Posted by: algooth putranto on: June 24, 2009
Pekan lalu Ibu Pertiwi menangis. Tidak satu pun pendekar bulu tangkis Indonesia menjadi pemenang dalam turnamen Indonesia Terbuka. Pebulu tangkis Tanah Air yang pernah menjadi garuda di dunia, kini tak ubahnya perkutut.
Hanya berbilang hari, legenda bulu tangkis Indonesia Liem Swie King yang tenar dengan jumping smash alias King Smash dengan dukungan Eka Tjipta Foundation meluncurkan biografinya yang bertajuk Panggil Aku King.
Jelas ini adalah kemunculan yang luar biasa dari sosok yang di jaman TVRI berjaya pernah disebut sebagai pemilik smash 1000 watt. Alasannya sederhana, penerus gaya jumping smash King, Haryanto Arbi disebut pemilik smash 100 Watt.
Smes King yang dilakukan sambil meloncat hingga kini terus menjadi legenda dan ditiru oleh pemain-pemain dunia.
Buku setebal 456 halaman ini diterbitkan Penerbit Buku Kompas, ditulis oleh Robert Adhi Ksp dengan editor Andy F Noya, dan diberi kata pengantar oleh Jakob Oetama.
Sebagai biografi, buku ini berisi kisah kehidupan Liem Swie King, perjuangannya sejak masih muda untuk menggapai juara hingga sosoknya sebagai ayah ideal bagi ketiga anaknya.
Lewat buku ini pembaca akan mengerti bagaimana perjuangan Liem Swie King yang berjaya pada tahun 1970-an dan 1980-an. Dia adalah pengidola dan penerus Rudy Hartono mendominasi berbagai turnamen bulu tangkis internasional.
King tujuh kali masuk final turnamen bulu tangkis bergengsi All England dan tiga di antaranya menjadi juara, yaitu pada tahun 1978, 1979, dan 1981. King juga enam kali memperkuat tim Piala Thomas, dan tiga di antaranya mengantar tim Indonesia menjadi juara (1976, 1979, dan 1984).
King pernah meraih medali emas, perak, dan perunggu dalam Asian Games 1974, 1978, 1982, dan juga dalam SEA Games. Masih banyak gelar juara yang dicapainya di berbagai turnamen internasional.
Menariknya buku ini juga menulis kegagalan dan perasaan seorang King. Termasuk bagaimana King harus bersusah payah naik rakit dari Demak ke Semarang saat jalur pantura direndam banjir, lalu disambung naik truk militer ke Semarang. King tidak ingin terlambat lagi masuk Pelatnas di Jakarta.
Dalam buku ini King juga seperti menyentil para pemain pelatnas saat ini yang gemar meributkan masalah uang dan lupa menempatkan diri sebagai atlet professional. Dia bias menerima ketika mendapat skorsing dari PB PBSI karena terlambat bangun saat pertandingan di SEA Games 1979 di Jakarta.
Buku ini juga menyinggung pertarungan Liem Swie King dan Rudy Hartono di ajang All England 1976 di Stadion Wembley, London, Inggris. Pertandingan yang dimenangi Rudy ini menyisakan cerita kontroversial.
Pasalnya, beredar isu bahwa King yang usianya masih 20 tahun ketika itu diminta mengalah untuk memberi peluang Rudy menciptakan sejarah mengingat dia telah tujuh kali menjuarai All England.
“Saya no comment. Yang jelas, waktu itu terjadi all Indonesian final. Siapa pun yang menang, baik saya atau Rudy, kita sama-sama Indonesia,” ujar jebolan klub PB Djarum itu dengan santai.
Pasca pensiun dari bulu tangkis, King kini membuka usaha griya pijat kesehatan bernama Sari Mustika yang mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Sayang griya pijat King tidak bertajuk Pijitan 1000 Watt. King hanya tersenyum.
July 5, 2009 at 11:14 am
Hahaha… Bisa gila kalo Pijitan 1000 Watt.
Aku sangat suka bukunya, mampu memotivasi semangat anak muda!