it’s about all word’s

Private Military Company (PMC): Duit mudah dari perang yang renyah

Posted on: September 24, 2007

Bisnis perang yang menggiurkan
Perkembangan terakhir kasus penembakan brutal personil kontraktor Blackwater yang mengakibatkan 17 orang Irak tewas dalam penyerangan tahun 2005 akhirnya antiklimaks dengan keputusan  pemberian hak imunitas.
Ini menarik dan melengkapi kebalnya bisnis kontraktor, tentara bayaran atau yang kini dengan sopan disebut Private Military Company (PMC). Tapi apa sih sebetulnya bisnis ini?

Dimana ada gula di situ ada semut. Dimana ada perang disitu ada uang. Aktivitas yang lahir dari insting mempertahankan diri ini berkembang menjadi komoditi yang tak murah seiring revolusi peralatan saling bunuh.

Perang kini tak sekadar melibatkan adu jotos dan tendangan. Kelebat katapel atau irisan kelewang. Menang dan kalah dari sebuah pertempuran kini semakin nisbi dengan deretan uang yang kemudian mengikuti berbungkus misi kemanusian.

Bisnis perang di luar jual beli senjata kini semakin menggiurkan. Salah satunya adalah lewat bisnis tentara bayaran yang sejarahnya sudah dimulai sejak Perang Kadesh 1200 SM. Saat itu Firaun Ramses II memanfaatkan jasa 10.000 pasukan bayaran Palestina untuk melibas Kerajaan Hittite, daerah Syiria.

Setelah itu sejarah dunia banyak tergores berkat ‘jasa’ para prajurit bayaran. Kiprah para pembunuh demi uang itu terbentang mulai dari perang Yunani, Kekisaran Romawi, Perang Salib dan sampai sekarang.

Ventura menjadi perusahaan tentara bayaran profesional pertama di dunia. Didirikan oleh dua pebisnis Jerman: Werner Urslingen dan Konrad von Landau pada 1282. Ventura adalah agen 3.000 serdadu Condottieri.

Dua abad kemudian tepatnya pada 1459, muncul tentara bayaran yang sampai kini masih beroperasi yaitu Reislaufer dan Landsknecht. Sampai saat ini Reislaufer atau biasa disebut Halberdier-karena membawa tombak panjang Halberd) yang sejak dulu terdiri dari orang-orang Swiss masih bertugas menjaga negara imut Vatikan Roma.

Pada abad ke-17 atau abad penaklukan Eropa atas negara-negara baru muncul para pelaut bayaran berjuluk Priveteer dan Buccaneer. Mereka mengabdi pada kerajaan Perancis, Belanda dan Spanyol.

Inggris terkenal dengan pasukan Gurkha. Kamar Dagang Inggris yang kesulitan menundukkan orang-orang gunung Nepal itu kemudian mempekerjakan Gurkha sebagai pasukan bayaran sejak 1817.

Kiprah mereka sebagai mesin perang Inggris jauh lebih panjang daripada pasukan Sikh yang berasal dari wilayah Punjab yang punya beladiri Gatka. Mereka mulai membantu pasukan Inggris sejak 1857.

Baik Gurkha maupun Sikh adalah pasukan yang dikirim Sekutu untuk misi menjaga wilayah Indonesia setelah Jepang menyerah dan Belanda terbirit-birit ke Australia. Pada perang Dwikora, pasukan Indonesia saling bokong dengan Gurkha di Kalimantan.

Sementara Perancis dikenal membentuk jasa tentara bayaran dengan mendirikan Legiun Asing pada 1835. Pasukan dengan topi mirip ember itu berjuang di sejumlah palagan penting a.l. Afrika Utara, Italia, Mexico hingga Vietnam.

Sudah jadi rahasia umum kalau pada setiap perang modern seperti krisis terusan Suez, Aljazair, Irak-Kuwait hingga misi kemanusiaan Aceh pasca tsunami yang dikirim adalah Legiun Asing.

Sedang Amerika mulai menggarap bisnis ini pada perang Indo-China 1936-1942. Lewat trio penerbang AS: Claire Chennault, Haywood S. Hansell dan Luke Williamson.

Atas restu pemerintah AS-China, mereka membentuk American Volunteer Group atau para pilot sukarela yang terkenal dengan julukan Flying Tigers. Untuk proyek abu-abu ini, AS mengucurkan dana hingga US$8,9 juta.

Pada perang Vietnam, para petualang itu mendapat penghargaan dari band legendaris Deep Purple yang menuangkannya dalam tembang ‘Soldier of Fortune.’

Perang Dingin

Diakui atau tidak bisnis tentara bayaran (mercenary) modern semakin subur berkat Perang Dingin. Kedua blok saling berebut pengaruh ideologi, minyak, obat bius dan intan. Agar tak terlalu kentara negara-negara besar itu menggunakan merceneries.

Salah perusahaan mercenary tertua di jaman modern adalah Vinnell Corporation. Perusahaan yang didirikan AS. Vinnell ini awalnya bergerak di jasa konstruksi pada tahun 1931.

Kontrak pertama mereka adalah mendukung program Flying Tigers. Tahun 1975, Vinnell dibantu Kolonel James D. Holland untuk menggarap kontrak senilai US$77 juta untuk melatih 7.500 tentara Arab Saudi.

Orang-orang Bush senior seperti James A. Baker III dan Frank Carlucci berperan penting untuk kontrak-kontrak mengoperasikan fasilitas militer AS di seluruh dunia.

Satu lagi yang tertua adalah DynCorp yang berdiri tahun 1946. Jenderal Anthony C. Zinni dan Paul V. Lombardi petinggi di perusahaan yang punya penghasilan bersih US$7,2 miliar (2006).

Karena mendapat beking orang-orang kuat, pantas jika DynCorp yang sahamnya diperdagangkan di lantai bursa AS dengan kode DCP ini selalu mendapat kontrak dari Pentagon. Mulai dari Kolombia, Irak, Afganistan, Gaza-Israel, Bosnia dan Haiti.

Melihat sepak terjangnya bukan tidak mungkin DynCorp dan Vinnell juga terlibat dalam politik kotor AS saat bermain di Indonesia menggarap pemberontakan PRRI-Permesta.

Satu merceneries sempat tertangkap yaitu pilot Allen Lawrence Pope. Demi melepas Pope, Presiden John F. Kennedy sampai mengirim adiknya, Bobby Kennedy menemui Sukarno dan menghadiahi kerjasama militer.

Pada invasi Teluk Babi, 1961 mereka melibatkan organisasi Contra yang kemudian dipakai CIA untuk meredam perlawanan Sandinista di Nikaragua. Hubungan CIA ini meletup saat kasus October Surprise yang didalangi George Bush senior.

Cerita skandal ini unik. Karena gagal membebaskan 52 sandera AS lewat aksi pasukan komando. Bush lantas melobi Ayatollah Khomeini lewat jaringan Mossad yang ditangani Ari Ben Menashea.

Agar tetap terlihat bersih Khomeini diwakili PM Bani Sadr ke Paris. Sadr mau membebaskan sandera asal AS mau memberi rudal anti tank untuk melawan Irak. Bush bahkan menambah dengan US$40 juta lagi.

Hasilnya pada 1 Januari 1981, 52 sandera itu tiba di AS. Citra Ronald Reagen pun melejit dan terpilih jadi presiden, Bush jadi wapres dan William Casey dapat jatah Direktur CIA.

Tiga tahun berlalu peristiwa terulang. Kali ini disebut Iranian Gate, dimulai saat agen CIA William Buckley disandera gerilyawan Hezbollah. Reagan meminta National Security Council (NSC) bertindak cepat.

Lagi-lagi lewat jaringan Mossad dan Iran setuju asal diganti dengan rudal Hawk yang ditangani Letkol Oliver North. Duit keuntungan penjualan dibagi ke Contra, para broker senjata dan penyandera.

Kegiatan serdadu bayaran (mercenary) belakangan makin tak populer ketika muncul Protokol Tambahan Konvensi Geneva 8 Juni 1977 untuk membatasi definisi pasukan bayaran.

Agar tetap eksis maka orang-orang dengan skill membunuh dan haus adrenalin petualangan itu berbalut nama Private Military Company (PMC) atau biasa disebut ‘kontraktor’.

Tahun 1961 duet pebisnis jenius Herb Karr dan Harry Markowitz mendirikan California Analysis Center Incorporated (CACI). Caci terkenal berkat penyiksaan di penjara Abu Ghraib tahun 2004.

Gara-gara rekaman yang bocor ke televisi, saham CACI-dengan kode CAI–di lantai bursa langsung anjlok.

CACI tak sendirian di Abu Ghraib, mereka beroperasi bersama Titan Corporation. PMC dengan pendapatan tak kurang dari US$2 miliar itu, gara-gara Abu Ghraib batal diakuisisi Lockheed Martin.

Tahun 2005, Titan dengan dana US$28 juta menggarap Republik Benin, sebuah negara kecil bekas jajahan Perancis di Afrika Barat.

PMC modern AS yang termakmur adalah Halliburton. Perusahaan yang aslinya bergerak di bidang minyak sejak 1919 ini mulai bersentuhan dengan dunia militer saat perang Vietnam untuk menggarap infrastuktur senilai US$10 juta.

Tapi bisnis PMC mereka baru moncer setelah Dick Cheney masuk tahun 1995. Proyek awal adalah dari Brown & Root Services senilai US$8,5 juta untuk pengkajian penerapan PMC di Perang Teluk I.

Halliburton makin kencang saat Bush senior masuk lewat Dresser Industries tahun 1998. Tahun lalu perusahaan dengan karyawan berjumlah 106.000 orang itu memiliki pemasukan US$13 miliar dan pendapatan bersih 2,35 miliar.

Satu nama yang kini sedang ramai dibicarakan adalah Blackwater Security Consulting. PMC yang punya markas di Fort Bragg ini dituding jadi biang peredaran senjata di Irak.

PMC yang didirikan oleh Erik Prince dan Al Clark tahun 1997. Blackwater sangat dekat dengan AD AS karena pendiri dan karyawannya adalah mantan tentara. Kontrak pengawalan mereka di Irak hingga 2009 senilai Rp1 miliar.

Lucunya tentara Blackwater punya ciri khas bergaya khas mirip vokalis Radja, Ian Kasela yaitu berkaca mata hitam Oakley.

Satu PMC yang tak kalah besar adalah Military Professional Resource Inc (MPRI) yang didirikan Jenderal Vernon Lewis tahun 1987. Saham MPRI diperdagangkan di lantai bursa sejak 2000 dengan kode LLL..

Tapi tidak seperti Blackwater yang angker. MPRI lebih rapi dan cenderung low profile. Mereka bergerak di bidang pelatihan. Untuk Kolumbia MPRI mendapat jatah perang narkoba senilai 4,3 juta sementara di Irak sekitar US$2,5 juta.

Dua tahun lalu mereka mendapat kontrak senilai US$2 miliar masing-masing pelatihan polisi sipil PBB dan Departemen Peradilan AS. Mereka secara rutin melakukan perekrutan anggota lewat universitas di AS.

PMC non AS

Sejarah bisnis PMC modern mencatat WatchGuard International sebagai PMC modern pertama. Didirikan Kolonel Sir David Stirling, pendiri pasukan SAS, pada 1960.

Stirling bergerak di Teluk Persia. Dia juga membentuk Kulida Security Ltd (1970) yang beroperasi di Kenya, Zambia, Tanzania dan Malawi. Tahun 1986 bersama Ian Crooke mendirikan KAS Enterprises yang menjadi tim pengawalan misi World Wildlife Federation (WWF) di Afrika Selatan.

Anak asuh Stirling yang mengikuti jejaknya adalah Kolonel Alastair Morrison. Mantan SAS yang berhasil dalam penyelamatan Mogadishu, Somalia (1977). Dia mendirikan Defence Systems Limited (DSL) tahun 1981.

Jasa DSL umumnya adalah jasa pengawalan dan perlindungan a.l. PBB, Bank Dunia, Amoco, Andarko Petroleum, Bechtel, BP, Broken Hill Propriety Petroleum, Exxon, DeBeers dll.

Tahun 1990-an, bersama BP, DSL terlibat praktik kotor di Kolombia. Mereka menculik dan membunuhi rakyat yang mengganggu eksplorasi dengan investasi US$2 miliar itu. Kasus ini gagal diajukan Amnesty International karena kurang bukti. Tahun 1997, DSL dijual ke Armor Holding Inc senilai US$26 juta.

Setelah DSL, Alastair Morrison kemudian mendirikan Erinys International Ltd tahun 2001. Markasnya di Dubai, UEA. Mereka bergerak di Sahara Afrika dan Timur Tengah.

Khusus untuk menggarap kue Irak, dibetuk Erinys Iraqi yang dikepalai mantan pejabat senior Namibia Sean Cleary. Pria berdarah Afrika Selatan ini bertanggung jawab menjaga keamanan para teknisi minyak asal AS.

Pada Agustus 2003, mereka berhasil mendapat kontrak senilai US$40 juta dari Departemen Perminyakan Irak untuk melatih 6.500 satpam dan melindungi 140 sumur dan 7000 instalasi pendukung kilang dan jaringan minyak.

Sementara Afrika Selatan memiliki PMC legendaris bernama Executive Outcome yang didirikan Luther Eeben Barlow seorang Letkol dari angkatan bersenjata negara apartheid itu pada 1989.

Kiprahnya luar biasa di Afrika. Mulai dari Uganda, Botswana, Zambia, Ethiopia, Namibia, Lesoto, Burundi, dan tentu saja Sierra Leone. Anda bisa melihat profilnya di film Blood Diamond yang dibintangi Leonardo DiCaprio. Disana disebutkan keterlibatan kartel berlian DeBeers.

Tahun 1998 EO tutup dan merger dengan Sandline International yang didirikan oleh dua mantan pasukan SAS, Letkol Tim Spicer dan Simon Mann. Keduanya terkenal lewat kasus skandal di Papua Nugini yang melibatkan anak usaha raksasa tambang British Rio Tinto tahun 1997.

Sementara Mann terkenal karena kasus Ekuatorial Guinea yang melibatkan putra Margareth Thatcher, Mark.

Tahun 2000 dia keluar dari Sandline. Bersama Mark Bullough pada 2003, Spicer mendirikan Aegis Defence Services. Nama Spicer adalah jaminan mutu bagi Aegis. Buktinya order mengalir deras.

Hanya dalam setahun perusahaan itu sudah balik modal bahkan mendapat keuntungan sampai 100 kali lipat. Mereka juga mendapat kontrak dari Pentagon untuk mengurus Irak dengan bayaran US$293 juta.

Di luar PMC yang membuka diri itu, tentu banyak yang bergerak terselubung. Sebut saja yang digarap operator Israel. Diakui atau tidak jaringan PMC adalah jaring informasi yang berharga bagi intelijen resmi dan partikelir.

Patut dicatat bisnis PMC bukan saja menyediakan jasa dar-der-dor, PMC juga menggarap intelijen perang, intelijen bisnis, pengolahan data base hingga penyediaan dan riset peralatan perang yang melibatkan duit dalam jumlah luar biasa.

1 Response to "Private Military Company (PMC): Duit mudah dari perang yang renyah"

bole bantu bagaimana dapat $l juta 012 2434614

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2007
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
%d bloggers like this: