it’s about all word’s

Rod Steward: Jakarta [On Schedule]

Posted on: November 8, 2007

Rod Steward segera buai Jakarta

Jakarta boleh makin macet berkat proyek busway atau tergenang banjir, namun semua itu tak membuat nyali sang pemilik suara seksi Rod Steward surut untuk membuai penggemarnya di Indonesia.

Sayangnya pihak promotor yang bakal memanggungkan pria asal Highgate, London Utara itu belum berani memberikan kepastian kapan dan di mana konser itu akan berlangsung. Jika lancar, akhir tahun ini. Sebaliknya jika banyak kendala bakal diundur awal 2008.

Bagi penggemar musik di seluruh dunia terutama para perempuan, Rod Steward memiliki tempat tersendiri berkat lirik yang romantis dan suara serak-serak basahnya.

Berkat suara unik itu, anak bungsu pasangan Robert dan Elsie Stewart itu mampu menjual 250 juta kopi rekaman selama lima dekade berkarir di dunia musik dengan 62 tembang yang terus laku diputar hingga hari ini.

Rod memiliki latar belakang unik, meski lahir di Inggris dia lebih bangga menyebut dirinya musisi Skotlandia. Saat masih Rod masih balita pasangan Robert dan Elsie pindah ke jiran Inggris membawa kelima anak-anak mereka.

Si kecil Rod lantas masuk ke William Grimshaw School, di sana dia berkenalan dengan indahnya denting senar gitar saat berusia sebelas tahun. Saat itu dia lebih suka menendang bola dibandingkan menjadi musisi.

Lulus dari sekolah dan gagal menjadi pemain bola, Rod sempat menjadi tukang gali kuburan. Bosan dengan pekerjaan ini, dia lantas mulai sadar memiliki bakat bermusik dan bergabung dengan musisi folk lokal, Wizz Jones di awal 1960-an.

Grup musisi jalanan itu berkeliling Eropa untuk bermusik. Namun petualangan Rod akhrinya terhenti di Spanyol. Dia dideportasi karena melanggar pasal melakukan pekerjaan sebagai gelandangan.

Pulang ke daratan Inggris, Rod mendirikan The Ray Davies Quartet pada 1962. Band yang belakangan dikenal sebagai The Kinks sangat sukses. Sayang Rod lantas ditendang karena persoalan yang tak jelas.

Setelah itu Rod terus pindah band a.l. Jimmy Powell & the Five Dimensions, The Hoochie Coochie Men, Steampacket, dan The Faces.

Bosan gonta-ganti band, di pertengahan 1969, Rod akhirnya memulai karir solonya. Lewat Mercury Records dia merilis tembang Old Raincoat Won’t Ever Let You Down yang ternyata sukses karena mencampurkan nuansa folk, rock, dan country blues.

Setahun kemudian karirnya melonjak saat menjadi vokalis tamu band Australia, Python Lee Jackson yang melahirkan tembang In a Broken Dream.

Meniti sukses

Namun baru di album Every Picture Tells a Story (1971) yang benar-benar mencuatkan Rod Steward. Album itu melahirkan beberapa tembang unggulan a.l. Reason to Believe, Maggie May, Mandolin Wind, (I Know) I’m Losing You, dan Tomorrow is a Long Time, dan Every Picture Tells a Story yang melegenda.

Praktis setelah itu Rod bersama The Faces sukses berat. Lagu-lagu mereka menguasai puncak tangga lagu di AS. Uniknya pentilan band punk Sex Pistols, Steve Jones menyebut The Faces adalah band yang paling berpengaruh bagi perkembangan punk di Inggris.

Sayang The Faces akhirnya bubar setelah merilis album tersukses Ooh La La tahun 1973. Band itu vakum dan berpuncak pada peristiwa pindahnya gitaris Ron Wood ke The Rolling Stones dan Rod Stewart berkonsentrasi ke karir solo.

Album Rod bertajuk Smiler sukses di Inggris dan AS. Tembang terbaik di album ini adalah Farewell dan Mine For Me. Setelah kesuksesan ini, Rod memutuskan kontraknya dengan Mercury Records dan pindah ke raksasa Warner Bros. Records.

Dipercaya kepindahan itu dilakukan untuk memuluskan langkahnya menjadi warga negara AS. Saat itu Rod pindah ke AS bersama sang kekasih Britt Ekland. Namun sudah jadi rahasia umum, kepindahan itu dilakukan agar Rod tak tercekik pajak Inggris yang luar biasa.

Tidak butuh lama menyesuaikan diri, hanya dalam hitungan bulan Rod sudah merilis album pertamanya sebagai orang Inggris. Album ‘Atlantic Crossing’ merajai tangga lagu dunia dengan tembang unggulan Sailing.

Setelah itu nama Rod menjadi musisi yang paling terkenal di masa itu. Berbagai penghargaan penjualan diperolehnya. Salah satu pertunjukan yang dilakukannya adalah saat manggung di Los Angeles Forum yang disaksikan 35 juta penonton di seluruh dunia di akhir 1981.

Satu pertunjukan yang terus dicatat penggemar Rod adalah reuninya dengan Ron Wood pada ajang MTV Unplugged 1993. Konser akustik yang kemudian dirilis sebagai The Unplugged menguasai tahun itu sekaligus menjadi kado saat dia masuk Rock and Roll Hall of Fame 1994.

Dengan segala prestasinya pria yang dijuluki legenda James Brown sebagai raja soul kulit itu terpilih untuk menjadi salah satu artis dalam proyek Great American Songbook yang merangkum musik pop AS sejak 1930-hingga 1990-an

Akhir tahun lalu, dia terlibat dalam proyek keroyokan album musik rock empat abad bertajuk ‘Still the Same… Great Rock Classics of Our Time’ yang dalam sepekan pertama langsung laku sampai 184.000 kopi.

Pada sisi lain sebagai pria sukses dan seksi, tak heran jika Rod dikenal sebagai penakluk perempuan. Sampai saat ini dia telah lima kali menikah dan memiliki tujuh anak. Anak terakhirnya lahir November 2005 dari hubunganya dengan model Penny Lancaster. Sukses karir. Sukses ranjang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: