it’s about all word’s

Unud sudahkah mencerdaskan?

Posted on: December 12, 2007

Siang ini saya betul-betul lapar, seluruh artikel mingguan telah selesai setor. Boz sudah mengijinkan saya untuk tak perlu berangkat ke Bandung. “Lo cukup ke Bali aja. Bikin rencana perjalanan tiga hari!

Sembari nunggu kiriman artikel dari PT Toyota Astra Motor (TAM), saya sempatkan mengintip email di Yahoo. Geli juga lihat perbicangan dalam milis alumni pers kampus Akademika. Segar dan nakal.

Terutama gugatan rekan Regina Phoenix yang biasa kusapa reginul tentang gemesnya saya dengan keleletan Unud menjawab kegelisahan warga Danau Batur. Saya jadi teringat tulisan lama yang saya simpan.

Saya menulis artikel ini 28 Agustus 2004 jadi sudah tiga tahun tersimpan di harddisk ketika masih jadi calon reporter.

Nah ini isinya. Mungkin saja masih relevan:

Universitas Udayana adalah universitas tertua dan terbesar di Bali, tempat yang telah melahirkan banyak intelektual pemikir di jajaran elite pemerintahan pulau Dewata. Sepuluh tahun yang lalu I Gusti Putu Artha–ketika menjadi Redaktur Harian Umum Bali Post–menulis artikel berjudul “Senangkah Engkau Menjadi Mahasiswa?” di buku Mahasiswa Bali yang diterbitkan Pers Mahasiswa “Akademika” Unud dalam rangka menyambut 50 tahun Indonesia Merdeka.

Dalam tulisannya Artha mempertanyakan kondisi Unud yang belum mampu berkiprah dalam kompetisi pendidikan tingkat nasional saat itu. Dan, ternyata setelah sepuluh tahun kemudian pertanyaan itu masih relevan saat kita mempertanyakan kiprah Unud sebagai institusi pendidikan yang mencerdaskan Bali.

Kembali dengan ide seorang Artha yang lalu bertanya apa yang salah dalam Unud. Maka, yang diotak-atik cuma itu-itu saja, seperti : bagaimana mengembangkan kampus Jimbaran, mengatasi masalah bis kampus dan menyelenggarakan kuliah ekstensi yang lebih menghasilkan duit. Tak ada niat membentuk mahasiswa Unud menjadi sosok intelektual yang dibekali kemampuan analisa andal, kredibel, dan berwawasan. Akibatnya Unud tak lebih sebagai industri pencetak kaleng dengan sertifikatnya. Mungkin juga dengan alasan inilah maka Artha berkeras untuk terus menjadi mahasiswa, entah.

Menarik juga komentar dari masyarakat yang terangkum dalam Warung Global interaktif Bali Post awal bulan ini yang pada umumnya masih memandang Unud sebagai sebuah menara gading.

Posisi Unud di Ajang Nasional

Sampai saat ini Unud telah memiliki banyak dosen lulusan luar negeri yang cemerlang saat menempuh pendidikannya, namun saat kembali dan mengabdi di Unud kebanyakan kemampuan orang-orang tersebut jadi mandul. Entah akibat tidak adanya atmosfer ilmiah yang independen Ditambah jarang muncul dukungan sehat dan antusias dari pemda Bali secara umum dan Unud khususnya.

Padahal kita tahu suatu universitas tidak dinilai dari berapa banyak gedungnya, berapa jumlah mahasiswanya dan berapa banyak jumlah dosen pengajarnya. Tetapi oleh berapa banyak publikasi ilmiah dan karya ilmiah yang telah diakui secara internasional, dan diaplikasikan oleh dunia industri.

Karya dan publikasi tersebut merupakan jalinan awal jejaring pendidikan (Education Network) bagi universitas dan lulusan universitas tersebut, ini adalah pondasi integritas Unud di mata dunia internasional. Tanpa hal tersebut akan sulit bagi Unud untuk bisa sejajar dengan universitas top di Indonesia seperti UI, UGM, dan IPB, yang pada kenyataannya ternyata juga masih golongan strata bawah universitas top se-Asia.

Jika dahulu Artha mempertanyakan mengapa intelektual Unud jarang mengulas permasalahan-permasalahan aktual di media cetak nasional dan mengapa harus selalu orang-orang dari UI, UGM, dan IPB. Mengapa mereka bisa begitu besar, dan mengapa kita cuma seperti kodok menjalani takdir dengan mencaplok nyamuk, dan si kodok sendiri suatu saat dicaplok ular?

Bahkan dalam hal menentukan ke arah mana Bali harus berkembang pun, intelektual dari luar Unud lah yang sangat dominan, mengapa bukan intelektual Unud ? Mengapa intelektual Unud sangat jarang mengulas tentang kondisi Bali sehingga terjadi pembentukan opini yang lebih berimbang. Mengapa dan mengapa tanpa pernah tuntas terjawab.

Menjadi yang tertua tentu memiliki tantangan untuk terus menjadi yang terbaik, Pembantu Rektor IV Unud, DR Wirawan dalam sebuah obrolan via sms dengan penulis pernah menyatakan sebenarnya Unud memiliki SDM yang diakui oleh mainstream pendidikan tinggi di dalam dan luar negeri.

Namun, beliau pun mengaku sejauh ini Unud masih belum mampu memanfaatkan media massa sebagai tempat untuk menunjukkan kualitas SDM sebagai think tank yang turut aktif memecahkan dan memberi solusi bagi permasalah-permasalah aktual yang sedang terjadi.

Sepertinya itu adalah pertanyaan yang masih relevan dipertanyakan. Intelektual Unud malas menulis karena malas membaca, ataukah karena memang kadar intelektualitas civitas Unud yang semakin tidak terasah hingga tidak sensitif lagi untuk menuliskan ide-ide segar di media massa. Entah dan–saya harap–semoga tidak, sebab saya pun mempertanyakannya.

Sebagai cermiann Web-site Unud sebagai sarana promosi dan informasi pun sampai saat ini jarang di perbaharui padahal sangat banyak SDM muda yang tersedia. Dapatkah dengan terus mempertahankan kemalasan menulis itu, Unud mampu bersaing dan dikenal dalam laju globalisasi teknologi dan informasi ?.

Unud dan Alumninya

Hingga kini sudahkah Unud menghargai dan memberikan perhatian pada alumninya ?. Kalau kita melihat hubungan alumni universitas-universitas top di Indonesia begitu akrab dan erat, apakah hal yang sama sudah terjadi di Unud ?. Apakah seorang alumni Unud memiliki ikatan dengan almamaternya, sehingga ada keinginan untuk memberikan input nyata pada almamaternya seperti alumni universitas-universitas top di Indonesia.

Karena jaringan yang kuat dengan alumni merupakan jalinan jejaring pendidikan yang tak kalah penting. Bukan iri atau menghakimi alumni universitas-universitas top di Indonesia yang menjadi petinggi atau pejabat di lingkungan pemerintah dan swasta, kalau mereka akan selalu mendahulukan lulusan dari almamaternya sebagai bawahannya.

Bukan sebuah sikap yang salah, karena akan sulit bekerja dengan orang tanpa rasa percaya terhadap kemampuan individu tersebut. Pertanyaannya sudahkah hal tersebut dilakukan oleh dosen dan alumni Unud yang menjadi orang-orang penting? Tanpa memandang faktor suku, agama, ras dan golongan?

Pada hari menjelang dies ini penulis berharap seluruh civitas Unud sadar untuk berlari lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Bukan ingin menumbuhkan idealisme kedaerahan tapi semata-mata untuk mengejar ketertinggalan SDM Bali dari serbuan SDM dari luar Bali yang harus diakui sampai saat ini masih lebih dominan. Tetapi siap kah Unud berlari lebih cepat ?. Ataukah kekhawatiran tentang SDM Bali yang makin ketinggalan bakal benar-benar semakin tersisih di wilayahnya sendiri seperti nasib beberapa masyarakat asli di daerahnya sendiri, Betawi, Badui, Dayak misalnya.

1 Response to "Unud sudahkah mencerdaskan?"

jawabannya tidak! akademika jauh lebih mencerdasakan. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: