it’s about all word’s

Bad Things Soeharto

Posted on: January 13, 2008

Wabah baru: memaafkan Soeharto

Beberapa hari terakhir ini, ada wabah baru. Cepat membiak. Semua orang seakan sedang kena gejala flu. Khas Indonesia. Alias kalo ngga ngikut jadi serasa ngga afdol dan ngga gaul.

Apa itu? Memaafkan Soeharto. Menutup dosa-dosanya. Mikul dhuwur mendhem jero. Khas orang Jawa. Bukan pendekar kung-fu China yang kalau sekarat pun masih berbisik “Balaskan dendamku!”

Usai Gus Dur mangap! Wah tak terkira banyaknya orang yang langsung manggut-manggut meminta dan menyarankan hal ‘mulia’ yang bertentangan dengan Tap MPR No 11/1998 .

Memaafkan! Tindakan yang khas Yesus banget. Meski dianiaya dia menasehati murid-muridnya ‘Kasihilah musuh-musuhmu!. Ditampar pipi kiri beri pipi kanan. Memaafkan bahkan masih dilakukan Yesus ketika di kayu salib. “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak mengetahui apa yang mereka perbuat!”

Kejahatan Orde Baru

Tiga puluh dua tahun lebih rezim Orde Baru dengan Soeharto sebagai penguasa militer dan Golkar, selama itu pula berbagai tidak kejahatan dan pelanggaran HAM dilakukan guna mempertahankan kekuasaan,dan menumpuk harta kekayaan

Pembantaian Rakyat
Pembersihan PKI 1965-1971 800.000 – 3.000.000 jiwa
Petrus 1983-1984 10.000
Tanjung Priok 1984 250 jiwa
Makassar 1985 4 Mahasiswa
Warsidi-Lampung 1989 25 jiwa
Haur Koneng 1993 25 orang
Waduk Nipah 1993 47 jiwa
DOM Aceh 1980 – 1990 30.000 jiwa
27 Juli 1996 30 jiwa (belum yang hilang)
OPM Papua 1970 – 1990 8.000 jiwa
Timor-Timur 1975-1999 300.000
Marsinah 1993 1 Orang
Udin Bernas 1996 1 Orang
Tim Mawar 1996 – 1997 22 Orang
Trisakti 1998 4 jiwa

Berbagai kasus lain sampai saat ini diperkirakan sekitar 200 kasus pembunuhan yang dilakukan Orde Baru dengan berbagai motif mencapai tidak kurang dari 1.000.000 jiwa (meninggal).

Selama 32 tahun Orde Baru berkuasa tidak kurang dari 4.000.000 jiwa rakyat telah menjadi korban. Menurut sejarawan Ong Hok Giam jumlah korban kekuasaan kolonial Belanda selama 350 tahun masih kalah dengan Orde Baru selama 32 tahun.

Beberapa Kasus Penggusuran

Ciuleunyi Bandung – Jabar 300 ha 1.000 KK
Raci Pasuruan – Jatim 2.000 ha 4.000 KK
Grati Pasuruan – Jatim 8.000 ha 12.000 KK
Nyamil Blitar – Jatim 90 ha 400 KK
Kunir Lumajang – Jatim 80 ha 400 KK
Pungguk Blitar – Jatim 36 ha 150 KK
Nyinyir Blitar – Jatim 100 ha 600 KK
Sunggal Medan – Sumut 167 ha 200 KK
Tanjung Bulan Sum-Sel 12.000 ha 100.000 KK
Martoba Pematang Siantar – Sumbar 54 ha 130 KK
Percut Deli Serdang – Sumut 1.236 ha 2.000 KK
Tuntungan Sumut 1.000 ha 1.800 KK
Kedung Ombo Jateng 4 Kecamatan 27.000 KK
Pulau Bintan Riau Kepulauan 23.000 ha 14.000 KK
SUTT / SUTET Jawa-Bali-Sumatera-Dll Ratusan Desa
Agra Binta Cianjur Selatan – Jabar 10 Desa 10.000 KK
Lahan Sejuta Hektar

Kasus penggusuran tanah lainnya masih berjumlah sangat banyak (sekitar 1.800 kasus yang tercatat) di berbagai daerah dengan perkiraan korban gusuran tidak kurang dari 3. 000.000 jiwa. motif umum penggusuran ini adalah pengambilan hak tanah rakyat menjadi pabrik, pangkalan militer, waduk dan sebagainya.

Kasus Korupsi – Kolusi – Penyalahgunaan Wewenang
Monopoli Cengkeh-BPPC 118 Miliar
Mobnas Timor 100 Miliar
Dakab 85 Miliar
Yayasan Super Semar 90 Miliar
Tata niaga jeruk 32 Miliar
Impor gandum 800 Triliun
Jalan Tol 60 Triliun
PERTAMINA 77 Triliun
Listrik Swasta 160 Triliun
FREEPORT 200 Triliun
Dana Non Budgeter 200 Triliun
Mark Up dana BUMN 150 Triliun
Dana Reboisasi 50 Miliar

Diperkirakan masih ada sekitar 1.200 macam bentuk korupsi, kolusi dan manipulasi yang dilakukan oleh Soeharto dan kroni-kroninya ( Militer, birokrat dan konglomerat) dengan jumlah uang rakyat yang dikorupsi tidak kurang dari US$220 miliar, mulai tahun 1967 sampai saat ini.

Salah satu hasil korupsi dana yayasan –yayasan adalah rumah supermewah di atas lahan seluas 1 hektare di Taman Mini Indonesia Indah atau kompleks Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

Seperti isi dakwaan Jaksa Muchtar Arifin, pada 19 Mei 1995 dan 22 Maret 1996 Soeharto selaku Ketua Yayasan Bantuan Beasiswa Yatim Piatu Tri Komando Rakyat (Trikora) memberikan dana yayasan sebesar Rp 3,565 miliar kepada Yayasan Purna Bhakti Pertiwi.

Lalu, pada 21 Maret 1997 dan 20 April 1998 Yayasan Trikora kembali mengucurkan dana Rp 3,5 miliar kepada yang bukan berhak. Dana yayasan yang sesungguhnya didirikan untuk membantu anak-anak para serdadu yang tewas dalam operasi pembebasan Irian Barat itu diberikan kepada Dewan Penyantun Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Padahal pengurus yayasan itu tak lain dari Soeharto, Ny. Tien Soeharto, sampai para besan. Kalaupun ada pengurus yang tak berhubungan darah dengan Cendana, dia adalah mendiang Hedijanto dan Sampoerno yang selama ini dikenal sangat dekat dengan Soeharto.

Penyaluran dana itu oleh Jaksa Muchtar Arifin dinilai sebagai tindak pidana korupsi. Akibat tindakan itu, ”Dana milik Yayasan Trikora sebesar Rp 7,065 miliar tak dapat ditarik kembali dan tidak dapat dimanfaatkan lagi sesuai peruntukannya,”

Namun, jumlah itu belum seberapa dibanding “hadiah” Soeharto kepada tiga anak laki-lakinya dan kroni paling dekatnya, Bob Hasan. Yayasan yang dipakai membantu bisnis Tommy, Sigit, dan Bob adalah Yayasan Supersemar, Dharmais, dan Dakab.

Kecuali dipakai menambal kebocoran Bank Duta akibat rugi valas tahun 1990 sebesar US$ 419 juta, Supersemar juga dipakai menyelamatkan bisnis-bisnis Tommy, Sigit, dan Bob yang amburadul sebanyak Rp 1,026 triliun.

Adapun yang diperuntukkan bagi Bambang Trihatmodjo, anak ketiga Soeharto, adalah Yayasan Dana Sejahtera Mandiri (Damandiri) dan Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan Siti Hartinah Soeharto. Damandiri diperintahkan untuk membuka deposito di Bank Andromeda sebesar Rp 112,7 miliar milik Bambang.

Setelah bank itu tewas, Soeharto memerintahkan Bambang selaku Bendahara Damandiri untuk mendepositokan duit Rp 330 miliar di Bank Alfa selaku bank pengganti Bank Andromeda. Enak betul kan jadi anak Soeharto.

Yang perlu ditunggu sekarang, bagaimana Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyikapi dakwaan jaksa yang menjerat Soeharto dengan UU No.3/1971. Ganjaran maksimum tindak pidana korupsi menurut UU itu adalah penjara seumur hidup.
Selain beberapa kualifikasi kasus tersebut, masih banyak terjadi kasus lainnya yaitu antara lain adalah : Penangkapan semena-mena, Pembredelan media massa (sejak jaman Kompas dibreidel hingga jaman Tempo, Detik, Editor, dll ), Penculikan aktivis mahasiswa, aktivis buruh, penyalahgunaan kewenangan dan sebagainya.

Dari seluruh peristiwa kekejaman dan berbagai pelanggaran HAM tersebut ternyata sampai saat ini tidak satupun yang terungkap, sebaliknya, hukum (sistem dan birokrasi) pada kenyataannya justeru memberikan vonis bebas kepada Soeharto dan kroninya.

Dari kenyataan itu maka sesungguhnya kita tahu dan sadar bahwa hukum yang berlambang Dewi Keadilan ternyata memang tidak berpihak kepada rakyat dan rasa keadilan yang hidup di masyarakat, hukum justru dijadikan alat untuk melanggengkan Impunnity atau pengampunan berlandaskan belas kasihan kolektif.

Tiba-tiba saya jadi ingat nasib berbeda para pembunuh di Indonesia untuk kasus terorisme yaitu Amrozi cs yang ngeyel yakin tindakannya benar justru berkali-kali diperjuangkan menerima pengampunan atau keringanan hukuman sementara Fabianus Tibo yang mengaku bertobat cepat-cepat dihukum mati.

Keadilan=belas kasihan? Angkatan ’98 mari kita merenung dan tercenung.

*ditulis sembari menanti kabar terakhir Soeharto

5 Responses to "Bad Things Soeharto"

okeee deh…

anu kalo george habash buat umat palestina pahlawan atau gimana tuh

[…] Maret 11, 2008 Super Semar, Semar Super dan Semar […]

ada yang kurang tuh mas, yang paling parah adalah depolitisasi rakyat indonesia, gara-gara soeharto skarang orang-orang sampe malas cuma buat ikut pemilu. kedua merusak nama baik negara dan bumn, jadi privatisasi ngebet dilakukan gara-gara ulah si om tukang senyum di atas penderitaan orang lain.

Mengenang Peristiwa 1965
Oleh : Yoseph Tugio Taher | 24-Sep-2008, 19:44:55 WIB
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=8&dn=20080924184600

Saya kutip 2 paragraf untuk menggugah rekan-rekan agar mau membaca artikel tsb. sbb:

Memang tidak salah kalau orang berkata, bahwa di jaman diktator Soeharto, lebih berharga seekor anjing daripada seorang komunis. Begitulah Pancasila dan Kemanusiaan menurut Ordebaru/Soeharto. Saat itu, Indonesia melupakan kebudayaan manusia timur yang sopan dan beradab. Namun, semua itu, semua kejadian itu, semua kebiadaban itu, dilupakan begitu saja, tidak diingat, tidak dibicarakan, dan tidak diungkap. Sejarah hanya menulis satu versi, ciptaan Ordebaru yang dijejalkan, disumpelkan kepada rakyat, hingga bocah yang tak tahu apapun akan mengatakan G30S sebagai “pemberontakan PKI”. Bayi yang baru lahirpun dijejali ucapan “G30S/PKI”.
……………………
Bahkan ada purnawirawan Jenderal Orba yang tidak tahu atau sengaja menutup dan menyembunyikannya, dengan mengatakan bahwa di Indonesia tidak ada kejahatanan kemanusiaan berat. “Kejahatan HAM berat itu seperti di Rwanda, Kamboja dan Nazi Jerman”. (myRMnews 24/4/08).
……………………
Jadi 3 juta manusia yang dibantai itu, dalam ingatan sang Jenderal, barangkali dianggapnya hanya sebagai jangkrik atau coro dan bukannya manusia! Beliau lupa, atau pura-pura lupa, akan pengakuan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo, pengakuan Kol.Jasir Hadibroto, pengakuan Jenderal Kemal Idris, pengakuan Jenderal Sumitro dan lain-lainnya yang melaksanakan pembunuhan massal terhadap bangsa Indonesia yang dituduh PKI.

Mana opsi sharenya?aku mau bagikan lewat jejaring sosial?agar muncul opini publik?buat apa jika hanya aku yg bisa baca berita ini?buat apa kebenaran disimpan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: