it’s about all word’s

Indonesia Drugs country

Posted on: December 18, 2007

Narkoba makin meraja lela di Indonesia

Dua tahun lalu Badan Narkotika Nasional (BNN) merilis hasil penelitian mereka bersama Pusat Penelitian Universitas Indonesia (Puslitkes UI) di sepuluh kota besar. Terungkap sedikitnya biaya ekonomi dan sosial penyalahgunaan narkoba sepanjang 2004 mencapai Rp 23,6 triliun.

Besarnya angka yang muncul sudah pasti akan terus melonjak jika melihat peningkatan kasus penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dalam negeri yang sejak 2005 menembus di atas 10.000 kasus. Lihat tabel

Jumlah kasus narkoba 1999-2007*

No Tahun Narkotika Psikotropika Total
1 1999 894 839 1.733
2 2000 2.058 1.356 3.414
3 2001 1.907 1.648 3.555
4 2002 2.040 1.632 3.672
6 2003 3.929 2.590 6.519
7 2004 3.874 3.887 7.761
8 2005 8.171 6.733 14.904
9 2006 9.422 11.436 15.080
10 2007 5.658 7.433 18.869

*Per November 2007

Besarnya angka ini tentu tak bisa dipisahkan dengan hukum ekonomi. Makin banyak permintaan akan diimbangi penawaran. Tahun ini ‘bulan madu narkotika’ terus berlanjut, Unit Narkoba Mabes Polri hingga November mencatat lebih dari 18.869 kasus.

Yang menarik, beberapa diantaranya sudah masuk dalam tataran memroduksi narkoba dalam jumlah besar dengan keterlibatan warga negara asing termasuk jaringan di lingkungan tahanan jeruji besi.

Sebut saja ketika Satgas Narkoba Dit IV/TP narkoba dan KT – Bareskrim Polri pada 26 Maret 2007 mencokok jaringan pengedar shabu internasional yang melibatkan warga Nepal, Gopal Sherpa dan Thomas (warga Austria) yang saat itu duduk manis di dalam LP Cipinang.

Oktober lalu giliran Satgas Polri (Direktorat IV) dan BNN menggulung jaringan internasional psikotropika yang digawangi tiga warga Taiwan. Dari penggerebekan ke gudang penyimpanan di Jl. Karang Sari Blok P7.S, No. 18, Pluit Muara Karang didapati barang bukti senilai Rp 454 miliar.

Kasus terheboh dan masih segar dalam ingatan adalah hasil kerja Team Satgas Narkoba Dit IV/TP Narkoba dan KT – Bareskrim Polri ketika menggulung jaringan pengedar ekstasi Malaysia di Parkiran B1 Apartemen Mediterania dan kamar 19 A Tower 5 Apartemen Taman Anggrek, Jakbar.

Dua warga jiran kita yaitu Chua Lik Chang dan Lim Jit Wee bersama 440.104 butir ekstasi diamankan. Kasus ini jadi sorotan karena menggapai Achmad Albar yang diduga menyembunyikan Jet Lie Chandra.

Uniknya kasus rocker Ahmad Albar berdekatan dengan ditangkapnya Roy Marten di Hotel Novotel, Surabaya kurang dari dua pekan sebelumnya. Berdasarkan pemeriksaan shabu yang dikonsumsi Roy berasal dari napi lapas Tangerang bernama Kamir.

Kedua kasus besar itu seakan melengkapi kehebohan kasus Gary Iskak, Fariz RM, dan si jambul Gogon yang sedang ‘asyik berandai-andai’ di rumahnya di Tangerang bersama teman wanitanya dengan menggunakan shabu-shabu.

Total selama Januari hingga November 2007 sudah 29.800 tersangka yang ditangkap polisi, sebagian besar kasus narkotika jenis ganja yang mencapai 12.354. Benda yang di lapangan biasa disebut cimeng atau gelek ini bahkan menjerat pelaku di bawah usia 15 tahun.

Badan Reserse Kriminal Polri Direktorat IV/TP Narkoba mencatat sepanjang 2007 terdapat 73 anak berusia di bawah 15 tahun yang terlibat dengan benda haram hasil pasokan pegunungan Aceh ini.

Sebagian besar lagi adalah remaja di atas 16 tahun hingga di atas 30 tahun. Pada golongan produktif ini pelaku pengguna ganja bervariasi mulai dari pelajar, mahasiswa, polisi hingga tentara.

Menurut Direktur IV Narkoba Mabes Polri, Brigjen Indradi Thanos lubang terbesar peredaran narkotika di Indonesia adalah perairan yang harus diakui masih sulit untuk diawasi secara terpadu.

“Selama ini kita memang lemah dalam kontrol di kawasan perairan. Ke depan kita akan lebih meningkatkan kinerja untuk pengawasan. Saat ini Kapolri telah membangun lima pangkalan untuk mengawasi tindak kejahatan di wilayah perairan Indonesia,” ujar dia.

Gerbang utama jaringan narkoba internasional

Jalur air lebih menguntungkan karena dengan transportasi laut, produsen bisa menyelundupkan narkoba dengan bobot di atas satu kwintal. Sedangkan di bawah itu, penyelundupan dilakukan melalui pesawat udara.

Terlebih ketika Indonesia telah dibobatkan menjadi produsen (atau lebih tepatnya sebagai peracik) narkoba, wilayah perairan Indonesia adalah gerbang favorit perdagangan barang haram ini. Melalui jalan ini, sindikat tak hanya melakukan kegiatan perdagangan, namun juga melakukan pengiriman mesin-mesin peracik narkotika ke Indonesia.

Sejauh ini, produk klasik narkoba Indonesia yang beken di dunia internasional tetap ganja Aceh. Berkat produk lokal ini, sindikat Indonesia menguasai jaringan perdagangan “daun nikmat” di kawasan Asia Pasifik, terutama kawasan Asean.

Indikasinya dari jumlah warga Indonesia yang tertangkap di luar negeri mencapai 371 orang. Dari jumlah itu, 277 tertangkap di Malaysia, dan 261 di antaranya adalah warga Aceh.

Pada sisi lain, perlahan Indonesia juga mulai diperhitungkan sebagai produsen ekstasi dan shabu-shabu padahal sebelumnya hanya pasar saja.

BNN mencatat ada dua jaringan investor besar narkoba dunia yang menanam modal di Indonesia untuk produksi psikotropika. Jaringan Eropa Barat untuk ekstasi sementara Asia Timur dengan shabu-shabu-nya.

Jaringan-jaringan itu mendirikan pabrik di sejumlah daerah dengan nilai investasi rata-rata sekitar Rp2 miliar sampai Rp5 miliar per unit pabrik dengan skala besar. Sedang skala home industri, nilai investasi diperkirakan sekitar Rp100 juta per unit. Uang digunakan untuk sewa tempat dan pengadaan mesin.

Dalam hitung-hitungan kredit perbankan, nilai investasi industri narkoba ini masih tergolong UMKM, namun dari produk yang dihasilkan sudah kelas korporat. Lihat saja pabrik ekstasi di Tangerang yang dalam sejam mampu menghasilkan 55.000 butir ekstasi, dengan harga per butirnya Rp100.000.

Jika dalam sehari pabrik beroperasi selama 12 jam, berarti ada 660.000 butir senilai Rp660 miliar. Sementara untuk produsen rumahan, sejamnya dihasilkan 6.000 tablet per jam artinya home industri ekstasi bisa beromzet Rp7,2 miliar per hari.

Khusus untuk produsen ekstasi, kebanyakan usaha yang ada di Indonesia dikontrol warga Balanda dan Belgia. Sementara tenaga ahli peracikan berasal dari warga Perancis.

Untuk produksi shabu-shabu yang investornya berasal dari Asia Timur: Hongkong, China Daratan, serta Taiwan. Rata-rata produsen besar mampu menghasilkan 500 kg shabu per bulan, dengan harga per kilo gramnya mencapai Rp1 miliar. Maka dalam jangka waktu satu bulan, produsen besar bisa mendapatkan omzet hingga Rp500 miliar.

Produk-produk tersebut lantas diekspor ke berbagai negara, terutama ke negara asal investor. Sebagian lagi ke Amerika Serikat dan Australia yang juga menjadi pasar potensial ekstasi asal Indonesia.

Di luar jaringan Eropa dan Aisa Timur, Indonesia juga tercatat sebagai negara pemasaran kokain yang potensial. Jaringan ini berasal dari Amerika Latin dan berkolaborasi dengan warga asal Nigeria.

Disinyalir mafia kokain beroperasi dengan memanfaatkan jaringan agen pemain sepakbola Nigeria di Indonesia.

Polisi kurang dana

Sayang dengan gemerincing uang dan begitu banyaknya kasus yang harus ditangani oleh Polri dan BNN. Namun aparat negara itu lagi-lagi terhadang masalah klasik yaitu kekuarangan dana.

Menurut Subag Analisa dan Evaluasi Bagian Operasi Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba dan Kejahatan Terorganisir Bareskrim Polri, AKBP Dedi Permana, untuk melakukan pembongkaran sindikat narkoba kelas kakap hingga pengajuan ke Kejaksaan, polisi butuh Rp1 miliar.

“Sedangkan untuk yang skala kecil kami butuh dana sekitar Rp100 juta hingga Rp500 juta. Dana itu dipakai untuk investigasi, sewa tempat di dekat target operasi, hingga dana operasional sehari-hari,” kata dia.

Kendati butuh dana cukup besar, sejauh ini polisi hanya dijatah pemerintah Rp2,5 juta untuk melakukan pengungkapan kasus hingga pengajuan ke kejaksaan. “Ini tentu saja tidak memadai,” ujarnya.

Untuk itu dia berharap pemerintah lebih realistis mengalokasikan anggaran untuk pemberantasan narkoba. “Termasuk dengan memotong alokasi untuk pos-pos yangtidak penting, seperti halnya memotong anggaran bagi departemen-departemen yang tak memiliki kaitan langsung dengan pemberantasan narkoba.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: