it’s about all word’s

Sex Pistols is back !!

Posted on: September 18, 2007

Sex Pistols kembali!

Usai tidur panjang tiga dekade para pemberontak dari Inggris, Sex Pistols kembali mengelar konser peringatan 30 tahun diluncurkannya satu-satunya album mereka Never Mind the Bollocks yang fenomenal.

Semua anggota pertama Sex Pistol a.l. John ‘Johnny Rotten’ Lydon, Steve Jones, Paul Cook dan Glen Matlock sudah siap tampil di Brixton Academy, London pada 8 November 2007.

Pihak panitia menjadwalkan tiket pertunjukan yang selembarnya dibandrol seharga Rp700 ribuan itu siap dijual sejak Jumat pekan ini..

Band yang ditahbiskan menjadi musuh bebuyutan Kerajaan Inggris karena memajang foto Ratu Elizabeth dengan tindik peniti di hidung itu bubar tahun 1978. Reuni pertama terjadi tahun 1996 dan penampilan terakhir mereka digelar tahun 2003.

Album ‘Never Mind The Bollocks… Here’s The Sex Pistols’ adalah satu-satunya album punk tersebut. Dalam album itu terdapat tembang kontroversial ‘God Save the Queen’ dan ‘Anarchy in the UK’ yang meledak saat dirilis Oktober 1977.

Grup ini awalnya dibentuk oleh Steve Jones, Paul Cook, Johnny Rotten atau John Lydon. Pemain bas, Glen Matlock kemudian digantikan oleh Sid Vicious atau John Simon Ritchie.

Meski mereka terinspirasi oleh grup punk Ramones asal AS, Sex Pistols justru lebih diakui sebagai batu penjuru band punk karena sukses menggebrak awal pergerakan pemberontak selama dekade 1970-an.

Hebatnya sejak berdiri 1972 hingga bubar 1978 band ini hanya meluncurkan satu album Nevermind The Bollock yang keluar setahun setelah meledaknya single Anarchy in The UK.

Album ini adalah sebuah pemberontakan besar dalam pakem musik rock and roll. Maklum keempat personel Sex Pistols secara teknik bermusik sangat dangkal. Liriknya pun asal cuap apa adanya.

Gara-gara dituding asasl bunyi (asbun) band tersebut dituding merusak tatanan moral. Karena tak hanya kata-kata memuja obat bius dan seks bebas, band ini juga bersumpah serapah pada sistem yang ada di Inggris saat itu.

Hasilnya perjalanan band ini dihiasi kontroversi dan tentu saja diikuti prestasi. Single Anarchy In The UK dan God Save The Queen yang berisi caci maki antikeluarga kerajaan dan menginginkan kebebasan membuat pihak rekaman raksasa EMI Music menarik kedua single itu dan membatalkan kontrak.

Lepas dari EMI, band ini ditolak A&M Records sebelum akhirnya nekad dikontrak Virgin Record untuk memproduksi album tersebut. Hasilnya Virgin kesulitan mempromosikan album tersebut.

Bagaimana tidak? Tak hanya mengatakan Ratu Elizabeth idiot dalam God Save The Queen. Sampul album juga bergambar Ratu Inggris dengan tindik peniti!

Bandingkan dengan album Ramones, dua tahun sebelumnya. Bersampul lambang negara AS, Elang Emas mencengkram tongkat pemukul bisbol dan tanaman ganja.

Hasilnya tak hanya BBC yang ogah menyiarkan album Sex Pistols, radio swasta pun ikut ‘tiarap’. Bahkan toko kaset tak mau menjual album mereka.

Akhirnya pihak label menggelar sebuah panggung di atas perahu yang melayari sungai Thames-konsep ini lalu dicontek U2 dan The Police. Begitu kapal sandar personil band Sex Pistols dan para eksekutif label langsung dicokok polisi.

Tapi berbagai kesulitan itu justru mematik rasa penasaran publik, dan tak tertahankan satu persatu single mereka menguasai tangga puncak lagu Inggris. Hasilnya dalam waktu singkat Sex Pistols berubah menjadi ikon pemberontakan pada sistem bagi ribuan anak muda.

Sayang popularitas dan ketergantungan pada obat bius membuat perjalanan band ini terhenti dengan kematian pemain bas mereka Sid Vicous akibat overdosis menyusul kematian misterius pacarnya Nancy Spungen ketika band itu tur ke AS. Padahal saat itu mereka sedang berada di puncak ketenaran.

Kematian pemain bas dengan ciri khas berkalung rantai dan gembok di puncak ketenaran memang membuat grup itu bubar tapi menyebabkan nama besar band ini melegenda. Hasilnya sampai saat ini setiap kali orang menyebut budaya punk maka asosiasi pikiran pun langsung ke Sex Pistols.

Tak heran setiap kali band ini reuni, selalu saja mendapat sambutan yang meriah. Band ini sempat reuni tiga kali yaitu 1996, 2002, dan 2003, dengan formasi awal yaitu Steve, Paul, Johnny dan Glen.

Anti kemapanan

Nama besar mereka tentu saja mengundang sineas untuk mengangkat kisah hidup band heboh ini ke layar perak. Sebut saja The Great Rock ‘N’ Roll Swindle, The Filth and the Furry dan tentu saja yang paling laku, Sid and Nancy yang disutradarai Alex Cox.

Film yang menceritakan kehidupan Sid (Gary Oldman) dan pacarnya Nancy Spungen (Chloe Webb) seolah jadi pengakuan terhadap pasangan kontroversial yang disebut oleh majalah The Rolling Stone hanya bisa disandingkan dengan pasangan grunge Kurt Cobain dan Courtney Love.

Meski termasuk film lama, di manapun ini diputar selalu disambut antusias komunitas punk (punker). Saat diputar di ajang Jakarta Film Festival (Jiffest) dua tahun lalu, ratusan punker menyemut hingga memecahkan kaca pembatas tempat gelaran.

Tapi kisah paling seru terjadi saat Sex Pistols menolak mentah-mentah rencana difilmkannya kehidupan pendiri sekaligus vokalis grup itu, Johnny Rotten. Maklum pemeran Johnny adalah Justin Timberlake!

Maklum Justin selama kariernya lebih dikenal sebagai boy band bercorak musik pop dance yang serba genit.

“Aku belum mati seperti halnya Sid. Dan aku rasa aku akan jadi legenda kalau cuma difilmkan oleh kapitalis dan aktor genit itu,” ujar Johnny pada sebuah talkshow TV.

Ucapan Johnny didukung seluruh komunitas punk di seluruh dunia yang mengancam akan memboikot dan membuat kerusuhan jika film itu benar-benar terwujud.

Tentangan itu kemudian diwujudkan oleh keempat personel asli tersebut dengan film tandingan ‘The Sex Pistols (The Sex Pistols). . . Punk’s Not Dead’ yang disutradarai Susan Dynner.

Film documentary tribute untuk musik punk itu didukung puluhan musisi punk lintas generasi a.l. The Ataris, The Dead Kennedys, Green Day, Good Charlotte, Billy Idol, NOFX, The Offspring, Kelly Osbourne, The Ramones, Rancid, Bad Religion, Black Flag, Simple Plan, Sum 41, dan tentu saja Sex Pistols.

Pada pemutaran di pertunjukan-pertunjukan independen di Eropa, AS dan Jepang film ini mendapat sambutan yang hangat dari komunitas underground setempat.

Melihat hal ini Hollywood pun menyerah kalah dan mengurungkan niat mereka. Kejadian ini adalah ulangan sejarah 30 tahun tahun lalu saat raksasa rekaman EMI gigit jari karena grup ini.

Bahkan meski sudah menjadi legenda dunia rock, Sex Pistol tetap melawan kemapanan sistem. Lihat saja saat keempat personilnya kompak menentang pemajangan nama mereka pada Rock and Roll of Fame pada 13 Maret 2006. Hanya satu kata. Lawan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: