it’s about all word’s

John Badalu Matulatan

Posted on: September 3, 2007

Tak henti memperjuangkan kaum queer

Festival dengan tema khusus tentang gender, homoseksualitas dan HIV/ AIDS, Q Film Festival, untuk keenam kalinya kembali digelar di beberapa kota besar dengan menghadirkan sedikitnya 100 film dari berbagai negara.

Yogyakarta menjadi kota pertama rangkaian pemutaran film QFF selama sepekan yang dimulai sejak 22 April lalu. Selanjutnya, Surabaya pada 14 Mei-22 Mei, disambung Jakarta pada 24 Agustus-2 September. Terakhir Denpasar pada 7-9 September.

Satu orang yang berbahagia dengan gelaran ini adalah Direktur Q Film Festival John Badalu Matulatan. Saya berkesempatan berbincang dengannya menjelang pemutaran film kisah asmara gay Israel-Palestina, The Bubble, di gedung auditorium Gothe Institute, Pusat Kebudayaan Jerman.

Malam itu tubuh kurus pria asal Makassar itu dibalut jaket militer. Rambut blonde-nya terlihat mencolok di antara para queer (kaum gay dan lesbian) yang hadir malam itu. Di masing-masing kupingnya terselip seutas tindik.

John tak sendirian malam itu. Turut hadir adik laki-lakinya, Hartawan Badalu yang punya nama ngetop Kitty. Sayang saya tak sempat menyambangi Kitty yang sibuk sebagai panitia malam itu.

Sembari menyantap semangkuk mie, bibir tipis John terlontar kisah sedikit keributan yang ditimbulkan aparat keamanan pada pemutaran film Pixel Theater di pusat penyewaan dan penjualan DVD orisinal Subtitle, Dharmawangsa Square, 28 Agustus lalu.

“Tapi polisi nggak menggerebek kita kok. Mereka hanya curiga kami memutar film ilegal. Tapi setelah dijelaskan pemutaran film Party Monster bisa dilanjutkan meski ada seorang pegawai Subtitle yang dibawa mereka. Tapi sejauh ini lancar kok,” ujar jebolan Unika Atmajaya itu.

Soal diintimidasi, John sudah kebal. Mulai dari sekadar ditelepon, didemo hingga digrebek mewarnai perjuangannya agar masyarakat tidak memandang negatif kaum queer.

Bagi komunitas queer, keberanian John pada 2002 untuk menggelar Q Film Festival adalah katup pelepasan yang melegakan. Sebelumnya, komunitas transeksual relatif menutup diri dan ekslusif.

Saat itu, John sudah empat tahun aktif di Jakarta International Film Festival (Jiffest). Awalnya kecil-kecilan, hanya di empat tempat selama sepekan. Sambutan begitu baik dan sejauh ini Q Film Festival terus berkembang berkat dukungan lembaga asing dan perorangan. Tahun ini rata-rata pengunjung di tiap pertunjukan mencapai 80%-90%.

Tetap gratis

Yang menarik, festival itu tetap bertahan tidak memungut biaya sepeserpun dari pengunjung. Jika para pengunjung ingin membantu, panitia akan menyediakan kotak sumbangan untuk membantu penyelenggaraan yang menghabiskan biaya mencapai Rp100 juta.

“Kami bisa menekan biaya karena film yang diputar berformat DVD. Kalau berformat 35 mm. wah sekali kirim butuh U$1.500. Belum kalau harus bayar royalti. Kami kan juga tak boleh membuat pembuat film queer tidak bisa membuat film lagi,” lanjut anak pertama pasangan Hasan dan Lusiana Badalu itu.

Sayangnya meski festival ini bertempat di Indonesia, film dalam negeri justru menjadi kaum minoritas karena keterbatasan kuantitas film bertema queer. Tiga film yang diputar Coklat Stroberi, Jakarta Undercover dan Kala pun tidak murni mencuatkan ide transeksual.

Kebanyakan film yang diputar berasal dari Asia. Ada dari Jepang, Filipina, Thailand, Taiwan, Korsel. Tiga negara baru yang turut serta adalah Islandia, Polandia dan Singapura.

Minoritas lain adalah film bertema lesbian yang memang sangat jarang diproduksi. Selain itu kelompok perempuan penyuka sejenis ini sangat tertutup dan enggan menghadiri film-film bertema ini.

“Coba saja cek paling-paling perempuan yang nonton tidak lebih dari 20 orang. Bahkan perempuan yang normal pun bisa kena stigma lesbian kalo nonton film jenis ini. Meski demikian saya tidak akan meminjamkan film lesbian untuk mereka tonton secara eksklusif. Festival ya ramai-ramai bukan ditonton oleh beberapa orang saja,” lanjut John.

Pembicaraan makin renyah saat John mengisahkan pengalaman pertamanya mendeklarasikan kecenderungan homoseksualitas (coming out) kepada keluarganya. Peristiwa yang dikenangnya itu datar-datar saja dan tak terlalu seru.

Saat itu ibunda tercintanya, Lusiana, hanya menanggapi biasa-biasa saja. Drama penuh cucuran air mata dan helaaan napas baru terjadi saat sang ayah mengetahui anak mereka yang merantau di Jakarta dan sudah berusia 25 tahun itu menetapkan diri sebagai kaum gay.

Heboh besar benar-benar terjadi saat John membawa pulang pacar bulenya ketika adik perempuannya menikah. Satu fase coming out pada keluarga besar yang kemudian semakin memantapkan dirinya terhadap pilihannya.

Masih punya mimpi yang belum tercapai John? “Bikin naskah film dan buku! Pekerjaan yang tak selesai-selesai dan jauh lebih susah menyelesaikan ini,” cetus John cepat sembari tertawa lepas.

Angka jam di pergelangan tangan saya tepat menunjuk pukul 22.14. Tepuk tangan membahana ketika kedua pasangan gay dari kedua bangsa yang saling berseteru itu (Israel-Palestina) dalam film Bubble berkalang tanah dalam romantisme. Saya lihat John tersenyum puas di ujung pintu keluar.

3 Responses to "John Badalu Matulatan"

Salut buat Bung John Badalu yang memperjuangkan gay melalui film, terbukti meski hanya acara tahunan di beberapa kota, acar ini bisa sukses dan membuat image gay relatiflebih baik, ketimbang organisasi/lsm Gaya Nusantara yang jelas-jelas memberi ‘label’ perjuangan gay dan hak asasi manusia, tapi sayangnya misi yang baik ini ‘dicemari’ oleh pihak intern organisasi itu sendiri, dimana sang ketua (Ko Budiyanto), yang populer dengan sebutan konselor mesum/cabul, telah menggunakan kegiatan konseling sebagai ajang buat ‘mencicipi’ gay (terutama gay pemula), yang sedang kebingungan dengan jati dirinya! dan sayangnya perbuatan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun ini dibiarkan saja oleh pak Dede selaku pemilik organisasi! itulah mengapa orang gay sendiri jadi ‘alergi’ dengan kiprah gaya nusantara, walaupun tujuan lsm ini sebenarnya mulia.
Buat John Badalu teruslah berjuang tanpa harus ‘declare’ sebagaimana lsm terkutuk itu!

Maz, aku baru aja ngeliat pemutaran film Q fest hari ini, keren banget, masih sepi, agak memprihatinkan gimana kita bisa membuat masyarakat merasa nyaman ya maz dengan ke gay an eh ke queer an kita, di satu sisi rada2 ngenez juga maz semalam dikasih tau temen di kaskus ada hujatan2 yang ditujukan ke (oknum) gaya nusantara, gara-garanya seorang member di forum kaskus di add sama si budi (ketuanya gaya nusantara), slanjutnya yang muncul hujatan2, istilah maho (manusia homo), itu sungguh memprihatinkan maz, tapi ya mau gimana lage maz, gimana kita bisa sejajar dan orang hetero respek ama kita kalau diantara kita sendiri masih berperilaku negatif dan tidak menghormati ‘diri sendiri’, saya sependapat dengan rekan Taufan di atas, memang sulit ya merubah stigma negatif, ini maz thread nya, mungkin maz pengen baca

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=2226003

GBU ya maz! congrats dengan Q fest nya
btw, maz coba deh discuss dengan pak Dede siapa tau dia mau counter berita2 negatif itu, kacian temen2 yang ga tau papa tapi di forum selalu disudutkan, tengkyu maz

Sumpah! Bener-bener memalukan!!! Dia dosen gw di kampus, dan kampus gw emg jd trademark ngumpulnya para homo! Mungkin krn dia ngajar disitu! Bnr2 contoh yg buruk buat generasi akan datang!! Kalo mau jd homo, jgn di Indonesia dong! Udh tau indonesia negara islam. Jd, jgn protes kalo jd sampah masyarakat!! Pecat aja kek, dari kampus gw! Bikin malu!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: