it’s about all word’s

Bored 3rd Javajazz

Posted on: May 3, 2007

Antiklimaks Java Jazz di umur ketiga

Harapan berlebihan jika tidak menjadi kenyataan memang bisa mengecewakan. Hal ini nampaknya terjadi pada gelaran Dji Sam Soe Jakarta International Java Jazz Festival (JIJJF) 2007 atau Java Jazz jika melihat dua hari pelaksanaannya.

Dua kali sukses menggelar musik kaum berdasi bahkan tahun lalu disebut festival jazz nomor satu terbesar di seantero jagad membuat banyak penggemar jazz mengharapkan sesuatu yang lebih dalam gelaran ketiganya.

Kata terbesar bahkan membuat pesta jazz ini meluluhkan para penampil untuk bisa manggung bahkan ‘konon’ sampai banting harga. Satu hal yang jelas membuat iri gelaran jazz saudara tuanya Jak Jazz akhir tahun lalu.

Catatan penting yang tak bisa dibantah konser bertajuk ini adalah lenyapnya nuansa anak muda yang dibawa oleh Java Jazz tahun lalu. Kita tentu masih ingat tahun lalu panggung pertunjukan musisi-musisi muda di Stage 1, Stage 2, dan Lobby selalu padat.

Pemain-pemain muda yang diberi kesempatan manggung di sana seperti Rafi Drum, Gadiz and Bass dan Adjie Rao Percussion Ensamble mampu menuai applause yang meriah.

Konsentrasi penonton biasanya makin padat saat musisi jazz cilik, Zefa yang didampingi adik perempuannya tampil dengan kepolosan dan kejeniusannya. Tahun ini? Java Jazz justru didominasi musisi-musisi tua.

Apalagi nuana indie yang dibawakan di Zona Aksara. Para penampilnya rata-rata unik dan menarik penggemar musik muda. Maklum musik yang mereka bawakan terhitung di luar mainstream sebut saja White Shoes and The Couple Company dan Ape of The Roof.

Harga tiket yang menjulang mahal memang tak membuat Java Jazz kekurangan penonton karena special perform masih menjadi magnet para penonton dari manapun saya penonton snob (beli tiket sekedar ikut-ikutan) tahun ini justru makin banyak.

Menurut seorang Presdir sebuah perusahaan minyak terbesar di dunia asal Eropa para penonton golongan ini kalau tidak sibuk kesana-kemari pamer dandanan ya malah asyik nrumpi atau baca buku kala penampill kelas dunia beraksi.

Bagi golongan menengah ke atas pencinta jazz tiket harian seharga Rp400.000 hingga Rp800.000 (special show Jamie Cullum) memang bukan masalah. Tapi tentu memusingkan bagi anak-anak muda yang jelas duitnya masih minta orang tuanya.

Tak heran Wakil Kepala Badan BPH Migas, Erry Hadi Purnomo melihat penurunan greget di hari pertama yang menampilkan raja fusion Level 42.

“Bisa jadi itu karena harga tiket terlalu mahal dan jarak penyelenggaraan yang terlalu dekat dengan Jak Jazz, belum lagi banjir. Walau artis lebih banyak dari tahun lalu tapi artis yang kurang greget!”

Lebih ruwet

Kekurangan lain yang belum juga dibenahi dan banyak dikeluhkan oleh para penampil tahun lalu adalah sisi akustik gedung yang masih bergaung.

Bisa dimaklumi karena dinding tempat penyelenggaraan, Jakarta Convention Center (JCC) memang bukan gedung pertunjukan musik sementara untuk menutup seluruh dinding dengan peredam butuh duit dalam jumlah besar.

Kekurangan yang lain adalah sangat kurangnya jadwal pertunjukan yang dicetak alhasil cukup banyak penikmat jazz yang berasal dari luar kota harus terkatung-katung bergelesotan di luar JCC.

Rini yang datang bersama rombongan dari Yogyakarta, dan sudah nongkrong di JCC sejak Jumat pagi karena ingin nonton Jamie Cullum sebabnya gara-gara tidak punya selembaran jadwal.

Tahun lalu hal ini tak terjadi karena panitia mencetak seluruh jadwal dan latar belakang artis dalam bentuk majalah.

Ternyata di dalam JCC, para penonton bingung pun tak kurang banyaknya. Termasuk bule bos perusahaan minyak Eropa yang Bisnis temui. “Kenapa sih panitia tidak menyediakan jadwal cetak yang lebih banyak, kenapa lebih mengandalkan jadwal secara on-line?”

Bule ini mengaku sangat kecewa saat menjadwalkan waktunya untuk nonton diva pop Indoensia Ruth Sahanaya. Eh…sesampainya di JCC, penampil bertubuh mungil itu justru urung tampil.

Urat kecewa pria Inggris itu makin menjadi-jadi saat ingin mengisi perutnya yang keroncongan, karena lembaran duit yang disodorkannya tak berlaku karena harus ditukar dengan tokken terlebih dahulu. Wah nonton bingung, makanpun bingung. Lengkap deh!

*versi lain dimuat Bisnis indonesia edisi 5 Maret 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2007
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: