dan energi, perbankan, perkebunan, dan teknologi informasi (TI).

Awalnya, MNC itu mempercayakan bisnisnya pada orang asing, baik yang berasal dari negara asal MNC itu atau dari negara maju lain di Asia, seperti Singapura, Malaysia dan Filipina. Orang Indonesia rata-rata hanya sebagai pekerja biasa.

Lalu, pada era 2000-an, ada semacam gelombang pengalihan ‘kekuasaan’ dari orang asing ke orang lokal untuk memimpin bisnis MNC di Jakarta. Baik sebagai presiden direktur pada anak usaha MNC atau country manager pada kantor representatif MNC di Tanah Air.

Buku The CEO Way: 8 Pendekar TI Indonesia ini menghadirkan kisah sukses delapan orang Indonesia yang berhasil menggapai posisi puncak pada MNC khususnya yang bergerak di bidang TI. Sejatinya ada banyak MNC yang membuka kantor di Indonesia, tapi penulisnya, Rizagana, hanya menghadirkan delapan orang saja.

Lepas dari pemilihan MNC dan tokohnya, delapan orang dari delapan MNC yang dihadirkan dalam buku yang diterbitkan oleh Tristar Publishing itu cukup mewakili dari sekian banyak MNC di bidang TI di Tanah Air. Sebut saja, Microsoft, Nokia, IBM, Hewlett Packard, Intel, Dell, Cisco, dan Sun Microsystems yang identik dengan Java itu.

Andreas Rudy Diantoro, misalnya, adalah regional managing director South Asia/Developing Markets Groups Dell Inc. Dalam usia 36 tahun, pria kelahiran Yogyakarta itu dipercaya untuk memimpin bisnis Dell Inc, vendor komputer (PC) dari Amerika Serikat (AS), di 23 negara di Asia Selatan. Sebelum memimpin Dell Asia Selatan, Andreas telah malang-melintang di Hewlett Packard.

Tony Chen adalah Presiden Direktur PT Microsoft Indonesia. Alumnus Universitas Islam Nusantara (Uninus), Bandung, itu memimpin bisnis Microsoft di Tanah Air sejak 2002, dalam usia 38 tahun. Pun begitu dengan Elisa Lumbantoruan yang memimpin bisnis Hewlett Packard Indonesia dalam usia 35 tahun. Hasan Aula dipercaya menjadi country manager Nokia Indonesia dalam usia 38 tahun. Alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) itu mendapat kepercayaan itu pada 2002.

Budi Wahyu Jati adalah country manager Intel Indonesia. Alumnus Teknik Elektro Universitas Indonesia itu memimpin bisnis raksasa prosesor dari AS itu di Indonesia pada 2002 dalam usia belum 40 tahun. Irfan Setiaputra adalah country manager Cisco System Indonesia. Irfan yang alumnus Teknik Informatika ITB itu menduduki posisi puncak di Cisco dalam usia 38 tahun.

Hanya Wibisono Gumulya yang memimpin Sun Microsystems Indonesia dalam usia di atas 40 tahun. Juga Suryo Suwignjo adalah orang keenam yang menjadi presiden direktur IBM Indonesia. Suryo yang alumnus Universitas Gajah Mada itu meneruskan kepemimpinan orang lokal di IBM yang sudah berlangsung sejak 80-an.

Sayangnya, dari delapan ‘pendekar’ itu, ada beberapa di antaranya kini tak lagi menjadi CEO. Sebut saja, Elisa Lumbantoruan yang tidak lagi menjadi presiden direktur HP Indonesia dan telah pindah sebagai direktur Strategi dan TI PT Garuda Indonesia. Begitu juga dengan Irfan Setiaputra yang tidak lagi sebagai country manager Cisco Systems Indonesia, kini sebagai presiden direktur PT Inti (Persero).

Meski demikian, penulis menyebut Andreas Ruddy Diantoro, Budi Wahyu Jati, Elisa Lumbantoruan, Hasan Aula, Irfan Setiaputra, Suryo Suwignjo, Tony Chen, dan Wibisono Gumulya sebagai delapan ‘pendekar’ TI Indonesia.

Tak jelas benar apa yang dimaksud dengan ‘pendekar’ itu, tetapi terbersit bahwa delapan orang itu sedikit banyak telah memajukan TI Indonesia, baik dalam rangka memasarkan maupun memasyarakatkan penggunaan solusi TI di Tanah Air.

Lebih dari itu, penulis ingin menunjukkan bahwa delapan pendekar TI itu telah membuka belenggu keraguaan MNC terhadap talenta orang Indonesia.

Rizagana, penulisnya, tidak hanya berhasil mewawancarai delapan pendekar TI itu, tetapi juga berhasil menuangkannya dalam bahasa yang mudah dicerna. Latar belakang penulis sebagai wartawan ikut menentukan dalam penuangannya menjadi buku yang amat pas bagi khalayak yang akan atau sedang meniti karier.

Delapan pendekar itu tidak begitu saja melangkah ke singgasana MNC di Tanah Air, tetapi melalui lika-liku yang panjang, yang rata-rata melaluinya lewat jalur sales.

Itulah yang dituturkan Irfan Setiaputra (halaman 108) dalam buku ini. Bahwa sebagai orang yang bekerja di perusahaan swasta, kalau bukan pemilik atau warga kelas satu di perusahaan itu, sulit untuk menjadi orang nomor satu.

“Saat itu, saya berpikir, saya harus menjadi warga kelas satu di perusahaan itu. Nah, warga kelas satu itu adalah sales. Karena orang sales yang mendapatangkan uang atau pendapatan bagi perusahaan.”

Buku The CEO Way: 8 Pendekar TI Indonesia itu tidak hanya menunjukkan jalan yang ditempuh delapan pendekar TI Indonesia itu menjadi CEO, tetapi juga sedikit banyak menceritakan betapa perusahaan-perusahaan multinasional menjadikan sumber daya manusia (SDM) sebagai aset perusahaan.

Karyawan tidak hanya dituntut untuk terus berprestasi, tetapi juga diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, baik dengan mengirimkan mereka untuk mengikuti seminar, lokakarya, kursus-kursus singkat, atau bahkan sekolah. Kesempatan belajar itu tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di luar negeri.

Andreas Ruddy Diantoro, misalnya, ketika masih menjadi managing director Hewlett Packard Indonesia mendapat kesempatan belajar di banyak lembaga pendidikan di luar negeri, seperti Insead University, Fountainbleu di Perancis dan Helsinki School of Economic di Finlandia. Bahkan, ketika sudah memimpin bisnis Dell Inc di 23 negara di Asia Selatan, Andreas masih mendapat kesempatan untuk executive education di University of Texas di AS.

Hasan Aula juga mengalami hal yang sama di Nokia. Dia banyak sekali mendapat kesempatan dari Nokia untuk mengikuti kursus-kursus dengan berbagai modul pembelajaran. Mulai dari teknologi, marketing hingga leadership. Ini adalah bagian dari program People Development di Nokia.

“Selama di Nokia, saya sudah mengambil kursus di mana-mana. Mungkin hampir setiap negara saya pernah, di Eropa, Asia, Amerika. Sampai bosan.” (halaman 98).

Oleh karena itu, buku ini tidak hanya menjadi Way menuju CEO, tetapi Way untuk menjadi MNC alias perusahaan kelas dunia

Leave a Reply


  • Insider Stories: Sekali2 dong Goth...ulas soal GIGI atau The Bakries??? hehehehehe
  • deriz: Kita tunggu warna baru RHCP minus Frusciante. Tapi gw gak setuju kalau Navaro dinilai gak masuk dengan RHCP, justru hasilnyas dahsyat kok.
  • yuli: saya tertarik dengan buku ini, kira-kira buku ni ada di jual dimana ya? Trus covernya seperti apa? harganya biasanya berapa?

Categories

Archives

Tags

Pages

 

June 2009
M T W T F S S
« May   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930