it’s about all word’s

Steve McLaren: Cat on the Lions back

Posted on: November 23, 2007

Kucing di punggung singa

Pelatih Steve McLaren menjadi satu nama yang paling disorot penggemar sepak bola Inggris. Entah kebetulan atau tidak namanya sama sialnya dengan tim Formula 1 asal Inggris, McLaren yang tahun ini gagal total karena kasus spionase.

Kegagalan di Wembley menambah deretan Inggris gagal mengaum di Eropa. Setelah tak masuk kualifikasi tahun 1960. Inggris gagal lolos ke putaran final tahun 1964, 1972, 1976 dan 1984.

Sementara untuk putaran final Piala Dunia, Inggris pernah gagal lolos sebanyak tiga kali yaitu 1974, 1978 dan 1994.

Tak heran begitu tendangan jarak jauh Mladen Petric menembus gawang
Scott Carson tuntutan pemecatan langsung dialamatkan pada mantan pelatih Middlesbrough itu.

Tuntutan itu tak perlu menunggu lama, para pejabat Federasi Sepak bola Inggris (FA) a.l. Brian Barwick, Simon Johnson, Geoff Thompson, dan pejabat Komite Internasional, Noel White langsung rapat sejam setelah Inggris dibekuk Kroasia.

Entah mungkin sudah mendapat bocoran, hanya berselang sepeminuman the langsung muncul dukungan pejabat klub a.l David Gill (Manchester United), Phil Gartside (Bolton), David Sheepshanks (Ipswich), Dave Henson (Devon FA), Michael Game (Essex FA), Roger Burden (Gloucestershire FA), John Ward (Hampshire FA) dan Barry Bright (Kent FA).

Tidka itu saja pejabat kunci Liga Inggris seperti Dave Richards dan Lord Mawhinney ikut mendukung langkah pemecatan pria kelahiran Fulford, York, Inggris itu.

Pagi harinya Federasi Sepakbola Inggris (FA) memutuskan untuk memecat Steve McClaren melalui Brian Barwick. Yang menyedihkan pemecatan itu dilakukan hanya lewat hubungan telepon.

Kepada media, Stephen McClaren yang semasa karir pemain berposisi sebagai gelandang itu mengaku tidak bisa berbuat apa-apa atas kegagalan timnya lolos ke putaran final Euro 2008..

“Ini merupakan hari tersedih yang pernah saya alami selama karir saya. Ketika saya memutuskan untuk menerima pekerjaan ini 18 bulan lalu, saya sangat bangga sekali dan merasa terhormat bisa menjadi pelatih Inggris,” ungkap pria kelahiran 3 Mei 1961 itu.

Sejak awal penunjukkan McLaren sebagai pelatih timnas The Three Lions sudah mendapat tentangan dari pendukung fanatik Inggris yang memang terkenal galak.

Saat itu alasan penting kenapa penunjukan itu ditentang adalah semat-mata prestasi sebagai pemain profesional atau kepelatihannya tak semengkilap pelatih-pelatih timnas sebelumnya.

Selama aktif sebagai pemain di era 1979-1992, McLaren hanya berkutat di tim-tim ayam sayur di luar Liga Utama Inggris a.l. Hull City, Derby County, Lincoln City, Bristol City dan Oxford United.

Karirnya berhenti di usia 27 tahun karena cedera setelah itu McClaren memulai karirnya sebagai asisten pelatih di tim usia muda Oxford untuk kemudian pindah ke tim senior klub Derby County.

Selama di Derby Country, McLaren berjasa membantu pelatih Jim Smith membawa Country di Liga Utama Inggris di era 1995-1996. Berkat hal tersebut Manchester United menariknya tahun 1998 untuk menggantikan posisi Brian Kidd sebagai pembantu Sir Alex Ferguson.

Karir kepelatihan McClaren baru terjadi saat ditawari menukangi Middlesbrough tahun 2001. Hasilnya memang lumayan, di tangannya klub berjuluk The Boro itu meraih Carling Cup 2004.

Puncaknya tentu saja saat berhasil membawa Middlesbrough hingga ke pertandingan puncak Piala UEFA 2005-2006. Sayang di partai puncak The Boro gagal menampilkan perlawanan menawan ketika menang dramatis atas Steaua Bucharest di Stadion Riverside.

Pada partai puncak itu, pasukan McLaren hanya bisa terperangah dipermainkan oleh kecepatan anak-anak asuhan Juande Ramos dan menyerah digunduli empat gol tanpa balas.

Dengan prestasinya itu, tak heran jika publik Inggris terperangah saat Federasi Sepakbola Inggris usai Piala Dunia tahun 2006 lalu, menunjukkan pelatih berusia 48 tahun itu untuk menggantikan posisi Sven-Goran Eriksson.

Saat itu publik Inggris ragu, karir McLaren sebagai pelatih yang tak ubahnya seekor kucing yang harus menghela singa-singa muda Inggris yang terbiasa ditangani pelatih berkualitas.

Hasilnya tragedi terjadi Wembley, pendukung Inggris harus terisak menyanyikan ‘God (Not) Save The Queen’ diiringi cabikan gitar pelatih Kroasia Slaven Bilic. Selamat tinggal Inggris selamat berpisah McLaren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: