it’s about all word’s

Supersemar Supersamar

Posted on: January 14, 2008

Pelengkap sejarah untuk menguak Supersemar

Judul : Jenderal M. Jusuf
Panglima Para Prajurit
Penulis : Atmadji Sumarkidjo
Penerbit :Kata Hasta Pustaka, Maret 2006
Tebal : 458 halaman

Selain teks asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, dokumen penting lainnya bangsa ini adalah Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang menandai perpindahan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.

Berkat surat itu, ratusan ribu anggota dan simpatisan, termasuk golongan rebutan beras pembagian PKI dihukum mati atau memenuhi tempat pembuangan dan terbuang di masyarakat.

Sayangnya, sampai sekarang kabut misteri tetap tebal menyelimuti sejarah secarik surat itu. Soekarno sudah membantah tetapi Soeharto jalan terus.

Tak heran masyarakat pun selalu menanti buku-buku biografi milik saksi sejarah itu a.l Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, Memoar Mayjen Raden Pranoto Reksosamodra, Soebandrio: Kesaksianku Tentang G-30-S, Yoga Sugama: Memori Jenderal Yoga, hingga Kharis Suhud: Catatan Seorang Prajurit.

Sayangnya, buku-buku itu bukannya menjawab tuntas tapi justru menambah pertanyaan.

Rasa penasaran itu kembali terusik dua tahun lalu saat tersiar kabar akan terbitnya buku sejarah perjalanan karir dan sepak terjang Jenderal M. Yusuf.

Besar harapan buku ini akan menjawab teka-teki seputar keberadaan dan isi dari Supersemar, termasuk keberadaan pentolan pemberontak Sulawesi, Kahar Muzakar.

Publik pun antusias menunggu. Harapan itu sempat buyar seiring mangkatnya M. Jusuf pada pertengahan Juni 2005, sementara penerbitan buku ini tak kunjung jelas.

Tak terjawab

Penantian dan harapan setinggi gunung itu justru buyar setelah membaca isi buku yang ditulis wartawan senior, Atmadji Sumarkidjo. Penyebabnya, tanda tanya tentang Supersemar hingga Kahar Muzakar justru tak terjawab.

Orang-orang yang mendukung buku ini seperti Salim Said, Wapres Jusuf Kalla, A.M. Fatwa, Mar’ie Muhammad, Anhar Gonggong tidak cukup mampu atau berani menguak kedua tabir sejarah itu.

Hasilnya, buku ini seperti halnya biografi para jenderal sebelumnya, terjebak pada sejarah kejayaan dan profil diri dari M. Jusuf selama hidupnya. Kisah perang, keteladanan, dan perhatian pada bawahan lah yang menjadi titik berat buku ini.

Satu hal yang patut dicatat adalah keberanian penulis untuk menguak silang sengketa antara Menhankam/Pangab M. Jusuf dan Soeharto hingga rencana pemberontakan para perwira pendukung Jusuf saat akan digusur oleh Moerdani.

Buku ini, yang diluncurkan Jumat pekan lalu di Hotel Sahid Jaya Jakarta, dan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wapres Jusuf Kalla dan sejumlah pejabat lainnya, makin menguatkan sifat Soeharto yang tidak pernah percaya pada jenderal terdekatnya. Sebut saja korban sakit hati akibat curiga berlebih the smiling general itu, mulai dari Nasution, Jusuf, Soemitro, Moerdani, hingga mantunya sendiri, Prabowo.

Tapi buku setebal 458 halaman ini berhasil menyampaikan besarnya perhatian jenderal asal Bugis ini pada kondisi prasarana dan kesejahteraan prajurit TNI. Sejarah mencatat, di bawah M. Jusuf, Indonesia kembali diakui sebagai macan Asia.

Tanda tanya soal Supersemar yang terjawab di buku ini rasanya tak bisa langsung ditimpakan pada penulis atau tim pendukung buku. Penyebabnya, Soeharto tetap bungkam.

Sebab selain Soeharto, sudah tidak ada lagi saksi sejarah yang bisa menerangkan dengan benar dan jelas tentang Supersemar.

Beberapa analis sejarah memercayai Supersemar masih bisa terjawab andai saja Direktur Intelijen AD sekaligus Komandan G-1 KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Ernest Julius Magenda, mau buka mulut.

Tapi, siapa pun tahu sumpah profesinya di dunia abu-abu itu menuntutnya membawa rahasia operasi hingga berkalang tanah.

*Bisnis Indonesia edisi: 19/03/2006

4 Responses to "Supersemar Supersamar"

kecepatan baca buku elu bener bener ada di gigi lima ya?

kita kan mesin industri mel

NASKAH ASLI SUPERSEMAR DITEMUKAN ?

Oleh Dasman Djamaluddin

“Presiden Punya Informasi tentang Naskah Asli Supersemar,’ itulah salah satu lead berita yang saya baca.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono katanya memiliki informasi tentang keberadaan naskah asli Surat perintah 11 Maret yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 11 Maret 1966. Bahkan Presiden sudah meminta Arsip Nasional menindaklanjuti benar atau tidaknya informasi tersebut.

Sejauh ini generasi muda bangsa masih mendambakan ditemukannya surat asli tersebut.Sejak 11 Maret 1966, naskah asli Supersemar hilang. Di tengah-tengah masyarakat sudah beredar berbagai versi Supersemar. Sudah tentu yang beredar itu naskah palsu, karena yang asli belum ditemukan. Membingungkan, karena naskah aslinya tidak juga ditemukan. Untunglah pencarian naskah asli Supersemar tetap dilaksanakan. Buktinya Presiden RI sekarang punya informasi tentang itu.

Diakui bahwa sudah muncul rasa “bosan”, jika seseorang mendengar naskah asli Supersemar. Apa betul naskahnya bisa diperoleh ? Sebagai contoh, kebosanan itu telah merasuki pola berpikir para intelektual kita dalam Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif “Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar,” pada Selasa, 25 Maret 2008 di Fakultas Hukum Universitas YARSI, Jakarta.

Selain saya sebagai pembicara (Penulis Buku:”Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar”/Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar/LPSS), hadir pula Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Penulis buku:”Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit”) dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966). Terlihat sangat jelas ada ‘kebosanan’ berbicara tentang naskah asli Supersemar. Bahkan Anhar Gonggong dan Atmadji Sumarkidjo mengatakan, naskah asli adalah bagian masa lalu, oleh karena itu naskah asli Supersemar tidak perlu dicari). Tetapi saya di dalam makalah :”Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang,” tetap bertahan bahwa naskah asli Supersemar harus ditemukan, demi generasi pewaris bangsa ini ( makalah lengkap ada di http://dasmandj.blogspot.com).

peran para pelaku orde baru khususnya para jenderal ri
sangat menarik dilacak dari terbentuknya golkar ciptaan abri sampai tampilnya calon sparring partner penentu sejarah pasca bung karno yakni abri plus golkarnya sampai menjelang harus pupusnya sby yang bakal fenito pada 2014 yang mengupayakan penerusnya a.l annie yudohoyonom yang jika berhasil bakal jadi annie eva peron a la indonesia. tapi bagaimana bakal tabrakannhya antara abri dengan nasional demokratnya surya paloh dan hb x plus jk yang adalag derifat golkarnya jenderal
suharto ?
jika terbukti murid bernama jk bisa lebih pintar daripada sang guru (baca: sby dan jenderal suharto), maka 2014 bisa jadi turning point dari era abri/golkar ‘murni ke nasional demokrat
yang ditransfusi-darahi oleh trah hb ix (mataram) via hb x

selamat untuk pak atmadji terus menjadi perekam histori meneruskan mengikuti jejak sejarah tanah air dan bangsa !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: