it’s about all word’s

Charles David Keeling: CO2 watcher

Posted on: December 4, 2007

Suka duka pengamat asap

Pemanasan global dan perubahan iklim. Dua kata yang paling sering dibicarakan semua orang seiring digelarnya Konferensi Para Pihak Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) yang membahas nasib Protokol Kyoto dan masa depan penyelamatan Bumi.

Bertemunya negara-negara maju dan berkembang duduk sama rendah berdiri sama tinggi dalam kadar antusias yang sama untuk mengatasi perubahan iklim akibat pemanasan global ini tentu membuat tersenyum dua sosok ilmuwan yang sama-sama sudah almarhum.

Pertama ilmumuwan Perancis, Jean-Baptiste Fourier yang melahirkan hipotesis pemanasan global pada 1896. Ketika itu pernyataannya tentang berbagai jenis gas di atmosfer Bumi akan memerangkap radiasi Matahari sehingga tidak dapat memantul ke ruang angkasa dan memanaskan bumi dianggap lelucon.

Sementara yang kedua, ilmuwan AS, Charles David Keeling yang dikenal dengan temuan ‘Keeling Plot’ dan ‘Keeling Curve’ yang menjadi dasar pencuplikan data dan pengolahan jumlah karbon dioksida di atmosfer.

Keeling dianggap perintis penelitian kandungan jumlah CO2 karena pada 28 Desember 1957 memulai program penelitian global dengan mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung dan lautan terpencil.

Pria kelahiran Scranton, Pennsylvania, 20 April 1928 jebolan Universitas Illinois dan Universitas Northwestern itu bergabung ke Scripps Institution of Oceanography yang dipimpin Roger Revelle pada 1956.

Setahun kemudian mereka membentuk program penelitian global (International Geophysical Year) yang didukung bos pusat penelitian iklim AS Harry Wexler untuk mengambil sampel atmosfer dari puncak gunung Mauna Loa di Hawai dan Kutub Selatan.

Keeling mendapati terjadi lonjakan jumlah karbondioksida (CO2) di atmosfer. Setelah itu, komposisi dari atmosfer terus diukur dengan cermat. Data yang dikumpulkan menunjukkan terjadi kenaikan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Tentu butuh waktu puluhan tahun untuk mendapat bukti yang tepat dan suatu kecenderungan yang jelas, sebab temperatur terus bervariasi dari waktu ke waktu dan dari lokasi yang satu ke lokasi lainnya.

Lambatnya pencatatan dan keterbatasan sumber daya itu sampai membuat Lembaga Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat memutus dana bagi peneliti yang biasa disapa Dave itu pada 1960.

Beruntung datang bantuan dari Badan Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA) atas rekomendasi komite penasihat kepresidenan untuk ilmu pengetahuan semasa pemerintahan Lyndon B. Johnson.

Bujet penelitian yang ketika itu dianggap aneh ketika kantung Paman Sam cekak untuk perang Vietnam. Dengan dana itu guru besar ilmu kelautan Universitas San Diego itu bisa memperluas jaringan pemantauan emisi CO2.

Berkat jaringan ilmuwan yang dibentuknya, Dave sukses menggaet para peneliti hebat di bidang lingkungan a.l. Willem Mook of Gronigen (teknik penggunaan isotop), Bob Bacastow (peneliti El Nino), Bert Bolin (siklus karbon dunia).

Tak dianggap

Hasilnya di akhir 1980-an kurva Keeling sempat mendapati kecenderungan penghangatan Bumi tetapi persentasenya terlalu kecil sehingga tak dipercaya sebagai sebuah temuan yang pantas diganjar perhatian lebih.

Bahkan temuan Dave kalah seksi ketika Joe Farman bersama tiga ilmuwan tim Survei Antartika Inggris menyampaikan temuannya tentang lubang lapisan ozon di atas Antartika pada 1985.

Temuan yang kemudian melahirkan Protokol Montreal 16 September 1987 atau sepuluh tahun lebih cepat dibandingkan Protokol Kyoto yang baru ditandangani pada Desember 1997.

Toh meski dianggap angin lalu Dave tetap tekun dengan keyakinannya bahwa CO2 yang dilepas dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak, batu bara, dan gas alam) akan berakhir di atmosfer.

Sebagai ilmuwan, Dave harus melawan asumsi yang umum bahwa konsentrasi CO2 akan meningkat dari satu tahun ke tahun berikutnya dan atom CO2 akan bersenyawa di atmosfer.

Untuk itu menurut Andrew Manning peneliti University of East Anglia, Inggris, Dave sejak 1990 harus sering kurang tidur karena penelitiannya mulai ditentang yang artinya mengancam dana penelitian yang memang mahal tersebut.

Belakangan penelitian panjang pria yang jago memainkan piano itu mulai diperhatikan dunia terlebih ketika makin banyak mulai sadar tentang pemanasan global dan perubahan iklim yang berujung pada penandatangan Protokol Kyoto.

Beragam penghargaan pun datang termasuk dari pemerintah AS yang sampai saat ini ogah ikut ambil bagian dalam protokol pengurangan emisi karbon meski ditinggalkan Australia.

Simpati publik makin menjadi-jadi ketika setahun setelah Dave menerima penghargaan diterbitkan autobiografinya ‘Rewards and penalties of monitoring the Earth’ yang berisi suka duka berjuang untuk melakukan penelitian CO2.

Untuk dedikasinya pada ilmu pengetahuan Presiden George W. Bush kemudian menganugerahinya Medali Nasional Ilmu Pengetahuan, penghargaan tertinggi bagi seorang ilmuwan di AS pada 2002.

Sayang dedikasi Dave tak cukup memberinya nama untuk meraih gelar Nobel hingga pria dengan lima anak dari pernikahannya dengan Louise Barthold itu mangkat akibat serangan jantung pada 2005 pada usia 77 tahun.

Sampai detik ini, melalui mekanisme Global Atmosphere Watch oleh Badan Meteorologi Dunia (WMO) pengukuran CO2 sudah dilakukan di 100 tempat di seluruh dunia. Satu hal yang dulu membuat Charles David Keeling sulit tidur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: