it’s about all word’s

Unud dan jaringan alumni

Posted on: December 12, 2007

Masih bersambung dengan tulisan Unud sudah mencerdaskan. Artikel ini saya tulis 16 April 2004. Bisa jadi dah ngga pas dengan kondisi sekarang

Di Umur 41 Tahun Sudahkan Unud Menciptakan Jejaring Pendidikannya ?

Suatu universitas tidak dinilai dari berapa jumlah mahasiswa dan berapa banyak jumlah dosen pengajarnya, tetapi oleh berapa banyak publikasi ilmiah dan karya ilmiah yang diakui secara internasional, dan diaplikasikan oleh dunia industri. Karya dan publikasi tersebut merupakan jalinan awal jejaring pendidikan (Education Network) bagi universitas dan lulusan universitas tersebut, ini adalah pondasi integritas Unud di mata dunia internasional. Tanpa hal itu sulit bagi Unud untuk bisa sejajar dengan universitas top di Indonesia seperti UI, UGM, dan IPB, yang pada kenyataannya juga masih golongan strata bawah universitas top se-Asia.

Percuma saja memiliki banyak dosen lulusan luar negeri yang cemerlang saat menempuh pendidikannya, namun saat kembali dan mengabdi di Unud kemampuan orang-orang tersebut mandul, akibat tidak adanya atmosfer ilmiah yang independen dan budaya yang lebih suka Ajeg Mandeg, alias kerapkali mencibir ide-ide orisinil. Pada kenyataanya ide orisinil dari ilmuwan Unud masih jarang ditanggapi secara sehat dan wajar oleh pemerintah daerah Bali secara umum dan individu Unud khususnya.

Sudah menjadi rahasia umum kalau orang-orang cemerlang seringkali memiliki ide yang aneh-aneh–bahkan boleh dibilang–gila bagi lingkungannya. Tinggal bagaimana budaya dan lingkungan orang-orang tersebut mampu menerima secara wajar, dan (mungkin) malah memacu orang-orang tersebut makin kreatif berkreasi. Hal yang harus secara jujur saya katakan agak sulit ditemukan di Unud.

Budaya yang mengharuskan bertenggang rasa, hormat-menghormati orang yang lebih tua sering kali menjadi hambatan bagi mahasiswa dan dosen Unud untuk dapat saling berinteraksi, berdebat dan mencari titik temu secara ilmiah. Akibatnya seringkali mahasiswa–terpaksa harus–segan dan menahan diri saat harus bertanya dan menyanggah pendapat seorang dosen, yang pada kenyataannya sering–dirasa–ketinggalan jaman. Hal yang sama berlaku juga pada dosen muda saat berhadapan dengan dosen seniornya. Jika hal tersebut dilanggar maka seringkali faktor like and dislike harus mengalahkan profesionalitas dan integritas penilaian terhadap individu yang dinilai sebagai pembangkang.

Selain itu apakah gap antara mahasiswa pendatang dan mahasiswa asli Bali sudahkah dieliminir seminimal mungkin ?. Sudahkah Unud mau menghargai perbedaan budaya dan agama yang dibawa oleh mahasiswa pendatang tersebut ?. Hal yang jelas-jelas sudah harus dipisahkan dalam dunia pendidikan ? Apakah dengan alasan mempertahankan Ajeg Bali, lalu Unud harus anti dengan revolusi kemajuan informasi dan aplikasi teknologi yang didapat oleh mahasiswa ?. Dapatkah dengan mempertahankan hal tersebut, Unud dapat bersaing dalam laju globalisasi teknologi dan informasi ?. Setelah membangun tembok di sekeliling kampus Denpasar–yang dibangga-banggakan oleh Unud–dan membuat masyarakat tidak mudah lagi melongok kedalam Unud seperti layaknya universitas lain. Lalu apa yang dilakukan Unud untuk menghapus stigma istitusi menara gading pendidikan ?.

Sudahkah Unud menghargai dan memberikan penghargaannya kepada para mahasiswa dan alumninya ?. Kalau kita melihat hubungan antar alumni universitas-universitas top di Indonesia begitu akrab dan erat, apakah hal yang sama terjadi di Unud ?. Apakah seorang alumni Unud memiliki rasa ikatan hati dengan almamaternya, sehingga rasa untuk memberikan input nyata pada almamaternya seperti alumni universitas-universitas top di Indonesia.

Mesti disadari oleh Unud, jaringan yang kuat dengan alumni merupakan jalinan jejaring pendidikan yang tak kalah penting. Bukan iri atau menghakimi alumni universitas-universitas top di Indonesia yang menjadi petinggi atau pejabat di lingkungan pemerintah dan swasta, kalau mereka akan selalu mendahulukan lulusan dari almamaternya sebagai bawahannya. Tidak salah memang, karena akan sulit bekerja dengan orang tanpa rasa percaya terhadap kemampuan individu tersebut. Pertanyaannya sudahkah hal tersebut dilakukan oleh dosen-dosen dan alumni Unud yang menjadi orang-orang penting ?. Tanpa memandang faktor suku, agama, ras dan golongan?

Dan sudahkan kiprah Unud di hargai oleh media pers lokal Bali dengan memberikan ruang pemberitaan dan kritikan yang jujur dan terbuka terhadap aktivitas pendidikan di Unud? Harus diakui secara jujur media lokal Bali terlalu berorientasi komersial. Padahal jika kita merunut perjalanan media lokal Bali di era 80-an pernah memberikan ruang tersendiri bagi civitas intelektual kampus Unud untuk menuangkan ide dan pendapatnya. Kini ? tidak ada lagi.

Ironisnya rangkaian Dies Unud, peluncuran buku dan lomba-lomba karya tulis ilmiah yang diadakan oleh civitas akademika Unud sering tidak mendapatkan ruang yang cukup di media lokal Bali, entah mengapa. Kurang komersil mungkin. Padahal cukup banyak alumni Unud yang menempati jabatan penting di media-media lokal Bali. Entah mengapa, lupa atau tidak peduli lagi. Sehingga pada akhirnya masyarakat lokal pun menjadi apatis terhadap Unud, bukan apa-apa tapi karena kurang publikasi. Ataukah karena tidak adanya seorang humas yang baik di Unud, tak ada yang tahu dan tak ada usaha untuk memperbaiki hal itu.

4 Responses to "Unud dan jaringan alumni"

Salah satu contoh nya adalah sedikitnya dosen UNUD dan Mahasiwa UNUD yang ngeblog (termasuk saya waktu masih mahasiswa)! Salam kenal..

salam juga

iya sedikit sekali yang ngeblognya, padahal saya pengen kenal alumni-alumni sana, terutama PSTP yg sekarang jadi FTP. oia aku pernah kuliah di PSTP UNUD, tapi berhenti. sekarang ngelanjutin di bogor. maaf bukannya, kurang bagus, tapi dulu lagi kesulitan ekonomi. sekarang juga sambil kerja, doain aja aku bisa ngelanjutin lagi, kalo ada waktu dan uang.
thank salam kenal

X PSTP 2002-2003

Salam sejahtera rekan-rekan alumni UNUD.
Sukses untuk semuanya, jangan cepat putus asa walau kita tidak sehebat rekan-rekan alumni UI, IPB dan UGM yang sudah punya jaringan persaudaraan kuat tebukti dengan gedung2 alumni yg kokoh dikota-kota besar seperti di jakarta contohnya. mereka wajar terdepan karena faktor fasilitas memang beda dg UNUD.
salam dari saya alumni PSTP angkatan pertama sebelum menjadi FTP UNUD.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: