it’s about all word’s

Honardy Boentario

Posted on: August 7, 2012

Salah satu sikap yang mutlak dimiliki individu yang sukses adalah berani mengambil risiko dan cepat mengambil keputusan dengan perhitungan matang melakukan pilihan atau langkah yang tidak diambil bahkan dihindari oleh individu lain.

Serangkaian keberanian bahkan boleh disebut cenderung nekad dan mengejutkan tersebut telah dilakukan oleh Honardy Boentario sejak memutuskan berkelana ke Jakarta untuk menempun pendidikan dan karirnya.

Honardy yang biasa disapa Hon, termasuk nekad dan bertekad saat merantau dari Bangka ke Jakarta pada 1982. Modalnya adalah bahasa Inggris, Matematika dan pengetahuan umum. Dia percaya diri karena sejak kecil setiap pagi terbiasa mendengarkan siaran berita radio Inggris, BBC.

Ayah Hon, Boentario adalah pemasok kebutuhan untuk PT Timah yang saat itu kemudian sakit-sakitan. Selain Hon, pasangan Boentario dan Yatifa memiliki tiga anak perempuan dan satu anak laki-laki lagi. Hon anak nomor empat, alias anak laki-laki pertama di keluarga itu.

Saat itu Hon sebetulnya bercita-cita menjadi teknisi sipil namun kedua orang tuanya cenderung memintanya agar menempuh jurusan ekonomi yang saat itu cepat lulus dan cepat mendapatkan pekerjaan.

Jelang ke Jakarta, Hon sendiri sudah diterima masuk jurusan akunting Universitas Tarumanegara (Untar). Kenapa Untar, saat itu Tionghoa asal Bangka identik dengan kampus tersebut.

“Ketika saya sampai Jakarta itu adalah hari terakhir ujian masuk [Universitas] Trisakti, sementara Untar menunggu pelunasan Rp1,5 juta. Saya lepas lho Untar, lalu ikut tes Trisakti. Itung-itung tes kemampuan. Orang tua tidak tahu, Trisakti kan terkenal mahal!” tuturnya.

Hon bertaruh untuk mengikuti tiga jam tes di gelanggang mahasiswa. Pucuk dicinta. Materi ujian adalah pengetahuan umum, bahasa inggris dan matematika yang disebutnya adalah makanan sehari-hari. Cukup satu jam Hon melalap soal ujian masuk yang dikerjakannya tanpa beban.

Tak diduga, Hon justru mendapatkan peringkat terbaik sehingga berhak hanya membayar uang masuk di Universitas Trisakti senilai Rp250.000, yang untuk pertama kalinya menerapkan sistem SKS.

“Saya ambil SKS gila-gilaan hampir 30 SKS sambil kerja. Karena sibuk kerja saya tidak merasakan indahnya kuliah. Tapi tiap kali ujian, tempat duduk saya sudah dicarikan kawan-kawan. Dijaga, diabsenin. Ngasi contekan kasi saja. Nanti ditraktir,” kenangnya sembari tersenyum.

Setiap hari Hon bekerja sebagai guru Taman Kanak-kanak di Pluit. Untuk menuju Pluit dari indekos di Latumenten I no 44, Grogol, Hon menggunakan bis yang saat itu bertarif Rp50. Usai mengajar dia langsung ke kampus. Jalan kaki berkilo meter sudah menjadi makanan Hon.

Jika tak mengajar, malam atau siang, Hon mengajar anak-anak kampus dengan bayaran ditraktir makan. “Kalau tidak pagi ya malam. Jadi jatah makan pagi atau malam aman. Tiga tahun lebih begitu hingga kemudian pada semester tiga kerja di kantor akuntan publik PricewaterhouseCoopers (PwC) mengaudit Inco hingga PT Timah.”

Mungkin sebuah kebetulan ketika Hon bekerja di PwC, tidak ada rekan-rekan sekerjanya yang sukarela dikirim ke Kalimantan. Umumnya, mereka gemar mengaudit bank, asuransi, penukaran uang alhasil Hon langganan kebagian berangkat ke Kalimantan.

Sibuk bekerja membuat Hon terbiasa efektif membagi waktu. Bahkan skripsinya pun hanya digarap delapan hari hingga sidang. Namun wisuda Hon tertunda cukup lama karena disibukkan oleh pekerjaan.

Tidak lama setelah bekerja di PwC, Hon kemudian ditarik untuk bergabung dengan Multi Harapan Utama (MHU) yang merupakan perusahaan milik Ibrahim Risjad yang berpartner dengan New Hope Indonesia (NHI), pemilik Adaro.

MHU dan NHI adalah generasi pertama raksasa batubara di tahun 1986. Kebetulan karena pemilik sahamnya sama, Hon diminta membantu Adaro mengerjakan Standar Operation Procedure (SOP) akunting mereka.

“Nah, saya kemudian dimintai bantuan membenahi PT Timah yang akan go public. Mereka bingung karena SOP akunting mereka belum baik. Saya satu diantara orang-orang yang dimintai bantuan Basuki Siddharta,” tuturnya.

Dinilai bekerja dengan baik dan setia, Hon bahkan sempat disekolahkan oleh manajemen MHU ke Brisbane, Australia pada bidang mining engineering kemudian ke Michigan, Amerika Serikat.

“Belakangan saya diberi sertifikat KP seluas 1.260 hektare di Sanga-Sanga, Kalimantan Timur oleh New Hope sebagai sebagai ucapan terima kasih karena telah mengabdi selama 18 tahun. Saya diberi share saham 16%. Dari profesional diberi itu. Modal saya ya cuma itu,” kenangnya.

Menurut Hon, sertifikat itulah proyek tambang pertamanya pada 2003 yang benar-benar dimulai dari hutan (green field). Tak punya modal, Hon bergerilya meminta tolong rekan-rekannya di MHU dan Adaro.

“Modalnya nol. Minta tolong kontraktor untuk mengerjakan dan dibayar setelah tambang bisa berproduksi. Tambang berjalan hingga 2006, kemudian dibeli Sandiaga Uno dan Teddy Rahmat,” ujarnya.

Lulus dari proyek pertama tersebut, Hon kemudian menggarap lahan Arqom yang terkenal memiliki batubara berkalori tinggi namun tak seorang pebisnis pun yang berani menggarap karena memiliki profil batu tegak serupa kue lapis berdiri.

“Saya saat itu berpikir sederhana. Bikin saja selokan trus cepet-cepet dikeruk untuk menghindari genangan air. Pertama kali tak ada kontraktor yang berani masuk. Setelah kami garap, kami jadi percontohan tambang tegak. Dari India kemudian datang teknisi yang menyatakan orang Indonesia nekad, kalau longsor kan tenggelam!”

Pelan namun pasti bisnis tambang Hon maju pesat. Lewat PT ECI, Hon menggarap batubara di desa Bukuan, kecamatan Palaran , Samarinda, di atas konsesi Nadvara dan Arqom seluas 1.977,33 hektare di tepi Mahakam yang merupakan usaha pertambangan terbesar di Samarinda, Kalimantan Timur.

Mahir menambang, Hon mulai merambah dan fokus di bidang logistik. Kekuatannya difokuskan mulai dari green field sampai ke bibir sungai. “Batubara di Samarinda bakal habis 15 tahun lagi, kalau yang di hulu masih ratusan tahun. Pertanyaannya, lalu apa?”

Berpikir jauh ke depan, Hon mulai merancang sebuah tempat yang bisa menjadi tempat penampungan batu bara di Balik Buaya seluas 60 hektare. Visi Hon, tempat itu serupa supermarketnya batubara.

“Tidak besar tapi bisa memenuhi kekurangan yang dialami perusahaan tambang. Mereka berani bayar premium dibandingkan harus menempuh perjalanan pulang kembali ke hulu tempat lokasi tambang,” tuturnya.

Bagaimana bisnis supermarket berjakan. Hon menggambarkan, andai datang kapal pengangkut berkapasitas 65.000 ton maka dibutuhkan delapan tongkang batubara yang tidak mungkin diisi persis 65.000 ton dari hulu.

Jika kurang, produsen batubara bisa terkena denda. Sementara jika membawa sembilan tongkang maka akan ada sisa batubara yang terpaksa harus dibawa kembali ke hulu sehingga tidak ekonomis. Belum lagi waktu tunggu. Jika memilih untuk memarkir kapal di tengah laut selain berisiko juga mahal.

“Lalu bagaimana? Ya tinggal ambil dari kami. Lebih murah daripada kembali. Semua produsen batubara kini memiliki tempat penampungan batubara. KPC dan Adaro sudah memiliki sementara di wilayah Samarinda belum ada.

Hon berhitung, begitu tambang miliknya di Samarinda tutup karena deposit terkuras habis maka supermarket batubaranya beroperasi dengan dua konsep. Pertama, tempat penampungan hasil tambang sembari menunggu kapal pengangkut datang dan
Kedua, tempat pencampuran batubara kualitas tinggi milik masyarakat sehingga pihaknya memiliki kesempatan menciptakan batubara dengan kualitas sendiri.

Dalam hitung-hitungan Hon, lokasi yang telah dibebaskannya sejak 6 tahun lalu tersebut kini sudah diincar banyak investor dari luar negeri mulai dari Jerman hingga China karena terletak di muara sungai Mahakam yang memungkinkan kapal besar masuk.

Hon optimistis, jika dihitung balik modal dari bisnis supermarket batubara ini hanya butuh tempo tiga tahun. Supaya lancar seluruh independen surveyor dan perwakilan bank akan disediakan kantor sehingga berkonsep all services yang menurut Hon belum ada. Tak heran jika sebuah bank dari Afrika Selatan telah siap meminangnya.

***
Penambang harus menjaga lingkungan

Berbicang dengan Honardy Boentario memang menyenangkan. Maklum, Hon tak terlalu gemar bersikap resmi. Saat saya temui pun, dia memilih mengenakan kaos berkerah dibandingkan jas ala petinggi korporasi.

Bagi kalangan pebisnis tambang batubara di Samarinda, Hon justru tenar dengan kegiatan penghijauan dan pendidikan anak usia dini (PAUD). Sesuai prinsipnya, sesuai khitahnya, industri pertambangan bukan saja membawa kemajuan sosial ekonomi masyarakat lokal, tetapi juga penyumbang penerimaan negara.

“Usaha pertambangan harus membawa perubahan sosial ekonomi dan pembangunan masyarakat lokal. Selain itu harus memiliki standar tertinggi nasional dan internasional dalam merehabilitasi lingkungan,” tutur pria yang mendapatkan hidayah untuk menjadi muslim tersebut.

Menurut Honardy pendekatan sosial ekonomi merupakan kunci utama agar usaha pertambangan diterima oleh masyarakat. Tetapi pendekatan ekonomistik saja belum cukup. Masyarakat perlu mendapat pembekalan soft skill.

Untuk alasan itu, melalui CSR (corporate social responsibility), menurut ayah dari Frisca Pricilia Boentario dan Clarissa Aurellia Boentario itu juga mengembangan pengajaran karakter sejak usia dini bagi siswa sekolah di sekitar lokasi tambang.

“Kami mulai mengembangkan kurikulum pengajaran karakter berbasis kearifan lokal. Mendatangkan pengajar dan melatih para guru pra sekolah dan sekolah dasar mengenai pengajaran character building,” ujarnya.

Dia yakin apa yang tertanam di usia 5 tahun adalah bekal untuk masa depan mereka. Saat memulai program, Hon bergerak di desa Bukuan, kecamatan Palaran, Samarinda dengan total 30 sekolah. “Jika sebelumnya kita yang bergerak, sekarang justru permintaan pendidikan itu berasal dari masyarakat.”

Pria yang memiliki trauma melihat kondisi alam Bangka yang rusak oleh penambangan timah tersebut getol dengan usaha reklamasi tambang. Tak heran Hon mendukung ide diperbesarnya dana jaminan reklamasi disesuaikan dengan produksi dibandingkan data-data historis seperti saat ini. Karena angka asumsi produksi justru mendekati akurat karena bisa dihitung.

Menurut Hon saat ini dengan aturan dan sistem sebenarnya sudah menghindarkan kenakalan pebisnis tambang. Yang sebenarnya menjadi soal adalah peraturan dikeluarkan tanpa sosialisasi sehingga menyulitkan prediksi produksi.

Dalam kasus pertambangan, sebenarnya jika mengikuti prosedur tak perlu takut dengan reklamasi pasca tambang. Sebagai contoh, lubang bekas tambang jika sudah selesai eksploitasi kemudian ditimbun oleh tanah awal biasanya malah membukit.

“Tambang hijau itu lebih kepada karakter pemiliknya. Sayang tidak sang pemilik dengan lokasi tambang. Tidak usah memikirkan anak cucu, cukup misalnya daerah tambang itu tempat anak kita tinggal,” ujarnya.

Ada yang mengingatkan soal lingkungan? Tanya saya. Hon tertawa geli. Menurutnya, anak perempuan keduanyalah yang paling fanatik hidup cinta lingkungan. “Mulai soal konsumsi air sampai kalau belanja bawa kantong sendiri!”

CV
Honardy Boentario
Tempat & Tanggal lahir: Pangkal Pinang, 8 November 1963
Agama: Islam

Pengalaman
2006- sekarang CEO PT. Energy Cahaya Industritama (ECI)
2006- sekarang Chairman Harap Borneo International Group (HBI Group)
Mei 2004 – 2006 Presiden Direktur PT Bina Mitra Sumberarta
Mei 2004 – 2008 Penasehat Teknis & Direktur PT Multi Harapan Utama
Juni 2005 – 2008 Direktur PT Berlian Hitam Trading
Maret 2003- 2010 Presiden Direktur PT Bali Nuansa Sukses Pratama
Agustus 2001-2005 Direktur PT Cipta Prima Waskita
Agustus 1986 – Mei 2004 Direktur Keuangan & Administrasi PT Multi Harapan Utama
1993-1994 Penasehat Keuangan PT Adaro Indonesia
1984-1986 PricewaterhouseCoopers
Januari 1983 – November 1984 Auditor KPMG HANADI RAHARDJA & Co

Pendidikan
1982 – 1987 Sarjana Akutansi Universitas Trisakti, Jakarta
Mei 1989 First Class Manager Ticket (Perencanaan Tambang) New Hope Corporation Ltd. Ipswitch, Australia
November 1992 (tidak selesai) The University of Michigan, Michigan – AS
School of Business Administration (Corporate Finance)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2012
M T W T F S S
« Jun   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 43 other followers

%d bloggers like this: