it’s about all word’s

I’m Not Crying For You [Unud]

Posted on: December 19, 2007

Semalam usai graduation night program ‘Certificate in Public Relations Techniques’ London School of Public Relation, menyelesaikan artikel outlook kasus narkotika Indonesia 2007 dan Tajuk Tamu Bisnis Indonesia edisi 19/12 saya sempatkan membongkar beberapa berkas, beberes meja lalu dilanjut pup sembari baca-baca Jurnal Perempuan.

Pagi ini sembari bersin-bersin dan menyeruput kopi, desah pe-de lead vokal Save Ferris, Monique Powell yang seksi ketika menembangkan “I’m Not Crying For You’, Vanessa Carlton dengan ‘1000 miles’ disambung Sugar Ray lewat ‘Someday’ lalu Oasis dengan ‘Don’t Go Away’ bikin saya kumat. Gemes saya pada almamater memuncak.

Akhir pekan lalu (15/12) saya dapat tugas meliput Akademi Sepak bola Real Madrid di Canggu, Bali. Garuda yang delay selama empat jam bikin rencana awal berantakan. Toh Ade Cupaw yang menjemput saya tetap semangat mengantar mengurus hotel di Sanur lalu mampir ke Universitas Udayana.

waktu sudah menunjuk pukul 21 WITA. Suasana sepi. Jalan menuju ke Akademika dan Kesenian lebih bopeng ketika saya tinggalkan empat tahun lalu. Padahal gedung pascasarjana, FK dan Pura Kampus begitu mentereng. Kalau diandaikan bak perempuan cantik nan seksi tapi kulitnya panuan.

“Sekarang susah bikin kegiatan. Ga ada tempat dan susah nyari ijin kegiatan. Lapangan depan sudah jadi taman. Kalo bikin acara di halaman Peternakan diusir Ketua Pasca Sarjana. Listrik ke UKM juga udah di putus sekarang narik dari Pura,” kata Ade.

Saya hanya diam memandang kabel centang perentang di depan pintu Kesenian lalu menyambung ke Akademika. Panah jomblo di dinding Auditorium sudah dihapus. Katanya bikin anak UKM ga laku. ‘Ah omong kosong!” pikir saya.

Shiro, anjing liar yang kami pelihara mendekat. Moncongnya diajukan ke paha saya sembari mengibas-ngibaskan ekornya. Matanya sayu, bulu putihnya kusam. Mewakili suasana universitas tertua di Pulau Dewata malam itu.

Kontras! Padahal besok pagi (17/12) ada Pemilu Raya Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa. Tak ada ketegangan, tak ada kasak-kusuk yang sensual di sudut-sudut kampus. Atmosfer persaingan antar kandidat yang harusnya meriah kini mirip perang tanding laku batin. Jangan-jangan! Entah!

“Lho lha kalau ada pemilu sapa calonnya?” tanya saya pada Kunta, mantan pentolan Akademika yang kini resah mencari kerja padahal di sampingnya Yoga, mantan ketua Kesenian, mahasiswa abadi cum tukang ojek sejati hanya mesem-mesem.

“Ada dua ‘Choky’ dari Fakultas Pertanian dan Sutan dari Fakultas Ekonomi,” tutur Kunta.

Choky adalah nama lain Abrisal Pulungan. Wakilnya Jensen dari Fakultas Teknologi Pertanian. Sementara Sutan adalah alias Andra Delfiandy Asra yang menggaet Ibran dari Fakultas Kedokteran Hewan.

Satu kandidat lain, Pande Ketut Tapa Bratha dengan wakilnya Yogiswara Suna Graha yang sama-sama dari Fakultas Teknik, sehari menjelang pemilu ngacir dari persaingan politik. Alasannya klise, ada kegiatan lain.

Wah lha kok kalah sama anak SD di Wuhan, China. Dalam film dokumenter ‘Please Vote for Me’ yang digarap Weijun Chen direkam sebuah proses demokrasi yang diajarkan lewat pemilihan ketua kelas.

Tiga kandidat ketua kelas yang masing-masing berusia delapan tahun harus melewati serangkaian debat yang akhirnya membawa mereka belajar memahami strategi kampanye politik dan menerima kekalahan dengan hati besar.

Tangis, senyuman dan derai anak-anak SD itu membuatnya lidah saya terasa kelu.

Trus program mereka? Hanya bahu yang terangkat dan cengiran yang saya dapat.

***

Malam lebih tepatnya dini hari 16/12 menjelang tidur di daerah Sidakarya. Toge, yunior dari jurusan Tanah berkisah kurang gregetnya kegiatan jurusan. Pertama karena mahasiswa yang makin menyusut—imbas program Keluarga Berencana—lalu tingkah Jurusan dan Fakultas yang kurang mendukung kegiatan mahasiswa.

“Kegiatan tarung ilmiah antar jurusan di fakultas yang dulu aku rintis bareng Kiki gimana? Kan itu ilmiah banget sekaligus juga jadi pembuktian para dosen apa bener mereka otaknya canggih?” tanya saya yang jadi susah tidur.

“Ya macet juga! Mana ada yang berani ngerjain dosen kaya elo!” tuturnya frustasi.

Suara masih ribut dari ruang depan. Ade dan Anom masih bertempur di layar kaca. Ade sedang berjuang meraih gelar sarjana sementara Anom sudah lulus, kini berstatus pengangguran intelektual.

Hasil survei angkatan kerja nasional Februari 2007 mencatat, jumlah penganggur di Tanah Air sebanyak 10,55 juta orang, sebanyak 740.206 adalah penganggur intelektual.

Mata terasa berat. Jam lima pagi saya harus bangun dan segera ke Canggu.

Pukul 6.30 saya sudah sampai di lokasi Canggu Club Bali yang terletak di daerah Pantai Berawa, Banjar Tegal Gundul. Tiga jam saya menunggu kegiatan yang digelar bule yang biasanya on-time.

Sayang hari itu tingkah pengundang yaitu PT Internasional Event Asia mengecewakan. Sebagai profesional yang diserahi tugas menjual identitas sebuah institusi klub terkaya di dunia, memberi makan wartawan saja tak mau.

Demis Djamaoeddin, Direktur Internasional PSSI dan Fernando H, Titaley Presiden PT Real Madrid Indonesia pun begitu cuek tidak tanggap ing sasmita. Atau barangkali memang mereka dungu.

Bosan menunggu, akhirnya dengan senyum kecut, saya bersama Nofan (Indopos) dan Aryo (Nusa Bali) segera balik kanan kembali ke Denpasar meninggalkan kawan Kompas, Bola dan RCTI yang tengah asyik menikmati makan siang yang disediakan pengundang.

Warung Terompong di mulut jalan Kampus Warwadewa jadi tujuan kami. Makanan sederhana seharga tak lebih dari Rp10.000 itu begitu nikmat. Karbohidrat membuat saya begitu rindu pada kegiatan tidur. Nofan saya ajak serta ke hotel sementara Aryo masih harus meliput ke Benoa.

Mandi air hangat, kasur yang empuk dan film ‘The Holiday’ membuat saya lupa pada letihnya hari ini. Saya terlelap sampai pukul 18.00. Secangkir kopi membuat saya segar, Nofan masih tertidur di kasur sebelah.

Channel AXN masih memutar ‘Independence Day’, tak berapa lama Nofan terbangun lalu mandi. Kaca mata minusnya sudah diantar kawannya dari Seputar Indonesia. Satu jam lagi saya harus ngebut mengantar dia ke Ngurah Rai. Dia harus pulang 21.45 ke Jakarta.

Toh, permainan Will Smith, Bill Pullman dan Jeff Goldblum bikin kita terpaku. “Bisa aja Amerika jualan heroisme negaranya!” pikir saya sadar sudah tak terhitung berapa kali nonton film yang dirilis sebelas tahun lalu.

Virus sudah disusupkan ke kapal alien, lalu bom berhulu ledak sudah ditancapkan. Bumi segera menang. Adrenalin memuncak. Tapi jam keberangkatan semakin dekat.
Mau tak mau ngebut pun harus saya lakukan. Untung jalanan Bali tak sebrutal Jakarta yang semakin biadab berkat busway. Kami sampai Ngurah Rai tepat waktu sementara saya harus kehilangan tiket parkir.

Ingin kembali ke hotel, saya justru teringat Heru dan Wawi. Mampirlah saya ke perumahan bandara. Sayang mereka berdua sedang ke Rumah Sakit. Jadilah saya menumpang nonton partai PSIS versus Persema bersama ayah Heru.

Setengah jam kemudian, kedua suami istri itu datang dan langsung mempersilahkan saya makan malam. Jujur saya mengatakan bosan makanan hotel.

Kami mengobrol banyak hari itu. Mulai hal yang aktual hingga mengenang masa lalu. Tentang pekerjaan, keluarga, kisah asmara dan kabar kawan. Semua terlontar malam itu.

Tak terasa jarum jam telah menunjuk angka 23. Saatnya untuk kembali ke hotel untuk bermimpi. Janji telah saya ikat pada Heru. Besok kami akan bertemu di Akademika untuk menengok Dian Pur beserta jagoannya.

Ade menelpon dia mengatakan tak bisa ke hotel karena ibundanya datang.

***

Matahari sudah tinggi padahal jarum jam baru menunjukkan 7.30. Saya hanya menggosok gigi lalu cepat menuju restoran untuk sarapan. Kopi membuat mata terang.

Hari itu waktu melaju kencang. Pukul 12 sudah menjelang. Saatnya check-out. Saya langsung meluncur berburu kacang disco pesanan si marmut yang berkali-kali mengingatkan saya untuk membawa pulang makanan tersebut.

Jalanan masih basah ketika saya menuju Sidakarya. Lubang-lubang penuh terisi air berwana kemerahan. Pelan-pelan saya arahkan bebek Jepang itu. Dari pintu garasi, ibu Ade dan Jay ramah menyapa.

Kami sempat mengobrol cukup lama terutama soal Jay, anak bungsu keluarga itu yang kini ada di Maladewa. Si Kancut itu belum mampu menggaet mantu idaman ibunya.

Tak lama, sebuah SMS masuk. Heru sudah siap di Akademika. Alhasil saya harus pamit dan Ade mengantar saya.

Siang itu, aura lemes dan males mengapung di atmosfer kampus Unud. Pemilu Raya yang ditargetkan bisa menggaet setidaknya bisa menggaet 6.000-7.000 mahasiswa tak bersuara.

Heru dengan badan gendutnya hanya terguncang menyaksikan kondisi itu. “Ya gini deh! Makin ga jelas. Semangat perlawanan sudah ga ada!” katanya ketika kami meluncur ke rumah Dian.

Saya hanya bisa menggaruk hidung ketika mendengar beberapa dosen kritis yang kami kenal baik perlahan secara sistematis disingkirkan dengan cara disekolahkan.

Yang mengagetkan Pembina Akademika, Chusmeru yang sering sering bikin kuping pejabat Unud memerah malah kemudian pindah ke Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Dosen kontroversial Gelebet tak bersuara, lalu Palguna kini malah begitu melayang-layang di angkasa lupa menjejak bumi sejak moncer jadi hakim di MK.

Belum lagi kenyataan tentang makin banyaknya dosen-dosen baru yang ternyata masih berkaitan keluarga. Koneksi penting dan tak masalah tapi jangan pakai kolusi.
Saya sebut kolusi karena kualifikasi mereka tak ngetop. Setidaknya lulus dari universitas yang punya mutu lebih baik dari Unud. Lha ini faktanya yang terjadi banyak di antara mereka produk Unud pula. Kalau diandaikan mirip perkawinan satu keluarga.

Incest! Yang seharusnya disadari berpeluang melahirkan keturunan cacat dan kalah tangguh dengan universitas yang mempertahankan diversifikasi dan asimilasi di keluarga akademiknya.

Ah tapi ya sudah. Saya sudah bukan bagian dari Unud. Itu hanya masa lalu yang diikat oleh selembar ijazah berlambang roda gerobak yang bentuknya saja kalah keren dengan ijazah program mengemudi.

Apalagi ikatan alumni itu sudah terkikis oleh feodalisme dan sukuisme yang bikin kepala saya pening. Pantas Artha yang sudah melejit di KPU gelisah. Pantas pula Adyana, Anton atau kawan-kawan yang lain lelah dan tak peduli lagi. Begitu juga saya.

And I’m not crying for you
No, no, no
I’m not crying for you tonight
So please listen when I say
That there’s no way that I will stay
And know that
I’m not crying for you

*ditulis menjelang cuti akhir tahun, 19/12 pukul 11.30 WIB

6 Responses to "I’m Not Crying For You [Unud]"

Wah i couldn’t cry anymore kalo gitu. Makin ngenes aja kondisinya…

Aku setuju dengan teori incest-nya mas algoth. Sistem seperti itu hanya akan menghasilkan individu2 yang senada seirama, setali tiga uang. Bagaimana mau maju? Seperti halnya Wiro Sableng yang belajar ilmu kanuragan jaman dahulu, gurunya itu dari seluruh penjuru negeri. Hal itu harusnya disadari oleh para pembesar di sana, jangan cuma mentereng kulitnya saja (bikin tembok tinggi2, ukiran dimana-mana).

Gimana dapet berburu celeng ga di Bali? Kangen gw sama gado2, sate dan gule kambing, martabak telor, celeng guling… Ngomong2 celeng, bagler punya acara buat anaknya, menunya…itu dia.

Pulang mudik lo Natalan kan? Salam buat keluarga di rumah, Salam damai natal dan selamat Tahun Baru.

Salam,
Jay

sayang wiro sableng nasibnya sudah tamat bersama bastian tito yang mangkat…

kompleks ukm di sebelah timur (ksr, senat fkh, lemkari, wushu, pramuka, kopma, merpati putih) juga udah tinggal nama. tinggal menunggu waktu sebelum penguasa kampus tertawa terbahak menyaksikan anak didiknya melempem tak bergigi.

kalo drama ala orok nocenk kegiatan mahasiswa unud apa mungkin plotnya komedi-tragedi?

got….berarti gak ada yang di kejar2 pake golok lagi waktu pemilu?
mungkin lambat laun pun gue hanya bisa mengenang ukm kesenian lewat foto…,
“incest” itu pun udah gue rasain waktu kuliah di sana dari 1998-2003…, dan hanya bisa membelalakkan mata waktu melihat mahasiswa dari universitas lain di jawa yang lebih terbuka dan dosen2 yang sangat membantu ketimbang memberi komentar2 yang tidak memberikan solusi. (terima kasih buat ibu ruly dosen petra yang sudah membantu saya dalam menyelesaikan skripsi…kok jadi curhat hehehe)

lo kan orang bali…gih balik sono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2007
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: