it’s about all word’s

AIDS: Kapitalisme sampai kondom

Posted on: November 30, 2007

Akhir November lalu Arie, perempuan berumur 29 tahun itu tampak segar saat mendaftar check up di Pokdisus RSCM Jakarta. Arie pernah jadi wartawati majalah hiburan terbitan Jakarta, profesi yang membuatnya lekat dengan isu-isu musik dan pertunjukan.

Sebelum jadi jurnalis, perempuan yang tinggal di Bekasi ini pernah berprofesi sebagai sekretaris sebuah perusahaan besar nasional di bidang ritel. Di perusahaan itu posisinya sudah lumayan tinggi dan hampir memegang peran kunci.

Namun tes medis menyatakan dia terinfeksi HIV/ AIDS membuat upaya yang dia rintis semenjak lulus kuliah tidak berguna. “Saya syok dan sempat tidak terima,” kata dia.

Sejak duduk kuliah, Arie pengguna narkoba memakai jarum suntik (IDU). Tukar menukar jarum suntik pun biasa dilakukan saat menikmati narkoba.

Akibat vonis itu, dia memilih hengkang dari tempatnya bekerja. “Yah, daripada dikeluarkan perusahaan lebih baik aku keluar sendiri. Aku juga jaga-jaga agar teman-temanku tidak tahu kalau aku kena HIV,” ujar dia.

Lain cerita dengan Ivan (32) gara-gara HIV/ AIDS dia kesulitan untuk cari kerja dan selalu gagal ketika tes kesehatan. Akibatnya, dia akhirnya memilih untuk membuka usaha sendiri.

Ivan tertular HIV/AIDS melalui hubungan seksual berisiko. Saat berumur 20-an, dia aktif menyambangi lokalisasi. Saat jajan pria asal Condet ini ogah mengenakan kondom.

Arie dan Ivan contoh kecil usia produktif yang tertular HIV/ AIDS. Depkse mencatat sampai September 2007, 10.384 orang terkena AIDS. Dari jumlah itu 53,8% besar berada di kelompok usia 20-29, disusul kelompok usia 30-39 (28%).

Penyebab tertinggi didominasi IDU, namun perlahan jumlah penularan melalui hubungan seksual (hetero seksual) mulai meningkat sejak sebulan terakhir. Prosentasenya mencapai 48,2% tipis di atas IDU yang 46,6%.

Padahal setahun lalu penularan melalui hubungan seksual (hetero seksual) baru 42% kalah jauh dibanding penularan lewat IDU sebesar 52,8%.

Ekonomi terpengaruh

Terlepas dari metode penularannya, HIV/AIDS tentu mempengaruhi kinerja perekonomian Dan hal itu terkait erat dengan kelompok usia yang menjadi mayoritas pengidap virus ini.

Beberapa waktu lalu Organisasi Buruh Internasional (ILO) merilis hasil penelitian bahwa HIV/AIDS membawa dampak negatif bagi tenaga kerja dunia.

Menurut ILO pada 2005 HIV/AIDS menewaskan hampir 3,5 juta orang usia kerja. Dan akibatnya, lebih dari satu juta lowongan kerja hilang setiap tahun akibat penyakit ini.

Jika penyakit itu tak terkendali, tiga tahun lagi jumlah pengidap HIV/AIDS di usia produktif bisa naik menjadi 45 juta. Dan pada 2020 jumlah tersebut naik dua kali lipat.

Berdasarkan temuan ini, ILO memperkirakan 1,3 juta pekerja baru hilang tiap tahun. Selama periode 1992 hingga 2004, virus itu mengurangi laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara rata-rata 0,5%.

Sadar pertumbuhan pengidap HIV/ AIDS terus meroket, beberapa perusahaan dalam negeri mendirikan Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA) untuk memerangi penyebaran penyakit tersebut di dunia kerja.

Beberapa perusahaan dalam IBCA a.l. Sintesa Group, Gajah Tunggal, Sinar Mas Group, PT Freeport Indonesia, BP Indonesia, Chevron, dan PT Unilever Indonesia Tbk.

Menurut Shinta Widjaja Kamdani dari Sintesa Group rata-rata perusahaan di Asia mengucurkan 5,9% dari total gaji untuk menanggulangi masalah HIV/AIDS ketika pegawaianya terjangkit penyakit ini.

“Sebab kalau dalam sebuah perusahaan ada yang terkena HIV/AIDS, itu efek ekonominya sangat tinggi. Dan itu akan berpengaruh dengan bottom line perusahaan tersebut,” kata dia.

Tanpa adanya penanganan yang serius, lanjut Shinta yang aktif di Yayasan AIDS Indonesia (YAI) itu, penyebaran AIDS di Indonesia akan mengancam produktifitas pekerja dan akhirnya menyebabkan kerugian besar bagi dunia usaha di Indonesia.

Untuk itu perusahaan-perusahaan dalam IBCA mulai aktif melakukan langkah pencegahan diri untuk internal dan eksternal. Salah satunya PT Gajah Tunggal yang meminta para karyawannya melakukan cek kesehatan.

Menurut bos PT Gajah Tunggal Catharina Widjaja pihaknya menjamin pegawai yang terinfeksi HIV/ AIDS tidak akan dipecat . “Kami tetap memperlakukan mereka sebagai karyawan, dan kami melakukan treatment secara confidential.”

Hal serupa juga dilakukan oleh PT Freeport Indonesia yang hampir semua operasi perusahaan dilakukan di tanah Papua.

Selain melakukan sosialisasi kepada karyawan mengenai seluk beluk HIV/ AIDS, perusahaan itu juga memberi penyuluhan bagi masyarakat sekitar wilayah pertambangan.

Sampai saat ini Papua adalah wilayah yang memiliki prevelensi terjangkiti HIV/ AIDS yang tinggi. Bahkan jika dihitung secara statistik jumlah penduduk Papua yang terjangkit lebih besar dari DKI Jakarta.

Langkah menarik dilakukan DKT Indonesia, produsen kondom Fiesta itu beberapa waktu lalu mengumpulkan 108 mucikari dari sekitar 50 lokalisasi yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Menurut Field Representatif DKT Indonesia, Mokhtar disosialisasikan kepada para mucikari itu agar lebih memperhatian para pekerja seks mereka agar selalu menggunakan kondom ketika melayani pelanggan.

Play hard but safety

Kondom? Aih. Siapa sih tak kenal. Kantung karet tipis transparan ini makin ngetren sejak pertumbuhan penduduk dunia dirasa harus direm, mencegah kehamilan yang tak direncanakan hingga menghindari penyakit kelamin.

Diperkirakan kondom mulai dipakai sejak seribu tahun sebelum Masehi di Mesir kuno. Mulai dari bahan linen, usus hewan dan berbahan dasar karet warna-warni.

Di Indonesia, kondom marak dipakai sejak pemerintah Orde Baru mencanangkan program Keluarga Berencana (KB). Secara terstruktur selama 30 tahun berbagai alat kontrasepsi disebarkan ke pelosok Nusantara. Kondom jadi salah satunya.

Sempat hanya jadi barang tertawaan sembari malu-malu. Pamor kondom meroket karena HIV/ AIDS yang muncul di Indonesia. Ketika seorang wisatawan homoseksual asal Belanda berusia 44 tahun meninggal di RS Sanglah, Bali pada 1987.

‘Berkat’ peristiwa itu Indonesia menjadi negara ke-13 di Asia yang melaporkan kasus HIV/ AIDS ke WHO.

Selama rentang 1987-2007 Depkes mendapati 5.904 kasus HIV sementara 10.384 sudah terjangkit AIDS. Dari jumlah itu, 2.287 meninggal dunia. Dan seperti gunung es banyak kasus HIV/AIDS yang tak terdaftar. Tahun lalu saja diperkirakan ada 176.000 hingga 247.000 orang terinfeksi HIV/ AIDS.

Menurut Asisten Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Inang Winarso, saat ini pola penyebaran HIV/ AIDS berubah. Sebelumnya lebih banyak karena penggunaan jarum suntik napza tak steril kini karena hubungan seksual tak aman.

“Itu adalah indikasi bahwa tingkat pemakaian kondom sangat rendah sehingga memudahkan penularan virus HIV melalui hubungan seksual. Ini berbeda dengan penularan lwat jarum suntik yang belakangan stabil dan tak menunjukkan peningkatan,” ujarnya.

Dari jumlah itu, sekitar 80% penyakit ini diidap golongan masyarakat usia produktif. Salah satu alasannya, menurut Shinta Widjaja Kamdani dari Yayasan AIDS Indonesia (YAI) karena masyarakat usia produktif memiliki moblitas yang tinggi dan interaksi yang luas.

“Akibatnya, banyak penduduk usia produktif terkena HIV/ AIDS. Ini berbeda dengan golongan usia lainnya yang memiliki mobilitas lebih rendah,” kata dia.

Pencegahan penularan HIV/AIDS yang paling efektif tetap setia pada pasangan. Selain keluarga tetap utuh, cara itu tidak ada risiko sama sekali tertular penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS (tentu bila keduanya bersih dari PMS dan HIV/AIDS).

Meski kondom adalah pengaman, karena bersifat buatan. Benda ini kerap memicu persoalan. Terutama sensasi kenikmatan di atas ranjang.

Sebut saja Indra. Laki-laki yang bekerja di sebuah perusahaan swasta bergerak di bidang kontraktor di bilangan Senayan itu mengaku tak merasakan sensasi apapun ketika pakai kondom.

Alasannya, kondom menghalangi gesekan antara kulit penis dan dinding vagina. Beda saat tak pakai kondom. Dia mengaku bisa menikmati “permainan” tanpa “terinterupsi” benda yang terbuat dari lateks itu.

Tak hanya kaum pria yang ogah pakai kondom. Banyak juga perempuan sebagai pihak yang berkepentingan dengan kehamilan justru menolak penggunaan kondom.

Sebut saja artis seksi Julia Perez dan diva musik pop Krisdayanti yang mengaku tak suka dan tak nyaman jika pasangannya memakai kondom kala memadu kasih.

“Aku sama suami kan nggak pernah pake kondom. Aku soalnya nggak terlalu suka,” kata artis yang tampil menggoda untuk kondom Sutra dan juga kolektor ratusan kondom itu.

Alasan lebih gamblang diungkapkan Krisdayanti. “Kayak ada yang ngganjel [mengganjal],” komentar diva yang biasa disapa KD singkat ketika sang suami Anang memakai kondom.

Komentar KD senanda dengan sebut saja Mimi, perempuan cantik pedagang obligasi yang sering wara-wiri Jakarta-Singapura ini mengaku lebih suka kalau pasangannya tak memakai kondom.

“Soalnya lebih nikmat. Kalau pakai kondom. Gimana ya. Tapi pakai kondom itu aman, Mencegah kehamilan dan penyakit,” ujar perempuan yang pernah lama tinggal di Belanda itu.

Tak hanya besar tapi juga teknik

Bisa jadi alasan itu yang menyebabkan rasio penggunaan kondom di Indonesia tergolong rendah. Selain itu, masalah kultur tak boleh dikesampingkan Masih banyak masyarakat yang malu membeli kondom.

Lihat saja statistiknya. Saat ini dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, rasio penggunaan kondom di Indonesia hanya 100 juta/ tahun. Bandingkan dengan Thailand. Hanya memiliki 80 juta jiwa tapi dalam setahun memakai 200 juta kondom..

Sebenarnya masalah enak tak enak memakai kondom adalah soal persepsi. Kalau pun tidak merasa nyaman dengan bau lateks, kini ada beragam pilihan. Mulai dari strawberry, apel, pisang, coklat, durian dan sebagainya.

Jika tak suka buah, ada jenis kondom yang dilengkapi fitur khusus demi sensasi khusus a.l. bergerigi, berbintil-bintil, dan berulir.

Bagi pasangan yang suka sensasi, bisa memakai kondom yang bisa menyala di kegelapan, kondom bergetar, kondom yang meninggalkan tato hingga kondom dengan semacam sungut di ujungnya.

Sejauh ini pabrikan kondom dalam negeri yang cukup inovatif adalah DKT produser Fiesta.

Menurut Country Director DKT Indonesia Christopher Purdy, kondom beraneka ragam itu ditujukan untuk menjaga agar tetap ada sensasi saat berubungan seksual, kendati saat itu seseorang memakai kondom.

“Kondom-kondom itu cukup aman, karena telah memenuhi standar internasional. Sebelum dilempar ke pasaran, kondom-kondom itu dites secara elektronik,” kata dia.

Menilik banyaknya kondom yang beredar di pasaran, sebenarnya tak ada alasan bagi seseorang bahwa mengenakan kondom akan mengganggu kenyaman saat berhubungan intim.

Menurut Chris justru dengan kondom seseorang ditantang untuk mengoptimalkan kemampuan seseorang saat berhubungan seksual. “Jadi saat berhubungan tidak hanya berbekal penis saja, namun juga harus melibatkan perasaan,” kata dia.

“Pakai kondom aman. Saya pemakai setia, sudah pakai lima tahun dan belum pernah bocor. Soal enaknya juga sama saja,” dukung Shisy, mojang Sunda yang memiliki kekasih berdarah Eurasia.

Ya, di sinilah peran kondom. Di satu sisi seseorang dituntut untuk mengoptimalkan kemampuan bermain asmara. Sedang sisi lain memproteksi pasangan dari kemungkinan kehamilan yang tak direncanakan dan tertular penyakit menular seksual.

2 Responses to "AIDS: Kapitalisme sampai kondom"

Lo pakai gak? Hehehe :p

serasa pake celana panjang ketika renang…gitu han

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2007
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: