it’s about all word’s

Good Bye Pak Harto

Posted on: January 28, 2008

Siang 27 Januari di bandara Cengkareng. Hati sebal karena Maskapai Batavia Air menunda penerbangan untuk kedua kalinya. Mulai dari molor 45 menit lalu 30 menit. Menunggu memang menyebalkan.

Tapi dering sms dan beberapa penumpang yang sontak bangkit menuju televisi membuat saya tertarik. “Soeharto Tutup Usia!” begitu teks berita RCTI siang itu. Saya langsung menelpon Bambang Jatmiko yang punya kewajiban ngepos di RSPP.

Setelah itu menghubungi Redaktur Pelaksana, Inria Zulfikar. “Bos saya sudah di Cengkareng neh. Apa boleh merapat ke Solo?” “Silahkan tempel si Bali ya!” ujar bos.

Sore pukul 16.00 saya mendarat di Semarang. Badan terasa lungkrah. Mandi, kopi dan setangkup roti membuat badan lebih segar. Masih ada beberapa waktu untuk jalan-jalan.

Pukul 4.00, 28 Januari weker berdering. Mata masih mengantuk harus dilawan dengan siraman air dingin. Lagi-lagi kopi dan setangkup roti menyelamatkan perut saya. Setelah itu cepat meluncur ke perempatan Banyumanik untuk mencari bis menuju Solo.

Gila! Bis ekonomi pun sesak. Terpaksalah saya berdiri hingga dua jam. Lagi-lagi demi Soeharto. Pukul 7.45 saya sampai di Solo. Bos Solopos, Dawet tak bereaksi ketika saya telepon. Untung di atas ojek yang bergetar, asisten redaktur halaman umum dan politik Bisnis Indonesia, Tommy Sasangka memberi maklumat.

“Cari berita dari sisi lain. Features. Wawancarai orang-orang biasa. Bikin model kaya waktu ke Aceh. Berita lain sudah digarap anak-anak lain. Aku tunggu!.

15 menit berlalu di atas motor yang bergetar bak vibrator saya sampai ke daerah Palur. Ini adalah perlintasan tersibuk sebelum mencapai peristirahatan Soeharto. Metro TV sudah nangkring di ujung perlintasan. Tapi tak ada diantara mereka yang mendekati para petugas perlintasan.

“Kamboja! Sampai mana kamboja? Bagaimana Pasundan tahan sinyal dulu apa diberi jalan!” kata Pembina Polsus Daop VI Anang Wayhudi kepada Pengawas Jalan Rel 6B Broto Haryanto. Udara seperti berhenti, gerah menyelimuti ratusan orang di perlintasan kereta api Palur. Di atas sana langit membiru cemerlang.

Kamboja adalah kode radio untuk mobil jenasah mantan Presiden Soeharto sementara Pasundan adalah kereta api yang dijadwalkan melintas. Seluruh mata hanya tertuju ke ujung jalan jembatan Jurug. Banyak yang lupa ada banyak kereta yang harus melintas di jalur yang dilalui jenasah Soeharto sebelum melaju ke Astana Giri Bangun.

“Semalam kami harus mengaspal lubang jalan di dekat lintasan. Kami juga langsung melakukan koordinasi dengan tim lain. Teknis sinyal, kepolisian, tentara hingga menambah personil di enam perlintasan yang mungkin dilalui iring-iringan,” papar Broto.

Demi lancarnya perjalanan akhir sang Presiden terlama itu, Broto baru bisa kembali ke rumahnya pukul 2.00 untuk bertemu istri, Trin Irawati dan kedua anaknya, Christin Yuniawati dan Dendy Ramadhan. Pukul 5.00 dia harus meluncur ke perlintasan Palur.

Sementara Anang baru bisa ke rumah pukul 3.00. Membasuh tubuh dan berganti pakaian untuk kemudian mengantar sang istri yang juga anggota kepolisian, Aiptu Esther Sri Sulastri. Pukul 4.00, istrinya sudah harus sampai di posnya.

Repot? “Biasa saja. Tidak ada yang istimewa,” cetus Sumarno petugas Penjaga Jalan Perlintasan 108, yang hanya jebolan SMP itu. Menurut dia menghadapi kesibukan di Hari Berkabung Nasional itu adalah aktivitas hariannya.

Sumarno benar, kemacetan lalu lintas di perlintasan Palur adalah hal biasa. Tiap pukul 16.00 jalanan begitu padat. Dalam sehari, kereta api yang lewat mencapai 46 kali. Menjelang jenasah Soeharto melintas, setidaknya ada 10 KA yang melintas. Dari barat: KA Logawa dan KA pengangkut BBM sementara dari Timur melintas KA barang, Sancaka, Wilis dan Pasundan.

Beruntung sejak sepekan lalu, seluruh jajaran PT. Kereta Api sudah bersiaga. Perintahnya tegas. KA ditahan melintas hanya oleh dua hal: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan jenazah Soeharto. Tamu lain? Tunggu dulu, ikuti aturan lalu lintas.

Namun semakin siang makin sering sirine mendekat semakin banyak saja orang yang berdatangan dan mendesak ke jalan dan jalur besi rel. Semua berlomba melongokkan kepala ke jalan raya Solo-Tawang Mangu itu. Polisi dan tentara pun kewalahan.

Anak-anak mulai menangis. Kehausan, kepanasan, keringetan sampai yang kebelet ingin buang air kecil karena ibu dan bapak mereka tak ingin beranjak pulang. Sedemikan simpatikah masyarakat pada Soeharto hingga rela berdesak-desakan di pinggir jalan?

Umumnya tidak! Banyak yang mengaku hanya ingin melihat ramainya jalanan. Maklum ketika Bu Tien Soeharto wafat, keriahan serupa terjadi dengan motif melepas ibu negara. Tapi kini motifnya lebih demokratis. Beberapa ingin melihat Tommy Soeharto, beberapa berharap ingin melihat istri muda Bambang Tri, Mayang Sari beberapa lagi menatap senyum SBY yang melintas sembari melambaikan tangan.

Saya memaafkan!

Sekitar pukul 11.00 iring-iringan jenasah lewat. Masyarakat makin mendesak. Beberapa sampai memanjat pohon atau ke tugu Intan Pari. Euforia? Biasa saja! Tak ada lambaian sapu tangan atau isak tangis. Massa sontak bubar seiring melintasnya kendaraan.

“Gimana kamu sudah tahu siapa itu Soeharto?” tanya Toni Martanto kepada kedua anaknya, Sinyo dan Gaby. Mata sipit Toni yang bertrah Tionghoa berbinar nakal. Tak menunggu anaknya membuka mulut, cepat dia menjawab. “Soeharto itu satu tambah satu jadi dua!”

Hanya sepelemparan batu dari tempat saya berdiri, Florentinus Dicky yang sedari pagi membopong anaknya, Alin gemas berucap. “Bangsa ini terlalu berlebihan!”

Dicky mantan aktivis 1998 di Politeknik Negeri Semarang. Gara-gara mengerakkan mahasiswa untuk berdemo menuntut pengunduran Soeharto dan kasus proyek penelitian para dosen, dia terdepak dari cita-citanya.

Sepeminuman dari keriahan perlintasan Palur. Sesosok tua Cipto Hartono terengah. Mantan tapol berusia 86 tahun yang pernah 13 tahun dibui tanpa diadili dan mengetahui alasan penahanannya itu sedang kepanasan. Beberapa tukang bekerja keras di bawah pengawasannya.

Serangan stroke membuat pijakannya lemah. “Buat apa ramai-ramai nonton iring-iringan. Saya punya tugas yang lebih penting!” meski demikian dia masih berpesan pada anak-anaknya agar istrinya dibantu nonton iring-iringan jenazah Soeharto.

Cipto pernah menjadi tentara di laskar Badan Keamanan Rakyat Delanggu, Klaten. Karena kebijakan Restrukturisasi dan Rasionalisasi Hatta-Oerip Soemohardjo, dia memilih menanggalkan pangkat Letnannya dan menjadi warga sipil. Mencari duit dengan ijazah sekolah dagangnya.

Mulai dari BRI lalu ke terakhir di Pamong Praja. Dalam organisasi pemerintahan dalam negeri itu kisah sedihnya berawal. Dipercaya sebagai sekretaris Sarekat Sekerja Kementerian Dalam Negeri (SSKDN) justru membuatnya dicap sebagai PKI.

Empat tahun di Pekalongan sejak dicokok akhir 1965, nyawa Cipto masih melekat meski setiap hari hanya diganjal 100 butir jagung. Sisanya, sembilan tahun dihabiskannya di fasilitas Inrehab Pulau Nusa Kambangan. Masa yang justru disebutnya fase paling menyenangkan dan membuatnya enggan kembali menjadi warga biasa tahun 1978.

“Sembilan tahun di Inrehab, saya betah di Nusa Kambangan. Bisa bertani dan beternak. Susahnya jauh dari keluarga tanpa pernah tahu alasannya,” ujar ayah dari Hartatik, Bambang Djoko Sudibyo, Nugroho dan Wahyudi.

Jika Anda membaca ‘Nyanyi Sunyi Seorang Bisu’ karya Pramoedya Ananta Toer, tidak perlu lagi dijelaskan kesulitan Cipto dan keluarga para eks Tapol yang harus bertahan hidup dengan KTP bercap khusus. Wajib lapor, kehilangan kesempatan pegawai negeri, menjadi tentara dan hak politik.

Meski demikian, sejak Soeharto masuk rumah sakit, Cipto terus memantau kondisi Jenderal Besar itu. “Sebagai manusia saya memaafkan Pak Harto. Soal saya pernah dibui tanpa tahu kesalahan. Anggap saja itu sial. Masih beruntung saya tidak dibunuh!”

8 Responses to "Good Bye Pak Harto"

thanks a lot

Gw jadi keingetan Pelatihan Penulisan untuk pantau itu, artikel yang judulnya “It’s a Honour’
Masih inget nggak? Tentang penggali kuburan pas JFK meninggal

ini mah pastinya tulisan yang segar dan baru dibuat dan bukan sudah disiapkan tokh?

fitness, jam 12 siang, si kawasan jakarta pusat. seluruh monitor TV hanya menayangkan satu gambar. ouch. aku tetep pilih siaran asikasik ajalah.

bedes! asu! tulisanmu apik tenan, cuk.. asli. geleng2 aku. ga rugi koen bayar mahal2 milu kursus narasi pantau. empat jempol wis. serius..

tenang kawan-kawan di besoknya bisnis naik cetak dalam versi yang capek dehhhh

oalah Goth, ra mung kowe nek nulis feature apik2 dadi ancur mbareng diobrak abrik yang berwenang.

hehehe senasib tho?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2008
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: