it’s about all word’s

Prince Akishino: Fish and Fowl

Posted on: January 18, 2008

Ahli burung itu hinggap ke Jakarta

Jakarta akhir pekan ini bakal mendapat kunjungan dari seorang ahli burung asal Jepang. Tak sembarang ahli hewan kicauan karena untuk menyambutnya Indonesia memberikan sambutan kenegaraan.

Sedikit meminggirkan kabar kesehatan mantan Presiden Soeharto dan liarnya harga kedelai, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah memastikan untuk menemui ahli burung itu.

Tentu ada yang istimewa dari ahli burung yang menjadi tamu maha penting peringatan Perayaan 50 Tahun Hubungan Indonesia – Jepang di Taman Mini Indonesia Indah, 20 Januari.

Nama ahli burung asal Jepang itu cukup singkat Akishino, dia lahir 30 November 1965 dari pasangan terpenting di Kekaisaran Jepang, Kaisar Akihito dan Maharani Michiko.

Meski pemilik nama kecil Fumihito ini adalah pangeran kedua dalam Takhta Bunga Seruni, tapi sejak sang istri putri Kawashima Kiko melahirkan bayi laki-laki yang dinamai Hisahito dua tahun lalu, sosok Akishino sontak menjadi penting.

Hal ini terjadi karena kakak tertuanya, Putra Mahkota Naruhito yang menikah dengan putri Masako Owada sampai saat ini baru dikaruniai anak perempuan, Putri Aiko yang kini lahir 1 Desember 2001.

Sesuai aturan kekaisaran yang menganut paham patriarkhi, maka calon kuat pengganti Kaisar Akihito yang kini berusia 75 tahun itu ada tiga yaitu Putra Mahkota Naruhito, Pangeran Akishino dan generasi selanjutnya, si kecil Hisahito.

Bagi Indonesia, Akishino jelas memiliki posisi penting dan sangat kultural. Dibandingkan Putra Mahkota Naruhito yang gemar mendaki gunung, maka ahli burung ini jelas sangat mengenal Indonesia.

Setelah berhak membawa gelar ahli ikan dari Universitas Oxford, Inggris, penggemar berat The Beatles itu masuk keluar hutan Indonesia di tahun 1993 demi mendapatkan gelar doktor ilmu perburungan.

Ketika itu Pangeran Akishino menyambangi Jawa Timur dan Bali untuk mengintip ayam hutan di daerah tersebut. Tak hanya melakukan observasi, di setiap daerah yang dikunjungi, dia selalu meninjau peternakan ayam lokal serta membawa bibit ayam lokal itu untuk dikembangkan di negerinya.

Ahli ikan

Tak heran ketika setahun berselang, Akhishino kembali melakukan muhibah ke Nusantara. Lagi-lagi ayam yang membuatnya terpana, ketika itu dia mendapat suguhan menikmati merdunya kokok ayam Balenggek di Solok, Sumbar.

Ayam Balenggek adalah ayam endemik yang hanya ada di Batusangkar, Sumatera Barat. Meski sama-sama keturunan ayam hutan, kokok Balenggek lebih tegas dari ayam Bekisar yang cenderung mendayu-dayu.

Usai berkunjung ke Indonesia, Pangeran Akishino lalu meneruskan kerja lapangannya, menelusuri hutan-hutan daerah Yunnan, China hingga gelar ahli ayam hutan itu diperolehnya dua tahun berselang.

Selain bergelar ahli burung, belakangan pria penyuka olahraga tenis itu juga ditahbiskan sebagai ahli ikan nila oleh masyarakat Thailand yang sempat kesulitan mendapatkan sumber protein hewani yang murah meriah.

Gelar ahli ikan nila diberikan bukan karena gelar master ilmu taksonomi ikan lele-nya tetapi berkat kerja keras sang pangeran yang rajin meluangkan waktunya mengkampanyekan gerakan cinta ikan nila ke pelosok dusun Negeri Gajah Putih itu.

Latar belakang Akishino memang unik dan tak banyak diduga orang. Setelah lulus dari pendidikan SMA dia menempuh dua cabang keilmuan yang saling bertolak belakang di Universitas Gakushuin yaitu Ilmu Hukum dan Ilmu Biologi.

Uniknya di kampus yang terletak di Mejiro, Toshima, Tokyo itu hati sang pangeran tertambat selama-lamanya pada sosok Kawashima Kiko, putri dari profesor ekonomi Kawashima Tatsuhiko.

Dijadwalkan Pangeran dan Putri Akishino akan mengadakan berbagai acara atau kegiatan di bidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan olahraga untuk merayakan 50 hubungan Indonesia – Jepang.

Kedua pasangan yang mewakili Kaisar Jepang akan berada di Indonesia dari 18 sampai 24 Januari. Begitu mendarat, pangeran akan bermalam dan mengadakan acara pribadi di Hotel Nikko kemudian paginya akan memulai acara resmi.

Setelah itu Akishino akan meluncur ke Jateng untuk mengunjungi Candi Prambanan, Universitas Gajah Mada, Candi Borobudur, dan meninjau beberapa proyek Jepang International Cooperation Agency (JICA).

Bagi Indonesia kunjungan Pangeran Akishino yang mewakili Kaisar Jepang sangat penting karena mempunyai arti simbolis perhatian pemerintah Jepang yang besar terhadap saudara mudanya.

Kedatangan ini juga menjadi kegiatan penting, setelah Indonesia dan Jepang sepakat melakukan penandatanganan deklarasi persetujuan kemitraan ekonomi 2007 yang menjadi babak baru dalam hubungan ekonomi kedua negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: