it’s about all word’s

Please Rest In Peace Pak Harto

Posted on: January 11, 2008

Soeharto: The Rascal King?

Pekan-pekan ini sosok renta yang paling jadi pembicaraan ya Soeharto. Mantan penguasa Indonesia selama Orde Baru ini tengah sakit berat. Mangkat atau tidaknya Pak Harto menjadi satu berita yang bikin wartawan kelas krocuk seperti saya mesti siap 24 jam memantau perkembangannya.

Sebel? Tentu saja iya. “Udah kalo ngga mati-mati cekik aja!” ujar Haji Endot, wartawan yang berpengalaman meliput bidang umu, agribisnis dan kehutanan.

Sebetulnya kata-katanya yang sengit itu tak sepenuhnya kejam. Karena sebetulnya sebagai rakyat Indonesia yang pernah merasakan betapa nyamannya di bawah tangan besi Soeharto dia sangat berharap Presiden kedua RI itu tak harus lama-lama menderita.

“Sekarat kok ya lama banget. Mbok udah kalo memang harus mati ya cepet jangan kaya gini. Mati ora jelas. Hidup juga tidak nikmat,” tuturnya getir, gemas campur sedih.

Sebetulnya saya sebagai mahasiswa angkatan ‘98. Pantas sebel dengan ambiguitas pak Endot yang kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga generasi 1984-an itu.

Tapi, saya tak bisa mengelak. Kalau Pak Harto juga termasuk sosok yang membentuk generasi 1998. Generasi yang sukses menundukkan Orde Baru itu pantas berterima kasih dengan kemakmuran ekonomi di akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an.

Sebagai manusia dengan DNA, 60% Jawa, saya mencoba membedah siapa Pak Harto berdasarkan ilmu kejawen. Tingkat kesahihannya? Wah ga tahu, tapi ilmu perhitungan ini sudah ada jauh sebelum agama Islam dan Kristen datang ke Jawa Dwipa.

Dalam perhitungan kitab primbon Betaljemur Adammakna, Soeharto yang lahir Rabu Kliwon 8 Juni 1921 memiliki beberapa sifat-sifat sangat menonjol a.l. memiliki kewibawaan dan kepribadian yang sangat berpengaruh, serta tidak dapat diperintah.

Selain itu, sifat lain yang juga menonjol adalah berwatak keras, berjiwa pemimpin serta memiliki ambisi yang besar. Soeharto juga masuk kategori orang sensi, mudah tersinggung perasaannya, tegas, serta angkuh.

Namun di sisi yang lain, kehidupan Soeharto juga memiliki warna yang berbeda. Dia kadang memiliki sifat dan perasaan yang halus, bahkan benci terhadap hal-hal yang berbau kekerasan.

Terlepas dari benar-tidaknya perhitungan itu, dimensi personal Soeharto sangat mempengaruhi pola kepemimpinannya a.l. sangat terencana, tidak bertele-tele, dan sangat susah untuk dikoreksi oleh orang lain.

Saking besarnya yang mana daripadanya pengaruh, semua yang dititahkannya adalah Sabda Pandhita Ratu, semua yang diucapkan, wajib untuk dilaksanakan. Alias ga boleh dibantah. Mbantah berarti siap dituding komunis dan wajib yang mana daripadanya atas petunjuk bapak di- Pulau Buru-ken.

Anak petani

Dilahirkan di Yogyakarta, dan bertepatan dengan tanggal 1 Syawal 1339 Hijriyah, atau dalam tahun Jawa, 1 Sawal 1851 tahun Alip, windu Kuntara, wuku Maktal, Soeharto mbrojol dari pergulatan penuh peluh pasangan Kertosudiro dan Sukirah.

Sayang, masa-masa kecil adalah saat yang suram bagi Soeharto. Belum genap berusia empat puluh hari, dia sudah harus hidup dengan Mbah Kromodirjo, seorang dukun bayi yang membantu kelahirannya. Itu dilakukan lantaran si ibu menderita sakit dan tak bisa menyusui. Empat tahun lamanya dia hidup terpisah dari orang tuanya.

Menginjak usia belasan tahun, kedua orang tuanya memutuskan bercerai. Ibunya memilih menikah lagi dengan seseorang yang bemama Atmopawiro. Pemikahan itu menghasilkan tujuh orang anak. Sedangkan ayah kandung Suharto juga memilih kawin lagi dan dikaruniai empat anak.

Namun siapa sangka, di balik kisah buram masa kecil anak seorang juru pengairan dari barat kota Yogyakarta ini, Soeharto kelak menjadi salah satu orang yang kerap dirujuk berbagai literatur politik-ekonomi dunia. Ya, lusinan peneliti telah mengupas habis Soeharto dari bermacam sisi.

Pola kepemimpinan yang otoriter-militeristik, namun juga menganut paradigma pasar bebas, sangat menggelitik minat peneliti asing untuk mendedah semua kebijakan Soeharto di negara yang sebenarnya belum merampungkan fase agraris ini.

Salah satunya seperti yang ditulis oleh Robert Edward Elson dalam buku yang berjudul Soeharto, Political Biography terbitan Cambridge University Press, Oktober 2001.

Dalam buku itu Elson menuturkan bahwa Soeharto menjadi tokoh yang sangat penting selama abad ke-20 di Asia. Dia secara bertahap, serba hati-hati, dan terencana, telah berhasil membangun Indonesia yang sama sekali baru.

Soeharto dianggap berhasil mengadaptasi teori pembangunan yang dikembangkan W.W. Rostow melalui tahapan-tahapan pembangunan yang dikemas dalam paket program lima tahunan.

Paket yang terkenal dengan Pelita (Pembangunan Lima Tahun) ini berorientasi pada upaya untuk menjadi negara yang berbasis pada industri setelah swasembada pangan terlampaui.

Bagi generasi 1980-1990-an pasti ingat masa-masa pengendalian informasi dan dwi-fungsi ABRI. Tipi ya hanya TVRI dan radio ya RRI. Acara? Jelas semua ujung informasi jadi jalan Orde Baru untuk mangap.

Selecta Pop, Ria Jenaka, Kelompencapir, Cerdas Cermat, Mbangun Desa, Aku Cinta Indonesia, Posyandu, Puskesma, Panca Usaha Tani menjadi hiburan di tengah kondisi negara yang katanya aman tentram dan damai usai Operasi Penembakan Misterius (Petrus).

Dollar ga mahal. Bensin murah, minyak tanah ngga langka. Beras ada. Sekolah pun ada. Bangunan sekolah Inpres juga keren kukuh. Mbayar SPP pun masih terjangkau. Jadi buat apa protes-protes. Golkar menang, pak Harto jadi presiden lagi, urip ayem tentrem. Itu omongan yang biasa saya denger kalau simbok saya ngrumpi bersama ibu-ibu di RT kami.

Mimpi kemilau

Ya, lewat proyek-proyek pembangunan itu, anak desa Kemusuk, Godean Yogyakarta ini punya obsesi membawa Indonesia sejajar dengan negara-negara industri. Yah meski belum sejajar dengan yang maju, minimal bisa disebut negara berkembanglah. Bukan negara miskin dengan penderita busung lapar di jaman Orde Lama atau Orde Reformasi.

Sayang. Semua semua sirna. Hanya dalam hitungan kurang dari satu dekade, semua proyek yang dibangun dengan susah payah itu kandas ketika muncul gerakan yang menginginkan pembaharuan pemimpin dan sistem politik di Indonesia pasca pemilu 1997 yang nggombal abis.

John Monfries dalam bukunya: ‘Hamlet, Semar and The Godfather’ terbitan Australian Book Review (2002), menyatakan bahwa ada dua sistem ekonomi yang berhasil dijalankan Soeharto, yaitu ekonomi pasar modern dan ekonomi pemburu rente. Dan anehnya dua sistem ini bisa berjalan cukup lama dengan hasil spektakuler.

Munculnya kelompok-kelompok bakul di lingkar Soeharto yang hanya mengejar fasilitas pemerintah adalah salah satu indikator dari berjalannya dualisme ekonomi.

Sayangnya, dan sangat manusiawi dalam kaitan ini Soeharto kerap tak bisa membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Sehingga dia berani mengobral semua fasilitas negara kepada kroni yang ada di sekitarnya termasuk, temtu saja anak-anaknya.

Kondisi itu tercipta dan didukung berbarengan dengan berjalannya sistem politik tanpa kontrol. Soeharto berhasil menciptakan sistem kekuasaan yang sedemikian kuat dan berpusat pada satu titik. Semua ingat, semua musuh politik Suharto harus siap disngkirkan. Hanya satu atau dua yang berani ngeyel. Dari Islam ya Cak Nur sementara dari Katolik ya Romo Mangun. Sisanya, termasuk ya mingkem saja.

Dengan jargon pembangunan nasional, dia berhasil mengarahkan semua lembaga negara dan publik untuk satu suara menyokong kekuasaan. Mulai dari parlemen, institusi penegak hukum, hingga media, tak luput dari sentuhan kekuasaannya.

Praktis, lembaga legislatif dan yudikatif yang seharusnya melakukan fungsi kontrol terhadap eksekutif, menjadi tak lebih sebagai simbol. Begitu pula media yang seharusnya bisa menjadi alat pengontrol pemerintah, justru memiliki fungsi yang terbalik: menjadi alat pemerintah untuk mengontrol publik. Makanya ironis juga, kalo media saat ini mengatakan diri mereka suci, watch dog, membangun bangsa dll.

Ya, ini tentunya sesuai dengan salah satu karakter yang sangat menonjol dalam diri Soeharto, sukar untuk diperintah dan dikontrol.

Bahkan saking menonjolnya sifat ini, sampai-sampai Robert E. Elson pernah berkata bahwa Soeharto adalah manusia satu dimensi. Dia tidak berusaha untuk menemukan arah dan jalan baru dalam pengetahuannya (termasuk kekuasaannya). Dia bertindak hanya dengan melihat ke dalam dirinya, berdasarkan pengalamannya.

“Namun, Soeharto lihai dalam memanfaatkan kesempatan dan mengarahkan sesuatu menjadi keuntungan,” ujarnya.

Kelihaian Soeharto memanfaatkan kesempatan terbukti pada tragedi 30 September 1965 yang sampai saat ini belum jelas kelindannya. Dia berhasil memanfaatkan kemelut politik yang berlangsung, menjadi sebuah momen yang sangat menguntungkan dirinya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh sejarawan LIPI Asvi Warman Adam, sebagaimana yang tertuang dalam buku yang bertitel Soeharto, Sisi Gelap Sejarah Indonesia (2004).

Pada 3 Juli 1946 Soeharto terlibat dalam percobaan kudeta yang kemudian diketahui gagal. Sehari sebelumnya, Soeharto turut membebaskan para tahanan politik sosialis penentang Kabinet Hatta a.l. M. Yamin, Iwa Kusuma Sumantri, dan Dr. Sutjipto dari penjara Wirogunan, untuk lalu membawanya ke resimen Wiyoro.

Di tempat ini para tahanan poltik itu merumuskan sebuah surat yang intinya meminta Soekarno untuk menyerahkan kekuasaan kepada Tan Malaka. Dalam pertemuan, itu turut hadir Mayor Jenderal Soedarsono, Komandan Divisi III APRI, yang mendukung upaya kudeta itu.

Dalam otobiografinya, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya (1988), Soeharto menuturkan dirinya didatangi seorang utusan dari Presiden yang juga menjadi Panglima Tertingi APRI agar menangkap Mayjen Soedarsono dengan alasan turut dalam usaha kudeta terhadap Soekarno.

Di satu sisi Soeharto merasa bimbang, karena baik Soekarno ataupun Soedarsono adalah dua orang pemimpinnya. Namun di sisi lain dia tak ingin kehilangan jabatannya hanya karena melakukan insubordinasi pada presiden.

Ya, Soeharto dikenal sebagai jenderal yang mengadopsi nilai-nilai budaya Jawa dalam kehidupannya. Dia lebih sering diam, sedikit senyum, tampak bersahaja, dan sederhana. Namun, di balik itu semua, Soeharto adalah seorang perwira yang gemar menikam rekannya sendiri.

Asvi Warman Adam mengungkapkan, berbagai kejadian itu menjadi petunjuk karakter Soeharto di kemudian hari, yaitu caution, coolness, calculated decisiveness when the time was right.

Pendendam sejati

Terhadap lawan-lawan politik serta para pengkritiknya, Soeharto dikenal sebagai pribadi yang tak memiliki ampun. Sekali si musuh berhasil dipegang, maka jangan harap dia akan melepaskannya begitu saja.

Tragedi pembantaian terhadap pengikut Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah bukti yang sangat jelas, betapa seorang Soeharto adalah pribadi yang sulit membangun rekonsiliasi dengan para musuhnya.

Bahkan, hingga kini PKI tak lagi mendapat tempat meski Soeharto sekarat, lha gimana selama dia berkuasa, dengan tega dan sadar dia memperlakukan para anggota keluarga hingga keturunan eks organisasi politik ini tak ubahnya sebagai penganut penyakit kusta di jaman perjanjian lama dan baru.

Bahkan saat menjadi presiden pun, dia masih saja mengingat peristiwa pahit yang menimpa dirinya berpuluh tahun sebelumnya. Ketika itu Soeharto yang masih berusia delapan tahun sering diejek teman-temannya dengan sebutan Den Bagus tahi mabul (tahi kering).

“Saya ingat terus kepada seseorang yang jelek rupanya, merongos dan mengece, mencemooh saya… Saya jadi merasa sedih. Saya sebagai orang yang tidak punya masih juga diejeknya. Saya punya pikiran, barangkali dia iri hati. Tetapi saya tidak mengadu kepada siapa pun sewaktu mengalami kejadian ini,” tutur Soeharto.

Terlepas dari seorang Soeharto yang bertangan dingin, namun di sisi lain anak desa Kemusuk ini juga punya sisi-sisi yang hangat dan ngayomi kaum tani. Politiknya meski kejam berusaha menghidupi kaum tani. Impor beras atau pupuk kalo bisa ya jangan ketahuan. Agar rakyat ayem tentrem.

Dia juga akan terus dikenal sebagai pemimpin yang sukses membawa Indonesia yang morat-marit di bawah kepemimpinan Sukarno yang megalomania dan penuh retorika.

Fakta akan terus mencatat, di bawah kepemimpinan Suharto Indonesia menjadi kekuatan ekonomi, pemilik persenjataan lengkap dengan tentara berkemampuan nggegirisi di Asia. Tak heran Eropa dan Amerika Serikat pun merapat. Bantuan fulus dan senjata mengucur deras. Tidak seperti IMF, mbantu tapi ngucurnya mirip ingus. naik turun ngerepotin banyak syarat.

Sayang, di puncak kekuasaannya Pak Harto gagal menangkap peringatan lugas pembantu setianya, Benny Moerdani agar junjungannya itu mulai melakukan regenerasi kepemimpinan dan mengendalikan keluarganya.

Peringatan tanpa tendheng aling-aling orang kepercayaannya yang berujung pada pemecatan pria berwajah sangar itu usai Sidang Umum MPR 1988.

Julius Pour dalam Benny: Tragedi Seorang Loyalis (2007) menulis tragedi perang dingin antara bos dan anak buah yang dikenal sama-sama berdarah dingin itu. Tragedi yang cukup lama dipendam dan hanya jadi kasak-kusuk bau pesing.

Entah ada hubungannya atau tidak, sepuluh tahun berselang peringatan lugas seorang Benny yang intel dan pasukan komando jagoan berinsting tajam itu terbukti benar.

Suharto harus gelagapan diterjang krisis ekonomi dan demonstrasi besar-besaran mahasiswa. Kali ini demonya tak main-main karena bergerak menyeluruh dan masif.

Andai Soe Hok Gie hidup, pasti dia akan mengakui gerakan mahasiswa 1998, jauh lebih terorganisir, canggih dan mendapat perhatian dunia.

Sayang, seperti halnya gerakan 1966 yang sukses. Harus ada tumbal nyawa manusia. Tumbalnya bahkan terlalu besar dan memalukan. Etnis minoritas China, mahasiswa hingga rakyat biasa yang hanya tahu grabak-grubuk menjarah ria.

Akhirnya, tepat pada 21 Mei 1998. Saya masih ingat. Siang itu, di klinik Bidan Yosi, di dekat Prambanan, Klaten. Bagaimana lupa, selain bersejarah saya saat itu sedang be’ol ketika Suharto membacakan pengunduran dirinya tepat di hari kenaikan Isa Almasih.

Saya tahu banyak yang gembira dengan keputusan itu.Tapi saya tahu juga, sebagian pentolan mahasiswa Yogyakarta justru sebal dengan keputusan itu. Bagi mereka yang punya pikiran tak umum itu, mundurnya Suharto adalah kegagalan gerakan mahasiswa 1998 karena sampai detik-detik akhir pengunduran Suharto belum ada wakil dari generasi muda yang siap maju memimpin bangsa.

Akhirnya, ya beginilah perjalana negeri ini setelah 10 tahun reformasi. Gradak gruduk dikendalikan orang-orang tua yang sibuk dengan kepentingan pribadi dan golongannya masing-masing.

Barangkali nyawa pak Harto masih enggan meninggalkan jazadnya karena tak tenang menyaksikan negeri ini masih belum jelas langkahnya.

Saya sembari mendengarkan Xi Lu Xiang Bei-nya Jay Cou cuma bisa berkhayal bisa menyarankan pada Pak Harto: “Udahlah pak! Show must go on. Istirahatlah dengan tenang! Bu Tien udah menanti.”

Biarlah kami-kami yang meneruskan tongkat estafet bangsa ini. Meski tertatih-tatih kami yakin dengan keterpaksaan, Indonesia akan melangkah sesuai mimpi-mimpimu. Soal nama baikmu? Biarlah anak cucu kami mengingatmu dalam bait-bait lagu ‘Rascal King’ karya Mighty Mighty Bosstones yang ska-core itu.

The rascal king behind the bars
Or the one in front of them
A legendary character
When?
Only then
Where?
Only there
A hero or a hooligan?
Well, that parts never clear
Pride or shame, its all the same
Whos innocent or whos to blame?
Politics or just a game?
Well in the end they knew his name
The last hurrah? nah! Id do it again
The rascal king behind the bars
Or the one in front of them

*Ditulis 19.30 menjelang berangkat lagi ke RS Pusat Pertamina tempat Pak Harto dirawat

4 Responses to "Please Rest In Peace Pak Harto"

goro2 koen ndungo ben soehartoo cepet mati, mangkane wonge gak mati2. doamu kan ga pernah diterima tuhan.

ada tertulis: ‘Gembala selalu mencari dombaNya yang hilang’

doain aja biar cepet sembuh .. abis itu biar bisa digantung …
hueaueuaeuaeuaheua

walah.
ada tertulis juga “Kasihilah musuh-musuhmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: