it’s about all word’s

Iklan, fantasi dan pemilu Indonesia

Posted on: January 23, 2008

Memotret kekuatan mimpi di balik perebutan tahta

Judul: Iklan dan Politik
Menjaring Suara dalam Pemilihan Umum
Penulis: Budi Setiyono
Penerbit: Galang Press, Januari 2008
Tebal: 390 halaman

Sebagai homo ludens manusia secara alamiah memiliki kebutuhan untuk bermain. Begitu pula pesta politik lima tahunan yang selalu meriah dan menarik. Bahkan di jaman Orde Baru, Pemilu adalah kartasis tekanan ekonomi dan politik.

Namun sejak terjungkalnya Soeharto yang menandai era Orde Baru, Pemilu menjadi sebuah ajang baru pemenuhan hasrat kemanusian sebagai mahluk pekerja (homo laborans) yang menyatu dengan prinsip homo economicus atau mahluk yang dapat melakukan tindakan ekonomi.

Dua prinsip ini bagi dunia politik kemudian tak jarang mengarah pada prinsip homo homini lupus, manusia adalah pemangsa bagi sesamanya. Beragam cara dilakukan agar tujuan tercapai dan melanggengkan kekuasaan yang telah diraih dengan biaya sosial, ekonomi dan moral yang tentu tak murah.

Namun bukan cakar mencakar yang dikuliti oleh Budi Setiyono. Justru sifat homo ludens lah yang menjadi landasannya melakukan riset panjang pada Pemilu 1999 dan 2004 yang sangat menarik.

Menarik karena dua pemilu tersebut berhasil menciptakan kawin mengawin budaya antara budaya politik dan kebudayaan pop melalui iklan pemilu yang dipenuhi strategi pencitraan dan propaganda politik.

Diakui atau tidak, dengan guyuran imbalan yang tidak sedikit para perancang iklan memeras isi kepala untuk mengaburkan estetika iklan yang manipulatif untuk kepentingan mencapai kekuasaan yang ujung-ujungnya berpusat pada modal yang akan didapat ketika mendapat kekuasaan.

Dengan gaya bertutur, penulis berhasil menyajikan kondisi dua pemilu yang menjual iklan politik. Iklan yang menjual figur personal berbaur dengan iklan institusional yang dianggap bisa merepresentasikan sosok sebuah partai..

Buku ini menarik karena menyajikan banyak strategi iklan cetak dan yang paling penting adalah potongan iklan televisi yang hadir langsung ke ruang rumah tangga lewat kotak kaca televisi yang diakui atau tidak seolah-olah telah menjelma menjadi ‘kanal politik’ dalam ruang keluarga.

Leat iklan yang harganya tak murah itu, propaganda kampanye yang menggunakan sarana artistik itu berusaha membentuk fantasi para pemilih tentang kandidat, kualitas, kualifikasi, program, dan takdir atau perbaikan nasib.
Data finansial

Keunggulan lain dari buku ini adalah kelengkapan data finansial dari masing-masing parpol dan kandidat untuk menciptakan fantasi-fantasi tersebut yang disertai wawancara pada para mesin politik

Harus diakui dalam dua pemilu pasca Orba, muncul ‘seniman-seniman propaganda’ yang memiliki keahlian menciptakan dan membangun citra di pentas drama politik yang mementingkan unsur penampilan, kesan, dan cita diri.

Jalinan seniman propaganda ini begitu besar mulai dari bidang acara, pengumpul dana, produser TV, pembuat film, pengiklan, personal public relations, sekretaris pers, penata gaya rambut hingga spesialis pengerahan massa.

Yang menarik media yang selalu mengaku-mengaku tak berpihak dan semata-mata menyajikan suara rakyat, karena guyuran uang akhirnya terpeleset dalam paradoks politik.

Duit yang menyertai iklan politik sampai membuat beberapa televisi nekad melanggar batas penayangan. Komisi Pemilihan Umum sampai harus melayangkan teguran pada TVRI, Metro TV, TV7, Indosiar, ANTV, TPI dan Lativi

Beberapa program televisi yang dibeli parpol malah terbukti menjadi corong politik. Sebut saja Metro TV yang menjual pemiliknya, pidato politik Surya Paloh yang merupakan pentolan Partai Golkar diputar-putar berulang.

Uniknya, karena semua berujung pada pendapatan teguran KPU mendapat perlawanan dari Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI). Demi uang, media televisi melawan.

Namun pelanggaran tersebut tak hanya didominasi televisi, media cetak pun berlomba-lomba menjual halamannya demi uang. Begitu pula media suara alias radio tak ketinggalan.

Uniknya pemenang pemilu justru bukan partai yang jor-joran menggelontorkan dana kampanye. Fantasi instan ternyata tak bisa serta merta memengaruhi ikatan emosional.

Harus saya akui buku setebal 390 halaman ini bisa menjadi sebuah pegangan Anda menjelang pesta politik 2009 yang aroma kesibukan persiapan menuju hajatan tersebut sudah tercium menyengat sejak awal tahun ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: