it’s about all word’s

Andrea Hirata: Tukang kabel, novel laris dan Tibet

Posted on: December 4, 2007

Minat baca masyarakat Indonesia agak seret memang cerita lama. Tak heran jika penulis yang bisa hidup dari dunia menulis termasuk jarang, makin sedikit lagi buku-buku sastra bermutu yang laku.

Usai booming sastra wangi, genre sastra para penulis perempuan Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari lalu tren chicklit yang digilai Anak Baru Gede (ABG) kini giliran Andrea Hirata Seman dengan sastra tengahnya

Sastra tengah mengawinkan nilai-nilai universalitas Islam dengan menyediakan keluasan berpikir Sosialisme. Dengan ramuan ini tetralogi Laskar Pelangi karya karywan PT Telkom, Bandung itu diterima di semua lapisan

Tidak saja laris manis digilai gadis-gadis berjilbab, nilai-nilai humanisme yang ditawarkan membuat tiga sekolah Katolik menjadikannya bacaan wajib a.l. Kanisius (Jakarta), Stela Deuce (Yogyakarta), dan St.Albertus (Malang).

Dari angka penjualan, analis keuangan jebolan Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, Inggris dalam setahun sudah berhasil menjual lebih dari 100.000 buku, jumlah yang luar biasa bagi bisnis buku di Indonesia.

Untuk buku Laskar Pelangi saja, dalam hitungan satu bulan sudah mendapatkan keuntungan lebih dari Rp500 juta.

“Dalam penelitian di indonesia satu buku dibaca lima orang, kalau dihitung sudah 1,5 juta orang yang ikut terpengaruh atau paling nggak sudah baca buah pikiran saya,” ujar penyuka musik jazz itu di Café Au Lait, Ckini beberapa waktu lalu.

Toh meski popularitas penulis top sudah digenggamnya, anak keempat dari pasangan N.A. Masturah dan Seman Said Harun itu enggan menyandang gelar penulis.

“Saya belum berani bilang diri saya penulis karena saya bisa bilang tulisan itu memberikan peluang besar kepada seorang penulis itu untuk memperlihatkan kecerdasan sekaligus ketololannya,” kata pria asal Bangka itu

Dengan kata lain beban sebagai penulis sangat besar. Melalui bukunya penulis memiliki kemampuan mengubah cara pandang maupun perilaku seseorang yang membaca buah pikirnya. “Hidup saya menjadi tak mudah karenanya!”

Sebagai penulis memiliki kewajiban mencerahkan pembaca dengan menyajikan karya yang tekstual dan kontekstual. Artinya, mengandung nilai sastra yang tinggi tapi mampu menyentak pembaca tentang kehidupan di sekitarnya.

Hal ini bukan sesuatu yang gampang mengingat banyak penulis yang menghasilkan karya sastra dengan teknis penulisan sangat bagus, tetapi tak meninggalkan rasa bagi pembacanya.

“Justru cita rasa dalam sebuah karya yang sangat penting, sementara teknis penulisan merupakan hal yang dapat dipinggirkan. Untuk apa karya jika tidak dibaca dan meninggalkan bekas di benak pembacanya,” tutur dia.

Kondisi ingin dinilai sebagai penulis sastra yang hebat dan bersembunyi di balik keagungan idealisme dan cenderung menyalahkan penerbit atau menuduh pembaca di Indonesia masih bodoh ketika buku yang dihasilkan tak laku di pasaran.

“Dengan dalih idealisme tapi juga menceburkan diri dalam industri penerbitan. Itu munafik. Akui saja, jika tidak berhasil membuat buku bagus untuk dibaca, sebenarnya itu adalah penulis yang gagal,” ujarnya gemas sembari menggebrak meja.

Pindah ke Tibet

Satu kunci membuat sastra terasa akrab adalah harus benar-benar lahir dari spontanitas. Letupan kesembronoan yang disebut Andrea justru menghasilkan satu karya yang menakjubkan.

Penulis yang berhasil, lanjut dia, adalah mampu membuat pembaca secara maya seakan-akan berdialog dengan penulis dan dapat ikut berimajinasi secara liar di antara setiap paragraf yang tercetak di atas kertas.

Jika dicermati dalam tiga karya dari empat buku tetraloginya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpin, dan Edensor akan ditemukan visualisasi suatu kejadian yang tak tercantum arti sebenarnya dalam Bahasa Indonesia.

Istilah jalanan yang justru memudahkan pembaca mengerti dan menangkap esensi dari setiap kalimat yang terjalin.

“Saya ingin melukis di benak pembaca. Melompat dalam kepala pembaca, berteriak dan berdialog dalam kepala mereka. Saya ingin masuk dalam pusat kesadaran pembaca, melihat mereka berimajinasi atas setiap paragraf yang dibacanya,” tuturnya.

Sebagai sebuah industri, idealisme harus berkompromi dengan perhitungan bisnis yang artinya untung dan rugi, sehingga penulis harus hidup hanya dari royalti penulisan buku.

Saat ini ada angka sakral di industri buku Indonesia adalah 2.000 buku per tahun untuk mendapatkan royalti yang sepadan. Wajar saja karena untuk di Indonesia saat ini penulis pemula hanya mendapatkan royalti kurang dari 10% saja.

Dengan standar royalti yang kini diterimanya, Andrea mengaku bisa hidup dengan karyanya. Jika untuk satu judul Laskar Pelangi dia mendapat Rp500 juta artinya untuk dua buku saja dia sudah meraup semiliar dari penerbit Bentang Pustaka, Yogyakarta.

“Tapi uang bukan prioritas. Sebelum ditawar oleh [rumah produksi] Miles, Laskar Pelangi pernah ditawar hampir Rp1 miliar oleh orang [produser] yang biasa buat sinetron, saya tolak. Saya lihat sinetron yang dia buat, aduh ngga kebayang deh,” ujarnya sembari bergidik.

Dengan pendapatan tersebut, lajang yang sudah empat kali mendapat kiriman pakaian dalam perempuan itu mengaku ingin segera pindah dan menetap ke wilayah Tibet yang magis. “Rasanya dalam waktu dekat hal itu segera terwujud!” tegasnya.

19 Responses to "Andrea Hirata: Tukang kabel, novel laris dan Tibet"

Jujur saja, saya termasuk orang yang tercerahkan setelah membaca ke-3 buku Andrea: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor. Yang menakjubkan, karya Andrea bukan hanya bisa dinikmati oleh pembaca dewasa, tatapi anak-anak pun mampu menyerapnya. Ini saya buktikan dari anak saya, Nadhira (8 tahun), yang antusias terhadap Laskar Pelangi karena tertarik dengan tokoh-tokohnya. Ada banyak hal yang saya peroleh dari buku ini: persahabatan, keuletan, kejujuran, kesabaran, dedikasi, dll. Semua itu dengan jelas tergambar dari karakter tokoh-tokohnya. Menurut saya, penggambaran karakter yang sangat kuat ini merupakan kelebihan Andrea. Kalau langkahnya sebagai penulis ditindaklanjuti, saya kira bukan mustahil ia bisa menghasilkan karya spektakuler (bukan hanya memoar dirinya sendiri) sekelas Dan Brown. Terlebih, Andrea seorang analis yang menyukai pekerjaan riset. Dia punya kemampuan untuk menulis sesuatu yang lebih baik karena pengamatannya yang dalam. Sayang sekali dia harus pindah ke Tibet. Kenapa? Apakah ia menemukan Aling, cinta sejatinya, di sana? Wallahu’alam. Kenapa penulis tidak menjelaskan alasan Andrea untuk pindah ke Tibet? Itu bikin saya penasaran. Saya berharap, dimana pun Andrea berada, dia tidak melupakan Tanah Airnya, yang telah berjasa membesarkan namanya. Oke, saya tunggu karya Andrea berikutnya.

biarlah Andrea menyelubungi dirinya dengan misteri seperti soal umurnya dan soal cintanya.

Harapannya saya Andrea tak seperti Gola Gong atau Hilman yang terlalu produktif dan akhirnya malah membuat karya yang tak nyaman saya baca sembari nyeruput kopi

Terus terang sejak membaca novel pertamanya Laskar Pelangi. Saya sangat antusias sekali menunggu kelanjutan tetralogi yang terakhir yaitu Maryamah Karpov, sebenarnya siapa sih dia. Apakah pernah disinggung dalam novel sebelumnya.
Menurut saya Laskar Pelangi sangat membumi, dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi yang saya. Excited banget membaca Laskar Pelangi itu, saya hanyut terbawa novel itu, tertawa dan menangis dibuatnya.
Gile banget…. top abis.

waduh maryamah karpov tak saya tanya…tapi tenang saja. ibu bos renjana yang akhir tahun lalu main-main ke belitung sudah memberi sinyal…buku baru andrea segera terbit…barangkali mahluk itu bakal muncul lagi

selamat menunggu

Bangsa Indonesia patut bangga memiliki A. Hirata yg rela membuka keunikan, kejayaan sekaligus ketololannya, yg mungkin bg sementara org cukup dikenang sendiri, sampai2 mampu menggeser mendung kelabu cebol2 yg lama mengokupasi keberanian dan kejujuran jiwa kita.

Kita bisa menjadi sekelas A. Hirata jika kita mau. Am I right? Yes!

sayang kalah di KLA ya

dear bpk algooth yang terhormat..

aku ingin tanya satu hal, bpk al kan sudah mewawancarai andrea dan dhipie pengen tau nihh..andrea sudah menikah yahh..???

belonnnnnnnnnnnnn…masih membujang

dear bpk algooth..

saya baca di salah satu blog katanya ada yg mengaku andrea sudah menikah sebelum ke perancis. dan katanya di data pegawai telkom andrea sudah beristri. jadi bingung…
bpk al kan kemaren wawancara andrea kira2 berita ini beneran atau gosip yahh..??

gosip tuhhhh…tapi november nanti semua fans yg ngebet ama andrea bakal gigit jari hehehehe

dear bpk algooth yg terhormat…

ada apa di bulan novemberrrr??????
andrea jadi ke tibet yahh??
atau
andrea menikah??
atau
dia berusaha menghilang dari peredaran..

dibulan2 itu kan kayaknya pas film laskar pelangi louncing dan maryamah terbit??

kayaknya andrea gak siap yahh jadi penulis super terkenallll…

hehehehehe liat ajah…orangnya sedang pulang kampung…

duhhh..bapak algooth.. kok pake rahasia segala…
ada apa yahh di bulan november?
andrea memang lagi pulang kampung ibunya lagi sakit kan?

bapak algooth blog nya bagus nihh, sarat makna dan menambah pengetahuan buat saya. nuhunn yahh kalo saya sering nengok blognya.

Andrea telah menuliskan sebuah karya yang dibutuhkan bangsa ini. karena, ditengah banyaknya anak banyak yang berputus asa karya Andrea telah membangkitkan jiwa yang mulai kalah tersebut.
saya berharap Andrea bisa menyentak kembali semua lapisan untuk bangun dan berkarya demi kejayaan bangsa ini.
saya titip pesan untuk Bang Andrea,”Sudah saatnya anda membuka mata mereka yang terlena dengan kebodohan.”

Andrea telah menuliskan sebuah karya yang dibutuhkan bangsa ini. karena, ditengah banyaknya anak bangsa yang berputus asa karya Andrea telah membangkitkan jiwa yang mulai kalah tersebut.
saya berharap Andrea bisa menyentak kembali semua lapisan untuk bangun dan berkarya demi kejayaan bangsa ini.
saya titip pesan untuk Bang Andrea,”Sudah saatnya anda membuka mata mereka yang terlena dengan kebodohan.”

Saya setuju, karena saya juga turut merasakan semangat itu loh!!!!
Yang dulu semangat saya kendur ato boleh di bilang mati tapi setelah baca buku itu saya jadi pengen bangkit terus bahkan tak segan segan untuk berlari teru dan terus……

eh da pa om bulan nov?
my dear mo nikah ya.
alhamdulillah.
ya meski ane patah hati, sungguh senang hati ini melihat sang terkasih berbahagia.
n juga menghilangkan su’sdzon q.
begini, mf ya my dear.
wkt ngeliat doi di kick andi gua ngomong “kok gitu ya gayanya (ngomongnya kemayu)”
trus temen q bilang “MUNGKIN DIA ITU GAY”
sejak saat itu q mikir terus,pa benar yang di omongin ma mbak reni, la soalnya dia sampe sekarang jg belon nikah.
ditambah lagi waktu aku melihat ketakjuban doi atas kejantanan Arai dalam sang pemimpi. HAMPIR AJA AKU PERCAYA!!!
ya sudahlah. OM SAMPAIKAN MF Q YA MA Aa’ ANDRE.
“mfkan ane n rencang kulo nggeh my dear n semua yang tersinggung.”
bulan madu di tibet okrek juga.
ROMANTIS!!!
judulnya “REKO-REKO TEMANTEN ANYAR”
SIIIIIP!!!
gimana cara gabung ke perpusnya om???

eh om nggak nulis soal perpusnya ya, sr slh alamat.

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: