Posted by: algooth putranto on: June 24, 2009
Dalam strategi kehumasan strategi pariwisata Indonesia dikenal paling kurang kreatif. Meski kaya potensi, keanekaragaman Nusantara kurang tergali dan tenggelam oleh pemasaran pariwisata destinasi Malaysia, Singapura dan Thailand.
Mulai pekan depan The Wallacea Foundation (TWF), yayasan nirlaba lokal, akan memperkenalkan kawasan Wallacea, kawasan konservasi sumber daya alam terkaya di dunia kepada dunia internasional pada acara Indonesia Week di Beijing, China, pada 17-21 Juni.
Kawasan Wallacea, kata Ketua TWF Prof. Sangkot Marzuki, merupakan kawasan Indonesia yang terletak di kepulauan Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara yang mempunyai keunikan.
Dalam Indonesia Week tersebut, kata Ketua Wallacea Society, TWF, Pribadi Sutiono, TWF akan memperkenalkan kawasan Wallacea dan menampilkan hasil kegiatan yang telah dilakukan oleh TWF.
Presentasi itu khususnya yang berhubungan dengan kegiatan penelitian dan konservasi sumber daya alam, kegiatan kemasyarakatan seperti ASEAN Wallacea Youth Expedition dari Ternate dan kegiatan cinta lingkungan di kawasan tersebut.
Keikutsertaan TWF dalam forum itu, katanya, merupakan kegiatan awal dari rencana kampanye TWF ke seluruh dunia. “Tujuan utama dari kampanye tersebut adalah memperkenalkan TWF serta untuk menggugah keingintahuan masyarakat internasional tentang wilayah yang snagat unik di dunia dalam keanekaragaman hayati,” kata Pribadi, tadi siang di sini.
Kawasan tersebut mempunyai sekitar 10.000 jenis tumbuhan, 222 jenis binatang, 647 jenis burung, 222 binatang melata, dan lebih dari 250 jenis ikan air tawar.
Keanekaragaman dan kekhasan binatang dan tumbuhan di wilayah itu merupakan sumber inspirasi Alfred Russel Wallace seorang peneliti Inggris yang dikenal sebagai naturalis, penjelajah dan ahli biologi, yang kemudian menghasilkan teori evolusi dari Ternate.
Wallace berada di Nusantara terutama di Ternate pada tahun 1854-1862. Teori itu kemudian dikembangkan dan dipopulerkan oleh Darwin. “Ternate adalah tempat lahirnya teori evolusi. Kawasan Wallacea sangat penting untuk dilestarikan dan dipertahankan secara berkelanjutan,” kata Sangkot.
Untuk itu, katanya, TWF yang berdiri sejak 4 tahun yang lalu itu berusaha untuk melakukan riset keanekaragaman binatang dan tumbuhan, konservasi, kegiatan yang bersifat kemasyarakatan.
Kurang gimmick
Dalam konteks diplomasi di dunia internasional, kawasan Wallacea dengan lingkup luas diharapkan bisa menjadi one stop diplomacy dalam memperkuat citra positif Indonesia.
Berbicara mengenai kawasan Wallacea, Dewan Pengawas TWF Tuti Hadiputranto, berbicara dalam banyak bidang kehidupan. Mulai dari pemeliharaan lingkungan, pengembangan ilmu pengetahuan alam, sejarah, potensi ekonomi, seni budaya hingga pariwisata.
“Indonesia timur sangat kaya dengan sumber daya hayati dan banyak kekayaan yang terbenam,” kata Tuti.
TWF, kata Tuti, bercita-cita mempunyai perpustakaan yang mengumpulkan semua hasil penelitian kawasan Wallecea yang berfungsi sebagai pusat informasi tentang kawasan tersebut serta melanjutkan hasil penelitian yang sudah dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat lainnya.
Selain itu, kata Tuti, TWF juga membantu pemerintah kota Ternate untuk membangun kawasan museum Wallacea yang dapat dijadikan sebagai objek wisata. Museum itu akan dibangun di rumah tempat tinggal Alfred Russel Wallace.
Untuk mendirikan museum itu, lanjut Tuti, juga didukung oleh penelitian-penelitian yang secara ilmu pengetahuan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Sementara untuk kegiatan TWF, katanya, melibatkan seluruh lapisan masyrakat dalam negeri dan luar negeri dari tingkat balita hingga para ahli untuk mengetahui dan peduli dengan kawasan Wallacea.
Sayangnya dilihat dari strategi yang diterapkan TWF menurut praktisi kehumasan, penikmat wisata alam terbuka sekaligus blogger pesiar Nila Tanzil kegiatan ini jelas kurang gaul.
“TWF melupakan strategi gimmick bagi pasar industri pariwisata modern yang partisipatif. Padahal teknologi on-line mendukung strategi ini,” ujar lajang yang baru saja pesiar ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Jebolan Universiteit van Amsterdam, Belanda mencontohkan strategi promosi unik ajang The Best Job in The World yang digelar pemerintah Queensland, Australia yang menginginkan Queensland menjadi tujuan wisata utama di Australia.
Kontes itu mencari kandidat untuk menjadi penjaga pulau (island caretaker). Dengan menggandeng Youtube dan para blogger. Hanya dalam waktu singkat terlibat 34.000 partisipan.
Peserta yang lolos sebagai penjaga pulau itu akan menetap di Pulau Hamilton di Great Barrier Reef selama enam bulan dan mempromosikan pulau-pulau di wilayah itu ke seluruh dunia.
Bagi sang penjaga pulau yang akan yang dipilih pada 1 Juli nanti, jelas ini adalah mimpi. Sudah bersenang plesir, mereka diganjar gaji AUS$ 150.000 dari lembaga pariwisata Queensland. Nah, lalu apa strategi TWF?