it’s about all word’s

Insider trading and journalist

Posted on: January 23, 2008

Akhir pekan lalu, dapur redaksi Bisnis Indonesia menghangat oleh diskusi soal kepemilikan saham sejumlah wartawan di lantai bursa. Ini bukan hal baru. Mirip wartawan tapi punya usaha PR. Hanya saja banyak yang tutup mata atau tau sama tau lah!

Kasus insider trading-perdagangan saham atas dasar informasi orang dalam sehingga hanya segelintir orang yang meraup keuntungan secara tidak sah karena adanya kesenjangan informasi (asymetric information)-biasanya hanya melibatkan pihak-pihak yang dekat dengan para pengambil keputusan di suatu emiten.

Penjelasan Pasal 95 Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) menyebutkan bahwa yang termasuk orang dalam adalah: direktur, komisaris, pemegang saham utama, pegawai, atau orang perseorangan yang karena kedudukan atau profesinya atau karena hubungan usahanya dengan emiten memiliki peluang untuk memperoleh informasi yang sifatnya masih rahasia.

Sudah banyak kasus insider trading terungkap di berbagai negara. Di Indonesia, kasus insider trading yang terakhir terekspos adalah kasus saham Perusahaan Gas Negara (PGN) yang terjadi tahun lalu dan melibatkan sejumlah direksi perusahaan.

Di Jepang, kini masalah tersebut meluas hingga ke pekerja media. Dua reporter dan satu direktur stasiun TV Jepang, NHK, dituduh mengambil keuntungan secara ilegal dari perdagangan saham dengan menyalahgunakan berita eksklusif yang dibuat media itu.

Dalam berita pada Maret 2007 itu soal rencana kerja sama modal antara dua jaringan restoran, Zensho Co dan Kappa Create Co.

Tiga pekerja media itu dituduh membaca berita tersebut sebelum disiarkan dan lantas masing-masing membeli 1.000-3.000 lembar saham Kappa Create. Memang harga saham Kappa naik dan mereka dituduh menjual saham yang dimilikinya satu hari setelah pengumuman kerja sama kedua perusahaan. Tentu mereka mendapat laba yang tidak sedikit.

Komisi Pengawas Sekuritas dan Saham Jepang lalu melakukan penyelidikan terhadap ketiga pekerja pers itu dengan tuduhan insider trading. Dua dari mereka mengakui hampir semua tuduhan yang ada. Presiden NHK Genichi Hashimoto pekan lalu telah meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukan karyawannya.

“Membuat berita membutuhkan etika yang tinggi, dan setiap individu yang menyalahgunakan informasi yang diperoleh untuk keperluan pemberitaan guna meraih keuntungan pribadi, tidak dapat dimaafkan,” tegasnya.

Tidak hanya meminta maaf, layaknya kebiasaan di Jepang, Hashimoto pun lantas mengajukan pengunduran dirinya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kelalaian yang dilakukan wartawannya. Tidak hanya dia, dua direktur pelaksana yang bertanggung jawab soal hukum dan pemberitaan pun ikut mundur dari jabatannya.

NHK bukan satu-satunya organisasi media yang terpengaruh oleh kasus semacam itu. Skandal seperti itu bisa jadi menjadi perilaku banyak karyawan di seluruh organisasi media, termasuk surat kabar.

Satu setengah tahun lalu, seorang karyawan bagian iklan Nihon Keizai Shimbun-koran ekonomi terbesar Jepang-ditahan dengan tuduhan melakukan insider trading. Namun, kasus NHK ini merupakan kasus pertama yang melibatkan wartawan.

Sebelum dua kasus Jepang, Amerika Serikat juga dikejutkan oleh kasus serupa ketika Mark Cuban pemilik saham klub basket Dallas Mavericks melempar isu yang kemudian membuat saham bergejolak.

Disclose

Wartawan memang memiliki akses yang luas terhadap informasi soal perusahaan. Bukan hal sulit bagi wartawan untuk memperoleh informasi aksi korporasi apa yang akan dilakukan suatu emiten sebelum hal itu diumumkan secara luas kepada publik.

Dalam film Wall Street yang disutradarai Oliver Stones dan dibintangi Charlie Sheen tersebut anda dapat melihat bagaimana seorang broker menggali suatu sumber berita atau source di sekeliling lantai bursa terjadi.

Sinema yang naskahnya ditulis Stone bersama Stanley Weiser ini sangatlah menarik. Lewat film ini orang awam bisa mengetahui pernak-pernik mahalnya dan bergunanya informasi.

Para pembocor berita disebut sebagai Insider yaitu orang yang secara legal maupun illegal mencari fundamental tentang perusahaan atau dari sumber-sumber berita yang sangat berpengaruh misalnya dari pemerintah atau pembuat kebijakan.

Mereka akan mendapatkan bayaran yang sangat besar untuk mendapatkan fundamental atau informasi keuangan yang sebenarnya yang sedang terjadi dalam peusahaan atau dari pemerintahan.

Pada film tersebut diceritakan broker agen gagal, Bud Fox (Charlie Sheen) yang belajar menjadi pemain saham yang sukses lewat seorang pemain saham bernama Gordon Gekko (Michael Douglas).

Gekko memanfaatkan para insider untuk mencari informasi perusahaan yang sedang mengalami bencana. Dengan informasi itu Gekko dapat mempergunakan kesempatan agar dapat meraih keuntungan besar dari saham perusahaan tersebut sebelum diberitakan.

Dengan modal informasi itu Gekko akan berusaha menghancurkan perusaan yang bersangkutan jika mendapatkan isu yang tepat.sehingga membuka peluang untuk menguasai perusaan tersebut.

Proses ini sering disebut sebagai Green Mail yaitu sebuah paket yang berisikan uang. Untuk mendapatkan informasi tersebut agent ini rela untuk berbuat hal yang illegal, yang pada akhirnya membuat agent tersebut tertangkap oleh SEC.

Implementasi film tersebut sebenarnya masih berlangsung hingga saat ini, namun semuanya kini lebih terorganisasi. Oleh karena itu ada baiknya Anda mempelajari trik-trik mereka

Hal serupa juga pernah terjadi ketika French authorities memulai investigasi tahun 1989. Butuh waktu tiga tahun yang mendapatkan bukti George Soros telah menghabiskan US$2 juta untuk mendapatkan informasi dari insider.

Informasi itu penting dan mahal. Pantas saja jika Andreas Harsono pernah nyaris mendapat order menelisik secara lengkap pemain di belakang raksasa tambang Newmont.

Sah-sah saja dan ini soal pilihan mau jadi insider atau menjadi wartawan yang berpegang pada etika bahwa pekerja pers seharusnya tidak menggunakan informasi itu untuk transaksi saham, terlebih untuk kepentingan pribadinya.

Banyak organisasi media di Jepang yang secara tertulis membatasi karyawannya melakukan perdagangan saham. Asahi Shimbun misalnya, meminta seluruh pekerjanya membatasi diri terhadap transaksi saham jangka pendek.

Reporter koran besar itu juga diminta tidak melakukan transaksi atas saham perusahaan yang menjadi materi atau subjek pemberitaan.

Bagaimana di Indonesia? Saya kira tidak ada organisasi media yang memiliki aturan tertulis yang melarang para wartawan untuk melakukan transaksi saham.

Uniknya organisasi wartawan macam PWI atau AJI pun tak memiliki aturan terkait hal ini. Entah membiarkan atau memang tak tahu.

“Memang tidak ada larangan tertulis Mas. Namun, ada semacam sanksi sosial, jadi rasan-rasan di kantor kalau menulis suatu perusahaan dan ternyata kita ketahuan memiliki sahamnya. Repot malahan,” ujar seorang wartawan media cetak yang biasa meliput berita keuangan.

Menurut dia, boleh tidaknya wartawan memiliki saham masih menjadi perdebatan di kantornya, mengingat hal tersebut merupakan hak setiap orang untuk berinvestasi.

“Namun, di sisi lain memiliki atau bahkan bertransaksi saham memang bisa menimbulkan konflik kepentingan. Makanya masih diperdebatkan soal ini.”

Satu reporter koran ekonomi menambahkan, daripada repot-repot mempertanyakan hak bertransaksi saham dengan etika wartawan, dia memilih tidak memiliki saham apa pun. “Ngapain debat, investasi saja di instrumen investasi lain.”

Wisnu Wijaya yang lama meliput berita bursa hingga pernah berguru ke Jerman dan Amerika Serikat menegaskan, boleh-boleh saja wartawan memiliki saham, asal di-disclose saham apa saja yang dimilikinya dan yang bersangkutan dilarang menulis berita soal perusahaan yang sahamnya dimiliki.

“Juga jangan hanya reporter saja yang disclose, para editor pun harus melakukan hal serupa karena mereka memiliki kemampuan men-drive arah pemberitaan,” tegasnya.

Bila para wartawan secara etis diminta tidak melakukan transaksi saham perusahaan yang menjadi subjek liputannya, di sisi lain emiten pun harus bertindak serupa.

Sudah bukan rahasia lagi, banyak calon emiten yang memberikan alokasi saham khusus bagi para pekerja pers, bahkan dengan harga khusus pula.

Kasus paling seru adalah ketika Agustus 2007 saham BNI terjun bebas padahal sudah bagi-bagi saham ke para jurnalis.
Seorang senior yang liputan di wilayah itu, mringis-mringis kala BNI ngambek oleh pemberitaan Bisnis Indonesia yang tidak menguntungkan mereka. Tak hanya ngambek, BNI sampai mencabut iklan.

But show must go on. Gebuk terus!!! Kata bos yang yakin dengan memilih sisi pemberitaan berbeda dengan koran-koran lain, independesi media dan wartawan kami sedang diuji. “Lihat saja nanti,” kata bos yakin ketika saya nunut beliau.

Toh feeling beliau terbukti benar. BNI akhirnya kembali pasang iklan. Bahkan sampai ada kabar bos BNI yang suka motret itu bakal diturunkan dan diganti saudara pak presiden. Wah repot deh

Lha terus ngapain bagi-bagi saham ke wartawan? Ya jelas harapannya agar media menulis yang baik-baik saja sehingga diharapkan bisa mendorong harga saham.

Jelas susah menyimpulkan mana yang terbaik bagi para wartawan dan emiten soal ini. Silakan menyimpulkan sendiri kalau ada sebuah media sampai harus mengorbankan fakta yang ada.

*redaktur Bayu Widagdo menaikkan berita ini dengan bahasa yang lebih aman pada 23 Januari 2008

1 Response to "Insider trading and journalist"

informatif dan enak dibaca Goth, tau aja lu gw lagi pengen invest di saham nih hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: