it’s about all word’s

Samsi: The Last Man Standing

Posted on: September 4, 2007

Setia pada anak-anak korban gempa Yogya

Namanya singkat mudah diingat. Samsi. Pemuda berkulit legam asal Desa Jepara Wetan, Binangun, Cilacap itu masih saja setia mendampingi anak-anak korban gempa sejak September tahun lalu. Tak peduli rekan-rekannya sudah berguguran dari program Mobile Child Service (MCS).

MCS adalah program pendampingan sosial bagi anak korban gempa yang diselenggarakan PT Direct Vision (stasiun TV berlangganan Astro) dan Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI).

Program menjangkau sedikitnya 500 anak-anak di lima dusun a.l Dusun Kanten Kecamatan Imogiri, Nambangan Kecamatan Bambanglipuro, Wonodoro Kecamatan Mulyodadi, Dusun Ponggok II Kecamatan Jetis dan Glagah Lor Kecamatan Banguntapan.

Wilayah ini menjadi salah satu wilayah yang paling menderita karena gempa bumi, Mei 2006. Banyak bangunan permanen rata dengan tanah dan menimbulkan pengalaman traumatik pada anak-anak.

MCS ditujukan untuk mengatasi stres pascagempa yang biasa disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada anak-anak. Tahap pertama digelar September 2006 hingga Februari 2007 dan tahap berikutnya Maret sampai Mei 2007.

Untuk tahap pertama Samsi berjuang bersama Erlangga Muhammad dan seorang psikolog Sadwika Hapsari. Belakangan keduanya berhenti. Adi Suryopramono masuk menggantikan Erlangga sedangkan Sadwika digantikan Lusi Nurandiari.

“Sebetulnya justru saya yang sudah ingin mengundurkan diri karena capek dan jenuh. Tapi melihat tatapan anak-anak dan pertanyaan mereka tiap kali ada pergantian personil MCS akhirnya saya berketetapan untuk terus bertahan,” tutur mahasiswa abadi Fakultas Geografi UGM angkatan 1998 itu.

Mungkin saya akan berhenti, lanjut Samsi, jika sudah bisa menemukan cara baru untuk bisa terus dekat dengan anak-anak itu tanpa harus ikut program ini. Tapi sampai saat ini selama bayang-bayang anak-anak itu masih ada di benak maka saya akan terus bertahan.

Keyakinan untuk terus bertahan itu semakin menguat saat gempa susulan 27 April 2007, usai kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Samsi bersama timnya menemukan kumatnya PTSD pada anak-anak yang sudah sempat riang gembira tersebut.

Tanda-tanda PTSD itu sepintas remeh seperti ketakutan menyeberang jembatan atau ketakutan pada suara keras, gejala yang mungkin telah diabaikan oleh masyarakat umum, petinggi di daerah dan pusat.

Belakangan pihak Astro puas dengan pencapaian kerja MCS dan berminat melakukan sentuhan baru. Kali ini dana senilai Rp444 juta digelontorkan untuk program Astro Asih bertajuk Mobile Technology (MOBITECH).

Sepintas kendaraan ini mirip Mobil Pintar (Mopin) yang diluncurkan istri Presiden, Ani SBY. Tetapi Mobitech yang berujud perpustakaan keliling ini dilengkapi dengan komputer dan akses internet sehingga anak-anak memiliki jaringan terhadap informasi yang lebih kosmopolitan.

Dengan fasilitas ini program ditujukan untuk mempersiapkan anak-anak mengenal kemajuan teknologi informasi seperti pemanfaatan internet sebagai sumber ilmu pengetahuan sehingga mampu menghadapi tantangan dan persaingan global.

Setiap harinya, Samsi bersama Adi Suryopramono dan Nova Trianti akan berkeliling mendatangi sekolah-sekolah dasar dan menengah yang tidak memiliki fasilitas internet di seputaran Bantul, Yogyakarta secara bergiliran.

Anak-anak tersebut akan mendapat keahlian baru mengoperasikan berbagai alat, diajak membaca buku bersama, menonton film dan story telling serta berdiskusi mengenai informasi yang telah mereka dapat agar dapat menyeleksinya dengan baik.

“Kami kini bergerak di 10 titik di Bantul. Tantangan tentu lebih berat karena bersentuhan dengan teknologi informasi. Yang menarik ada penolakan dari salah satu sekolah MTS [Madrasah Tsanawiyah]. Padahal bagaimana memilah informasi dengan baik dan benar itu program kami,” tutur dia.

Satu hal yang membuat Samsi kini lebih rileks dalam bekerja karena Pemda Bantul mulai mengakui eksistensi program yang pada tahap pertama terkesan hit and run dengan aparat pemerintah.

Pasalnya sang penguasa daerah, Bupati Bantul Idham Samawi sempat terperangah melihat kelihaian anak didik putra terakhir dari empat anak pasangan Samsuri dan Kasiyah itu saat mendalang di Rumah Budaya Tembi, Bantul.

Belakangan bahkan pihak Pemprov Yogyakarta atas dukungan Sultan Hamengku Buwono X berharap agar program Mobitech bisa menjangkau seluruh daerah-daerah terpencil yang belum memiliki akses internet.

Dukungan pemda telah ada, fasilitas telah lengkap namun masih ada satu ganjalan yang harus diselesaikan. Yaitu kesejahteraan para petugas lapangan. Satu masalah yang membuat Samsi hanya bisa tersenyum getir dan tercenung beberapa saat.

Namun hal itu menurut dia segera lenyap tertutupi oleh senyum dan keceriaan anak-anak di dusun-dusun tempatnya mengabdi, mereka selalu ingin tahu dan menyambut gembira rombongan Samsi datang. Adakah dermawan yang bisa membantu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: