it’s about all word’s

Soeharto and Indonesian Private TV

Posted on: January 23, 2008

Memasuki pekan kedua sakitnya Soeharto, semua hal tentangnya menjadi menarik. Sejarah, politik, hukum hingga tentu saja gosip konspirasi media televisi untuk membentu citra Soeharto yang renta dan butuh pengampunan.

Meski teori konspirasi lebih mirip teori membaui kentut alias susah membuktikannya yang jelas banyak orang yang  repot karena harus mengikuti perkembangan kesehatannya dari hari ke hari.

Kru media massa jelas harus jadi satpam dadakan sejak masuknya Soeharto ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP). Sakitnya sakng jenderal besar kontan diikuti dengan pemberitaan yang luar biasa masif.

Gara-gara itu pula, masalah yang dihadapi oleh para pedagang gorengan akibat seretnya pasokan kedelai dan melonjaknya harga terigu, hampir-hampir terabaikan.

Tapi jika Anda iseng dan mampir di RSPP yang terletak di  Kyai Maja 43 Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Anda akan menjumpai begitu banyak mobil van berukuran besar yang berisi perangkat pengolahan dan pengiriman gambar.

Televisi memang berlomba-lomba untuk mendapatkan gambar yang terbaik, penyiaran yang paling cepat, hingga liputan yang paling prima tentu saja dengan penyiarnya yang cihuy.

Seperti yang dilakukan Trans 7. Stasiun milik Trans Corps ini membawa tiga buah mobil yang diparkir sejak awal Soeharto masuk ke RSPP, yaitu satu mobil Satellite News Gathering (SNG), satu unit untuk pengolahan audio visual, dan satu lagi untuk genset.

Selain kru siaran, untuk mengamankan semua properti siaran yang harganya tak murah itu stasiun itu juga membawa sendiri beberapa personel keamanan.

Hal yang serupa juga dilakukan RCTI. Stasiun televisi milik MNC Group ini membawa dua buah unit mobil yang juga ngendon di RSPP sejak 4 Januari. Satu unit mobil dipakai untuk pengolahan gambar dan satunya lagi untuk genset.

SCTV juga tak mau kalah. Stasiun televisi milik keluarga Sariatmadja ini menerjunkan beberapa unit mobil yang berisi perkakas untuk mendukung siaran. Tak lupa, stasiun televisi ini juga menyewa dua unit kamar di Wisma PKBI untuk istrirahat para kru yang bertugas di RSPP.

Ya, momentum sakitnya Soeharto tampaknya mendorong manajemen semua stasiun televisi berlomba menggerojokkan sokongan finansial. Tak masalah berapa banyak dana yang dikeluarkan, selama para kru yang ada di lapangan berhasil mendapatkan liputan yang prima.

Taruhlah TV 7 yang setiap kali siaran langsung sekitar dua hingga tiga menit, membutuhkan layanan satelit selama sekitar 10 menit sebagai persiapan dan koordinasi dengan stasiun pusat. Dalam sehari, stasiun ini melakukan siaran langsung antara dua hingga tiga kali.

Jika sewa satelit mencapai US$400 (sekitar Rp3,8 juta dengan US$1 setara dengan Rp9.500), maka seharinya TV7 harus mengeluarkan duit sekitar Rp11,4 juta. Itu pun baru biaya satelit. Untuk genset, masih mengucur dana sebesar Rp300.000 per hari.

Urusan perut

Menurut Program Director Trans 7 Steven Saone, biaya operasional tak hanya bersinggungan dengan mesin, tapi juga perut. Untuk itu dalam sehari semalam, kebutuhan logistik bagi 20 personel mencapai Rp1,35 juta, dan biaya parkir untuk tiga mobil sebesar Rp75.000 sehari semalam.

Dari jumlah ini, maka secara kasar, dana operasional yang dikeluarkan stasiun tersebut mencapai Rp13,125 juta.

Jumlah itu tentunya juga tak jauh-jauh dengan yang dikeluarkan oleh stasiun televisi lainnya. Seperti halnya SCTV, stasiun ini juga menerapkan mekanisme serupa dengan Trans 7.

Menurut Project Officer SCTV Andi Patra, dalam sehari semalam timnya rata-rata melakukan siaran langsung dari RSPP sebanyak tiga kali.

“Kalau kami mau melakukan siaran langsung kami akan mengorder pengelola satelit,” ujar Andi.

Demi memudahkan operasional SCTV juga menyewa dua kamar di Wisma PKBI dengan harga per malamnya sebesar Rp400.000 per kamar atau total sewa kamar sebesar Rp800.000 per malam.

Selain itu SCTV butuh solar untuk genset sebanyak 40 liter per hari dengan harga Rp4.300 per liter. Dengan jumlah ini, maka duit yang dikeluarkan SCTV untuk liputan di RSPP mencapai sekitar Rp12,3 juta per hari.

Jumlah siaran yang lebih banyak dicatat oleh Metro TV. Dalam sehari-semalam, stasiun televisi milik Surya Paloh ini melakukan siaran langsung terkait dengan kondisi kesehatan Soeharto sebanyak enam kali.

Dengan mengandaikan biaya sewa satelit sama dengan yang dilakukan Trans 7-meski stasiun TV ini telah berlangganan transponder satelit Palapa-C2 milik Indosat-maka biaya yang dikeluarkan untuk satelit mencapai US$4.000 (atau setara dengan Rp22,8 juta).

Dengan rata-rata pengeluaran untuk logistik sekitar Rp1,35 juta dan biaya BBM rata-rata per hari Rp200.000 per harinya, maka perhitungan kasar biaya yang dikeluarkan stasiun televisi ini mencapai Rp24,3 juta per harinya.

Biaya yang lebih rendah dikeluarkan oleh TVRI, sebab stasiun ini tidak butuh satelit tetapi memakai gelombang mikro VHF. Dalam sehari semalam, TVRI ‘hanya’ mengeluarkan biaya operasional yang berupa logistik untuk sekitar 30 kru, serta biaya BBM.

Dengan mempertimbangkan besarnya duit yang dikeluarkan oleh berbagai stasiun televisi, hal ini menunjukkan betapa Soeharto masih dianggap sebagai seorang publik figur oleh media massa (terutama oleh stasiun televisi).

Kendati, mantan presiden RI kedua ini dianggap sebagai otak terjadinya berbagai tindak pelanggaran HAM dan penyimpangan dana negara.

Sedikit merunut ke belakang, hadirnya stasiun televisi swasta juga tak jauh-jauh dari peran keluarga Cendana. Sebut saja kelahiran RCTI pada akhir dekade ’80-an diprakarsai oleh orang-orang Bimantara (Bambang Triatmodjo, Peter F. Gontha, dan Rossano Barack).

TPI yang juga didirikan oleh anak sulung Soeharto, Tutut, yang kemudian diakuisisi Bimantara, dan saat ini berada di bawah bendera MNC yang juga memiliki RCTI dan Global TV.

MNC menarik karena kini nota bene milik Hary Tanoesoedibjo yang mengakuisisi Bimantara dan CMNP. Hary dan Cendana? Di awal karirnya dia masuk ke dunia bisnis lewat PT Bhakti Investama milik Titiek.

Selain itu dipercaya dia juga dekat dengan Robby Sumampouw (Batara Indra) yang akrab dengan Sigit Soeharto ketika menggelar SDSB.

SCTV juga didirikan oleh lingkar Cendana, yaitu Titiek dan Sudwikatmono. Dan sekarang, stasiun ini dikendalikan oleh keluarga Sariaatmadja. Orang mengatakan pengaruh Cendana sudah tak ada di sana, tapi Piala Dunia 2006 menjadi fakta kalau Titiek masih punya pengaruh. Buktinya masih bisa nangkring jadi komentator bola.

Sementara Lativi didirikan Abdul Latief-salah atau kroni Soeharto-yang saat ini diambil alih keluarga Bakrie. Bakrie-siapa pun tahu adalah pengusaha yang notabene juga dibesarkan oleh Orde Baru-saat ini juga mengendalikan ANTV.

Metro TV, stasiun televisi ini didirikan oleh Surya Paloh dan Rossano Barack. Sedangkan Indosiar didirikan oleh salah satu sohib Soeharto, Liem Sioe Liong atau keluarga Salim. Televisi bergambar ikan terbang ini sempat lepas dari tangan Om Liem tapi kembali berhasil kembali ke pangkuan Antony Salim.

Bagaimana Trans Corp yang memiliki Trans dan kemudian mengakuisisi TV7 dari Kompas? Dipercaya Chairul Tandjung masih punya kaitan dengan dana milik Antony Salim.

Menilik hampir seluruh setiap stasiun televisi swasta nasional memiliki garis sejarah yang sama, apakah ini menjadi petunjuk betapa industri pertelevisian nasional masih memiliki ikatan historis (dan emosional) terhadap Soeharto? Auk gelap.

*versi lain–lebih aman–naik cetak ke Bisnis Indonesia edisi 19 Januari atas nama wartawan magang Bambang P Jatmiko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: