it’s about all word’s

The great Aerosmith

Posted on: May 3, 2007

Aerosmith beraksi lagi setelah sewindu bertapa

Entah angin apa yang kini sedang berhembus di blantika musik cadas. Satu persatu macan-macan tua panggung yang mulai dimakan asam urat kini bermunculan siap menggoyang dunia.
Setelah Genesis, The Who, The Police dan Rolling Stones kini giliran raja rock and roll Paman Sam Aerosmith yang mempersiapkan diri untuk manggung mulai 6 Juni mendatang.
Seperti dikutip dari http://www.news.yahoo.com, tur yang belum memiliki tajuk itu akan menjadi bagian dari peluncuran album ke-15 mereka dengan mengambil start dari Randers, Denmark, lalu di Dubai dan Mumbai, India.
Dari Asia, Aerosmith akan tampil di festival musik London Hyde Park Calling, 24 Juni. Dengan puncak penampilan direncanakan terjadi di Moskow, Rusia, delapan hari setelah perayaan kemerdekaan Amerika.
Kabar ini disampaikan kelima anggota band dalam jumpa pers di Hard Rock Cafe, London, beberapa waktu lalu disela-sela menjadi pengisi di kafe yang kini menjadi milik pebisnis suku Indian Seminole itu.
Tahun lalu Aerosmith sempat menggelar tur di kandang mereka yang dijadwalkan berlansung Oktober 2005-April 2006, namun akhirnya batal karena vokalis mereka, si mulut lebar Steven Tyler, harus menjalani operasi tenggorokan.
Gara-gara operasi itu Tyler tak dapat bernyanyi selama tiga bulan untuk memberi kesempatan pita suaranya kembali normal.
Bagi komunitas musik cadas Amerika Serikat kehadiran band asal Boston itu tentu kabar yang menggembirakan mengingat Aerosmith telah sewindu absen dari dunia panggung internasional sejak 1999.
Bukan rahasia lagi jika band yang berdiri sejak tahun 1969 itu adalah kebanggaan masyarakat Amerika di tengah gempuran British Invasion sejak tahun 1960-an macam The Beatles, Rolling Stones dan Queen.
Lucunya, meski menjadi tameng gengsi warga AS, Aerosmith termasuk band yang ramah dengan band-band asal kerajaan yang pernah mengangkangi Amerika itu.
Mereka malah pernah menjadi band pendukung proyek film The Beatles, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band, yang gagal. Tentu saja sesuai dengan kemampuan mereka yaitu sebagai sekumpulan artis pendukung.
Tapi dasar generasi teler, para personel Aerosmith bersama artis-artis lain malah lebih sibuk mengonsumsi alkohol, ganja, hasis daripada serius berakting saat pengambilan gambar dilakukan oleh sutradara asal Australia Robert Stigwood
Nyaris bubar

Kelahiran Aerosmith cukup unik meski dibentuk di Boston, Massachusetts, tidak ada anggotanya yang berasal dari sana. Tiga anggotanya, Steven Tallarico (Tyler), Joe Perry, dan Tom Hamilton justru pertama kali bertemu di Sunapee, New Hampshire, akhir 1960-an.
Tyler berasal dari Yonkers, New York, Perry dari Hopedale, Massachusetts, dan Hamilton dari New London, New Hampshire.
Namun butuh waktu hampir satu dekade di antara ketiganya untuk membentuk sebuah band lalu pindah ke Boston, Massachusetts.
Joe Perry dan Tom Hamilton pindah ke Boston pada September 1970. Di sana mereka bertemu dengan Joey Kramer, yang kebetulan berasal dari Yonkers, New York, dan kenal dengan Steven Tallarico seorang pemain drum.
Setelah itu mereka mendengar Perry dan Hamilton bermain dan Kramer setuju untuk bergabung. Steven Tyler kemudian datang ke Boston pada Oktober 1970 dan Aerosmith dilahirkan.
Mulanya Ray Tabano bermain rhythm gitar namun kemudian digantikan Brad Whitford dari Reading, Massachusetts, pada 1971.
Kelimanya memproduksi lima album sukses a.l Aerosmith (1970), Get Your Wings (1974), Toys in the Attic (1975), Rocks (1976), Draw The Line (1977) yang menjulangkan banyak hits dan melambungkan mereka ke puncak popularitas.
Popularitas memang membutakan. Gelimang materi menyebabkan semua anggota Aerosmith betul-betul terjerembab di lembah kelam narkoba dan pesta seks yang amburadul.
Perry dan Tyler bahkan sampai dijuluki Toxic Twins karena hobi menggelar pesta kaum durjana. Pelan tapi pasti petualangan itu akhirnya justru memacetkan kreatifitas mereka.
Tahun 1979 betul-betul menjadi titik nadir Aerosmith. Popularitas mereka mulai digilas band-band lain seperti Van Halen, Ted Nugent, AC/DC, Foreigner. Tak cukup dengan itu Brad dan Perry memilih pisah.
Pangkalnya apalagi kalau bukan gesekan ego antara Perry dan Tyler yang merupakan bintang kembar Aerosmith. Posisi Brad ditempati Rick Dufay sedang Perry diganti Jimmy Crespo untuk penggarapan album Rock in A Hard Place (1982).
Album ini hanya meraup predikat emas dengan dihiasi tumbangnya Tyler di panggung gara-gara overdosis di tahun 1983 dalam konser Rock in A Hard Place.
Brad dan Perry membentuk proyek solo The Joe Perry Project yang berlangsung selama era 1979-1984. Untung saja manajer Tim Collins kembali berhasil menyatukan mereka tahun 1985 hingga kini.
Lolos dari dinamika itu, Aerosmith kini memang berhak bergelar Band Rock and Roll Amerika terbesar. Mereka telah menjual 140 juta album di seluruh dunia, tentu saja 66,5 juta di antaranya laku di AS.
*Dimuat di Bisnis Indonesia edisi 9 Maret 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2007
M T W T F S S
    Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: