it’s about all word’s

Malaysia next: Truly ISA

Posted on: November 15, 2007

Did MalaySIA will become a MalayISA?

Diakui atau tidak dalam sebulan terakhir ini Asia Tenggara tengah dilanda virus lucu. Di tengah menguatnya gerakan demokrasi. Totalitarian justru mirip panu. Terus kuat meski sudah diolesi obat sintetis atau alami.

Saya mencatat kekuasaan yang menafikan hak menyuarakan pendapat, ekspresi, memilih atau dipilih di Asean masih kental ada di Myanmar (Than Shwe) dan Malaysia (Abdullah Badawi), disusul Thailand (Sonthi Boonyaratkalin) pasca tergulingnya PM Thaksin Shinawatra.

Yang menarik, perlawanan koalisi BERSIH di jiran terdekat kita, Malaysia. BERSIH beraksi selangkah lebih maju, tak seperti aktivis pro-dem di Myanmar dan Thailand. Menghadapi tekanan yang represif, perlawanan mereka tak menyurut.

Awalnya tentu saja memanfaatkan teknologi informasi yang semakin mendatarkan bumi yang bulat membuat aksi penggalangan massa yang dulu sulit kini efektif.

Satu situs kondang perlawanan yang bikin panas-dingin pemerintahan pasca Mahathir Mohammad adalah Malasysia Kini yang dibentuk Steven Gan. Dalam kondisi informasi yang dikontrol pemerintah, situs Gan jadi alternatif informasi nan menggoda bagi negara Melayu yang semakin heterogen itu.

Menurut Gan kepada radio Jerman, DW komposisi masyarakat Malaysia makin berwarna. Islam sekitar 60 % dan non Islam 40 %, terutama Hindu, Tao, Budha, Kristen dan Sikh. Secara etnik Melayu Islam 60 %, kemudian 28 % China, disusul India.

Sayang, Malaysia belum sadar juga dengan kekuatan keragaman mereka. Warga Melayu masih dimanjakan dengan lindungan undang-undang.

Undang-undang diskriminasi yang semakin menguat usai kerusuhan etnis 1969 akibat perlakuan tak adil negara. Sejak itu hingga saat ini pemerintah Malaysia yang dikuasai Melayu justru semakin paranoid.

Salah satunya dengan mengontrol pers dengan pasal-pasal ketinggalan jaman seperti Sedition Act 1948 dan Official Secrets Act 1972. Lalu disusul Printing Presses and Publication Act 1984.

Bak Indonesia di masa Soekarno dan Soeharto yang megalomania, Mahathir Mohammad beserta kendaraan politiknya, UMNO melibas suara oposisi. Banyak omong masuk penjara, berpikir nakal terali besi. Sisanya dukungan pengadilan yang sudah disetting.

Kedua pasal karet itu sangat efektif untuk menjerat pers. Sedition untuk penghasutan sementara Official Secrets untuk menangkapi pers yang menyiarkan dokumen rahasia negara. Sementara Printing Presses and Publication Act 1984 mirip SIUPP-nya Harmoko.

Hasilnya sebagian media Malaysia tiarap dan sebagian besar itu cenderung menjilat pantat penguasa salah satunya dengan berafiliasi pada partai-partai pendukung pemerintah.

Kondisinya mirip media-media Indonesia di masa Orde Baru. Tapi jadi catatan penting, selama lebih dari 20 tahun media Malaysia kurang nakal mengakali.

Bandingkan dengan media Indonesia yang masih sering menyentil pemerintah lewat karikatur, short comic edisi akhir pekan atau malah editorial cartoon.

Beberapa memang kejeblos karena kurang taktis. Hingga harus diberangus. Macam Indonesia Raya yang berkali-kali dibredel lalu Tempo, Detik, D & R. Tapi itu karena peliputan yang langsung menghajar.

Belakangan majalah Tempo kembali terbit setelah Menpen Yunus Yosfiah membuka kran penerbitan media dalam negeri dengan UU No 40/1999 yang diteken BJ Habibie, 23 September 1999. Sementara majalah Detik berevolusi jadi media on-line sejak 1998.

Perlawanan maya

Lalu Malaysia? Satu pemicu menguatnya perlawanan terjadi karena dipecat dan dipenjarakannya wakil perdana menteri Anwar Ibrahim tahun 1998. Protes menguat tapi media Malaysia adem-ayem. Akhirnya Steve Gan mendirikan Malaysiakini.com setahun kemudian dan terus menjadi media alternatif.

Bagaimana media cetak Malaysia? Yah gitu deh! Kurang kreatif. Maklum masih di bawah ketek partai a.l. UMNO (United Malays National Organization), MCA (Malaysian Chinese Association), MIC (Malaysian India Congress).

Partai terbesar Malaysia, UMNO adalah pemilik New Straits Times, Malay Mail, Berita Harian, Harian Metro lewat Media Prima. Kini sahamnya beralih ke Malaysia Resources Corporation Berhad, yang tak lain punya UMNO juga.

Selain itu perlawanan di Malaysia menguat seiring tren blog. Lucunya Mahathir yang tukang tipu dan menjebloskan Anwar Ibrahim ke terali besi dengan tuduhan lucu, juga memanfaatkan malaysiakini.com untuk berkoar-koar.

Pemerintah Malaysia saat ini hanya bisa melongo. Karena aturan-aturan Printing Presses and Publication Act 1984 hanya berlaku untuk media cetak. Sementara on-line tak tersentuh.

Hasilnya memang lumayan. Lihat saja kejadian heboh 11 November lalu, ketika untuk pertama kalinya bangsa Malaysia cukup bernyali melawan penindasan yang dilakukan bangsa se Tanah Air-nya

Saat itu sebanyak 30 ribu massa pendukung kelompok oposisi yang tergabung dalam koalisi BERSIH mendekat ke Istana Nasional, Kuala Lumpur, Malaysia. Tanpa takut dengan hadangan barikade ratusan petugas keamanan massa meneriakkan tuntutan reformasi pemilu di Malaysia.

Tentu saja sudah bisa diduga, aksi turun ke jalan terbesar yang pernah ada di Malaysia itu dibubarkan paksa dengan semprotan air dan gas air mata. Polisi juga sempat menangkap sedikitnya 245 pengunjuk rasa, meski kemudian melepaskannya.

Begitu pula kalau kemudian PM Abdullah Ahmad Badawi mendukung tindakan para polisi untuk membubarkan unjuk rasa tersebut. Badawi juga menuduh penyelenggara demo itu menyeret raja dalam urusan politik.

“Saya menyerahkan wewenang kepada kepolisian. Mereka ternyata melakukanya dengan baik, saya bangga karenanya. Pertemuan ilegal semacam itu… akan menyebabkan kesulitan dan membuat banyak orang marah,” ucap Badawi seperti dikuti harian New Straits Times, Senin (12/11).

Tapi ada satu hal yang pantas diwaspadai jika kemudian rezim Badawi frustasi dan berpaling menggunakan senjata pamungkas UU Keamanan Dalam Negeri (ISA – Internal Security Act) yang berkekuatan tanpa batas. Keras bagai baja, lenturmirip karet.

Siapa pun masih ingat saat kepolisian diraja Malaysia mengejar dan menangkap politisi oposisi, terutama tokoh Partai Keadilan Nasional (PKN) yang terlibat dalam demonstrasi 1999-2000.

Tujuh tahun lalu, kehadiran PKN dalam panggung politik Malaysia dianggap mengusik pemerintahan Mahathir. PKN pimpinan Wan Azizah wan Ismail (istri Anwar Ibrahim), Wakil Ketua PKN Tian Chua, Ketua Pemuda PKN Ezam Mohd Nor, Sekretaris Pemuda PKN Gobalan Krishnan, dan anggota PKN Abdul Malek Hussein ditangkap dengan alasan mengganggu keamanan.

Menurut ketentuan, pertemuan yang sekurang-kurangnya dihadiri tiga orang harus mendapat izin polisi. Para pelanggar diancam hukuman kurungan tujuh hari. Pemeirntah juga bermain lewat pengadilan dagelan seperti halnya vonis kontroversial Anwar Ibrahim, 14 April delapan tahun silam.

Kalau skenario ini yang terjadi. Negara lain tak akan bisa mengintervensi, kecuali Inggris dan Amerika Serikat. Satu harapan lagi adalah langkah apa yang akan diambil Raja Yang Dipertuan Agung Tuanku Mizan Zainal Abidin.

Jika ketiga subyek kekuasaan itu tak bertindak, mari kita sama-sama mengucapkan tagline promosi pariwisata Malaysia yang akrab dan menggoda itu. MalayISA: Truly aISA!

5 Responses to "Malaysia next: Truly ISA"

RELA kok nggak dibahas ya?
nggak rela nih….

RELA…kan ga beda ama Hansip di sini bro…tapi seru juga kalau kemudian mereka cukup punya nyali seperti halnya Pam Swakarsa bentukan tentara ketika berani mati menghadapi demonstran di Jakarta

Banyak pun pernah berkata Malaysia nak membubarkan pembangkang tetapi tidak lagi masih kurang memuas dan juga suka guna ISA mengacau oranglain tersebut tak suka sahaja.Politik BN /UMNO Malaysia telah mendiamkan mahasiswa Malaysia puki pantat betul.

3.

Banyak pun pernah berkata Malaysia nak membubarkan pembangkang tetapi tidak lagi masih kurang memuas dan juga suka guna ISA mengacau orang lain tersebut tak suka sahaja.Politik BN /UMNO Malaysia telah mendiamkan mahasiswa Malaysia puki pantat betul.Jangan ingat nak buat tenteram lagilah pergi berambus.

awak tak ngerti nak maksud…please talk with english lah…it’s simple i think…hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: