it’s about all word’s

Kuch Kuch Hota Hai memories

Posted on: January 5, 2008

Asyiknya jadi mahasiswa norak

Semalam saya betul-betul sinting! Usai membaca Tintin ‘Tawanan Dewa Matahari’. Segelas teh saya siapkan, bantal duduk di depan televisi siap memanjakan pantat saya. Dan yang jelas pengendali tabung kaca, revolusi peradaban modern itu kini saya kuasai. I am The One!

Jempol pun beraksi. Klik-klik dan channel TPI yang saya cari. Ah belum telat. Kuch Kuch Hota Hai baru mulai. Norak? Kampungan! Iya emang. Tapi gara-gara film yang disutradarai Karan Johar pada tahun 1998 itu saya jadi mulai mengintip film India. Sebelumnya? Bah mending nonton ‘Pengkhianatan G30 S/PKI’.

Saya tertarik film berbahasa Hindi yang punya arti ‘Sesuatu Terjadi’ ini bukan karena bintang-bintangnya macam Shah Rukh Khan, Kajol, Rani Mukerji dan Salman Khan yang sukses menguasai Filmfare Award 1999, tapi dipaksa suka oleh keadaan.

Ya dipaksa suka! Gara-garanya UKM Kesenian di tahun 1999 seret anggota dan dana. Mau tak mau harus ada taktik jitu agar para mahasiswa baru yang males ikut kegiatan itu pada tertarik mendaftar dan bayar uang registrasi. Satu kesempatan besar ya atraksi di masa ospek.

Semalaman saya dan pasangan homo saya, Nyoman Bagler sembari mengerjakan tugas nggambarnya berdiskusi sembari nyetel The Doors. Kalo sekadar main band dan nari-nari itu sih biasa. Ga seru! Basi. Harus yang bikin heboh.

Apa ya pikir kami berdua? Mendadak usai pipis. Saya inget betapa noraknya film India. “Gler, gimana kalo kita mainin lagu India?” tanya saya. Asal seperti biasanya. Dan langsung disambut senyum Bagler di bibir lebarnya.

Tapi hanya sedetik kemudian. Penggila Pure Saturday, Lee Retenoir dan Pas Band itu justru senyum-senyum. “Iye kenapa ngga? Lagunya apa?” tanyanya penuh semangat. Saya jawab cepat ‘Tauk!”

Butuh beberapa lama agar ide ini matang. Kami berdua agak kesulitan mencari lagu apa yang seru. Akhirnya, mungkin karena doa kami didengar Dewi Saraswati di swargaloka. Film Kuch Kuch Hota Hai diputar di salah satu televisi Tanah Air. Dan kalah tak salah, ya TPI donk. Saat itu Indonesia yang biasa gagap tren dilanda demam film komedi romantis India itu. Hasilnya muncul lagu Koi Mil Gaya.

Ketika ide sinting dan norak ini kami sampaikan pada David Aconk sebagai penguasa an-sich UKM dia langsung ngakak. Tapi tak dinyana semua peserta rapat dari divisi-divisi yang lain ikut ketularan gila.

Yang paling antik terutama Ilham Jawa. Pria Sragen penggila Sheila On 7 yang kini jadi pejabat di daerahnya itu malah yang paling semangat nyari kord-kord lagu norak itu.

Sementara pasukan divisi Tari yang cakep-cakep dan bahenol itu langsung memelototi koreografis lagu yang digarap Jatin-Latin itu. Meski agak kesulitan dan malu-malu mereka untuk menirukan goyangan sensual penari India.

Pemain gitar utama kami, Glen yang sedang frustasi dengan nilai-nilai kuliahnya yang selalu masuk golongan NASAKOM (Nasib Satu Koma) langsung cihuy. Maklum anak Jakarta berbokong bundar besar tapi bertampang mirip Nicholas Saputra itu memang tergila-gila pada musik India.

Membajak Devi

Tapi kesulitan jelas ada. Lha siapa yang mau nyanyi lagu bersuara cempreng yang disuarakan oleh Udit Narayan, Alka Yagnik, Kavita Krishnamurthy itu. Calon penyanyi pria? ya hanya Jay yang langsung mengangguk pasrah.

Nah lalu penyanyi perempuannya? “Ga gampang lho nyanyi pake cengkok kaya gini!” tukas Asti pelatih sekaligus biduanita kami yang biasa nyanyi Top 40-an di kafe-kafe dan pesta kawinan.

“Ah gimana kalo Devi!” kata Nyoman. Ah iya tuh anak kan biasa nyanyi jazz. Lagian sudah lama dia ngga sowan ke UKM.

Yang justru sering datang ke UKM malah kakak laki-lakinya, Rama. Anak Mapala berkacamata yang saat itu menjadi pasangan homonya Isoul, bos persma Akademika.

Malamnya dengan cepat kami memburu Devi. Sudah bisa diduga sambutan ngakak langsung diberikan pada kami. Namun ketika kami memohon-mohon sembari bersimpuh melolong-lolong minta tolong di kos-nya (buset berlebihan banget).

“Ya ya ya deh gue coba. Emang kaya apa sih tu lagu?” katanya memberi komitmen sembari senyum-senyum terpaksa.

Esok harinya Devi langsung kami bajak untuk nge-tune lagu unik berdurasi tujuh menit itu. Hasilnya: “Ah gila apa. Susah neh nyanyinya!!”

“Lho kan elo dah janji mo bantuin!” todong kami. Hasilnya calon pengacara—pengacara kok ga bisa nge-les–itu pun mengangguk pasrah

Eh tapi ada kesulitan lain. Karena UKM kami tak punya perkusi. Alhasil sound drum di lagu ini harus digarap sebenar-benarnya dalam tempo sesingkat-singkatnya. Dan Aconk pun punya usul tentang kawannya yang kuliah di Pariwisata tapi biasa mengiringi lagu-lagu gereja.

Kesulitan kecil lain seperti teks lagu yang susah, pelafalan dan cengkoknya yang pake suara hidung itu menjadi tugas duet penyanyi kami–padahal aslinya ni lagu dinyanyikan tiga orang. Mati-mati dah loe!

Sepekan lebih penuh kerja keras. Kami berkumpul. Ilham (Kibor), Glen (lead gitar), Nyoman (Bass), saya (gitar pelengkap duka) dan kawan si Aconk bertugas sebagai pemain drum (hehehe saya lupa namanya).

Sembari kami main. Kawan-kawan tari latihan di depan UKM yang masih berupa tanah. Tiada lelah kami berlatih di ruang sempat nan pengap itu. Pada sisi lain Aconk dan pasukannya mempersiapkan sound, tetek bengek yang lain termasuk adu urat leher dengan panitia ospek.

Akhirnya tiba juga hari H. Malamnya kami sebagai artis harus bersusah payah mengangkut sound, kabel, stand mike dll ke Kampus Rektorat di Jimbaran. Boleh dibilang menjelang manggung kami justru kurang tidur.

Esoknya kesialan yang bikin deg deg an datang. Ketika saya berangkat ke Kampus Jimbaran. Honda GL Pro milik Ilham justru mogok di tengah jalan. Saya yang ketika itu agnostik akhirnya menyebut-nyebut nama Tuhan juga.

Ajaib motor bertampang keren bisa kembali jalan dan mau dikebut hingga batas kecepatan maksimalnya yang mencapai 40 km/jam!!

Sampai di sana, seluruh kawan-kawan sudah siap beraksi. Dan saat Glen dengan kaca mata hitamnya memainkan melodi awal. Gedung Rektorat yang separuh jadi itu sejenak hening dan bergemuruh dengan sorak sorai ketika lagu norak ini dimainkan.

Devi dengan baju sarinya maju menyambut Jay yang berpenampilan norak. Pokoknya tau deh. Bisa dipastikan di hati kami yang manggung hari itu terbersit doa “Duh gusti jangan sampe keturunan kami liat bokap-nyokapnya ngaco kaya gini!”.

Koi Mil Gaya, Koi Mil Gaya…
Mujhko Kya Hua Hai, Kyun Maein Kho Gaya Hoon
Paagal Tha Maein Pehle, Ya Ab Ho Gaya Hoon
Behki Hain Nigaahen Aur Bikhre Hain Baal
Tumne Banaaya Hai Kya Apna Yeh Haal

Koi Mil Gaya, Mera Dil Gaya
Kya Bataaun Yaaron, Maein To Hil Gaya
Koi Mil Gaya, Mil Hi Gaya, Mil Gaya…
Bla..bla…bla

Hanya tujuh menitan kami menggila dan setelah itu kami para artis dadakan ini harus kembali ke dunia nyata. Kerepotan ngurus alat-alat dan melayani para mahasiswa-mahasiswi yang berebutan pengen mendaftar masuk UKM.

Di belakang auditorium Jay dan Devi makan bakso, Glen, Nyoman dan saya beserta kawan-kawan yang lain ngurus loading alat ke mobil pinjaman. Sedangkan di depan jubelan anak-anak baru itu, otak bisnis Aconk mengkalkulasi berapa jumlah pemasukan yang akan menggelembungkan kas UKM kami.

Usai atraksi sinting itu. UKM memang padat namun secara alami anggota yang hanya bermental kampret pun berguguran. Itu tak masalah, toh Padi masih bisa kami datangkan dan proyek dadakan dari televisi swasta nasional yang lain bisa kami gelar dengan lancar.

“Masih lah…Bawa2 sound jelek k bukit, sapa yang bisa lupa, membuat joget satu auditorium, hehe!” ujar Aconk lewat pesan pendek semalam.

Sementara Devi. Lebih tepatnya adalah korban. Tiap kali ngumpul selalu ngomong. “Ah gila gara-gara nyanyi cempreng-cempreng gitu. Gua kaga bisa lagi nyanyi jazz. Emang brengsek kalian!”

Sayang semua ini tinggal kenangan. Kini Unud—yang setia dicengkram rezim Kedokteran–begitu sepi dari kegiatan yang membentuk mental konyol mahasiswanya. Yang ada kini hanya kuliah, kamar dan kampung. Hambar karena lurus-lurus saja.
Bahkan sebentar lagi, seluruh gedung UKM di kampus Denpasar bakal dibumi ratakan demi alasan pendidikan. Pendidikan yang mana dan gimana pak dokter???

7 Responses to "Kuch Kuch Hota Hai memories"

ha.. ha… jadi kebayang wajahmu n wajahnya si Jay..

Happy 2008
MI

note: pas posting comment kok gak ada tanda comment udah terkirim ya…?

wakakakakak…..gak bakal lupa dah yang satu ini. bisa ketawa sendiri kalo nginget2nya! sumpah! seru abizzzz! gw percaya kalo orang2 ini bisa kita kumpulin lagi pasti mak nyus…
Gila aje motor mogok itu bikin panes dingin. Masak artis mau manggung pake acara mogok dulu.
Tapi bener2 hari itu urat malu pada ilang semua…! Foto2nya masih ada ga ya? Kostum semuanya minjem pula, jas yang kegedean…halah!!! Katrok.
Drummernya itu si.. sapo seh namanya? Mukanya masih inget gw. Ervin atau rian? Lupa gw. Mungkin Mas Aconk bisa bantuin mencari the missing link.
Masa-masa bahagia…
Salam buat seluruh crew Koi Mil Gaya 1999>>>

coba deh lo buka you tube…kok ya ada dan pada mau kita kumpulin buat bergaya senorak itu ya…

heheh..pantes elo suruh gue baca dulu message elo di facebook….
kita emang edan waktu itu ya, tapi itu yang membuat hidup kita lebih berarti. gak nyanka sekarang kita udah punya anak……tapi masih edan juga!
jay….gue gak bakal lpa celana ketat elo waktu itu…kakakakakakakka

beranak dan membuncit!

he… jadi inget wajah si jay…

MI

love you guys…best moment…best memories…kangeeennn banget keadaan kayak gitu, gak mungkin keulang lagi yeee…makasi bwt tulisannya ya goth…means a lot to me..love you guys..deeply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: