it’s about all word’s

Brutus and Soeharto

Posted on: January 14, 2008

Para Brutus Soeharto

Dalam drama berjudul Julius Caesar karya William Shakespeare (1564-1616) ada satu sosok fenomenal yaitu Marcus Junius Brutus Caepio (85-42 SM), yang lebih dikenal sebagai Brutus.

Brutus adalah seorang Senator Kota Roma atau biasa disebut Senatus atau majelis perundingan kerajaan. Brutus menjabat pada akhir Republik Roma dan merupakan salah seorang pembunuh Gaius Julius Caesar (100-44 SM).

Dengan penuh ironi, Brutus bersama teman-temannya sesama senator, merencanakan pembunuhan atas diri Julius Caesar. Brutus dan orang-orangnya berhasil membunuh sang kaisar dalam pembunuhan dramatik yang terjadi pada 15 Maret 44 SM yang kemudian mencetuskan perang saudara di Republik Roma. Brutus kemudian diadili oleh Senatus sebagai “pengkhianat” kerajaan.

21 Mei 1998 adalah saat paling dramatis bagi Soeharto yang selama 30 tahun kukuh di puncak kekuasaan. Betul-betul dramatis karena, sebagai seorang pemimpin, Soeharto dikhianati orang-orang dekatnya ketika medan perang sedang panas-panasnya.

Berikut para Brutus di sekeliling Soeharto yang meninggalkannya ketika pemimpin operasi perebutan kota Yogya selama 6 jam itu bergelut mempertahankan kedudukannya yang digoyang demonstrasi mahasiswa.

Tiga hari sebelumnya atau 18 Mei 1998, di Senayan Ketua MPR/DPR Harmoko bersama pimpinan Dewan lain secara mengejutkan meminta Soeharto turun takhta. Pak Harto jelas shock kita Harmoko yang berambut klimis biasanya kan minta petunjuk. Eh ini kok malah memberi petunjuk.

Setelah itu badai makin kencang. Diawali pengunduran diri Abdul Latief dari jabatannya sebagai menteri Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya. Latief sebelumnya adalah Menteri Tenaga Kerja Kabinet Pembangunan VI.

Setelah Latief, maka 20 Mei 1998, pukul 20.00 WIB, 14 Menteri dan sebagian besar adalah menter-menteri di bawah Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri merangkap Kepala Bappenas, Ginandjar Kartasasmita melayangkan surat pengunduran diri yang diterima Yusril Ihza Mahendra yang diteruskan kepada Mensesneg saat itu, Saadilah Mursyid.

Menteri-menteri yang yang mundur dari Kabinet Pembangunan VII beberapa jam sebelum Soeharto terdepak dari puncak kekuasaan, selain Abdul Latief adalah:

1. Ginandjar Kartasasmita, Menko Ekuin
2. Akbar Tandjung: Menteri Negara Perumahan Rakyat dan Pemukiman
3. AM Hendropriyono: Menteri Transmigrasi dan Pemukiman Perambah Hutan
4. Giri Suseno : Menteri Perhubungan
5. Haryanto Dhanutirto : Menteri Negara Pangan Hortikultura dan Obat-obatan
6. Kuntoro Mangkusubroto : Menteri Pertambangan dan Energi
7. Rachmadi Bambang Sumadhijo : Menteri Pekerjaan Umum
8. Rahardi Ramelan: Menteri Negara Riset dan Teknologi merangkap Kepala BPPT
9. Subiakto Tjarawerdaja : Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusaha Kecil
10. Sanyoto Sastrowardoyo : Menteri Negara Investasi dan Kepala BKPM
11. Sumohadi: Menteri Kehutanan dan Perkebunan
12. Justika S Baharsyah: Menteri Pertanian
13. Theo L Sambuaga : Menteri Tenaga Kerja
14. Tanri Abeng: Menteri Negara Pendayagunaan BUMN

Menteri-menteri Kabinet Pembangunan VII dilantik 16 Maret 1998 menyusul terpilihnya Presiden Soeharto dan Wapres BJ Habibie oleh MPR usai Pemilu 1997. Jumlah menteri Kabinet Pembangunan VII seluruhnya 36 orang termasuk Gubernur Bank Indonesia dan Jaksa Agung.

Setelah penguduran diri ke-15 menteri itu, Pak Harto oleng dan berujung pada pengunduran diri dan menyerahkan kekuasaannya pada BJ Habibie, Wakil Presidennya.

Namun manuver Harmoko sungguh luar biasa. Dia kemudian Tap MPR 11/1998 yang berisi penuntasan kasus hukum termasuk Soeharto. Tap kontroversial tapi menyenangkan banyak orang itu kemudian diperkuat Tap MPR No 1/2003 yang disetujui Ketua DPR Akbar Tandjung.

Theo L Sambuaga sudah datang menjenguk Soeharto 7 Januari lalu usai mantan Menteri Kehakiman Oetojo Oesman, dan mantan Menteri Urusan Peranan Wanita (UPW) Tuti Alawiyah.

Tiga hari kemudian, giliran mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar Tandjung. Selain diam seribu bahasa, dia juga menghindar dari wartawan. Akbar tak berjalan melewati lobi utama sebagaimana ketika dia datang sebelumnya tapi memilih jalur samping, melewati ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Yang paling bikin bingung? Amien Rais. Dulu ketika 1998 beliau mengerahkan massa dan paling getol menghujat Soeharto termasuk meneken Tap MPR No 1/2003 eh kini malah mengajak masyarakat masyarakat memberi maaf Soeharto.

Pagimane seh pak??? setelah terbukti menikmati dana haram Non Bujeter Departemen Kelautan dan Perikanan kok jadi error.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: