it’s about all word’s

Tsonga: only for 200 km/h

Posted on: February 1, 2008

Perbedaan adalah sesuatu yang indah. Pameo kuno ini selalu menjadi penghias di tengah sengitnya persaingan jago-jago pengayuh raket di ajang internasional yang mengejutkan.

Tahun lalu di Australia Terbuka petenis putri berkulit legam asal AS, Serena Williams membuat kejutan. Tampil dengan status bukan unggulan setelah cedera panjang, dia justru mampu menekuk si ratu lenguhan unggulan pertama Maria Sharapova.

Keberhasilan itu membuat Serena mengukir rekor sebagai petenis non unggulan pertama yang menjadi jawara di ajang itu sejak 1978.

Tahun ini giliran pemuda berkulit hitam asal Prancis, yang nyaris mencetak sejarah serupa di partai final Australia Terbuka 2008. Sayang, di partai puncak dia harus bertemu petenis Serbia, Novak Djokovic yang menundukkan Roger Federer.

Tapi kekalahan itu, seperti dikutip dari http://www.daviscup.com tak menghalangi kapten Guy Forget untuk memanggil Tsonga bermain di partai tunggal mendampingi pemain nomor satu Prancis, Richard Gasquet dalam pertandingan Piala Davis, 8-10 Februari di Sibiu, Rumania

Masuknya Tsonga ke susunan pemain tim Prancis melengkapi sensasinya ketika melibas unggulan sembilan asal Inggris, Andy Murray. Setelah petenis Spanyol Guillermo Garcia-Lopes, unggulan ke-14 petenis Rusia Mikhail Youzhny dan kemudian menggilas rekan senegaranya, Richard Gasquet yang menjadi unggulan ke-8.

Partai menentukan terjadi ketika di semifinal, petenis berjuluk Muhammad Ali di lapangan tenis ini memberi perlawanan yang mengagetkan unggulan kedua Rafael Nadal.

Bermodal servis sekencang 200 km/jam, Tsonga membuat Nadal untuk pertama kalinya kehilangan set di Australia Terbuka 2008. Hasilnya peringkat ke-38 dunia itu akhirnya menang 6-2 6-3 6-2 dalam satu jam dan 57 menit.

Dengan hasil kemenangan atas Nadal, petenis kelahiran Le Mans 17 April 1985 ini memiliki kesempatan untuk menjadi petenis Prancis pertama yang menjadi juara Australia Terbuka sejak Jean Borotra pada 1928 dan menjadi petenis Prancis pertama yang menjadi finalis setelah Arnaud Clement tujuh tahun lalu.

Tsonga juga petenis non unggulan kedelapan yang mencapai final Australia Terbuka sejak peringkat ATP diberlakukan pada 1973, dan diproyeksikan peringkatnya akan naik dari ke-38 ke ke-27 pada saat peringkat baru diumumkan pekan depan.

Ini bukan pertama kalinya, anak guru kimia asal Kongo itu memberikan kejutan di pentas Australia Terbuka. Tahun lalu petenis yang dijuluki “Tsunami” karena permainan bertenaganya itu membuat publik terhenyak.

Pada awal karirnya di grand slam Australian Open 2007, anak asuh Eric Winogradsky itu memaksa Andy Roddick memainkan tie break terlama dalam sejarah grand slam tersebut (20-18) dan merebut set awal.

Walaupun pada akhirnya dia kalah 7-6 (18), 6-7 (2), 3-6, 3-6. Setelah itu beberapa titel turnamen kelas challenger direbutnya dan di Wimbledon sempat masuk hingga babak ketiga kalah namun kalah dari Richard Gasquet.

Kiprahnya berlanjut di Amerika Terbuka, saat itu Tsonga melangkah ke babak ketiga dengan mengalahkan Henman yang akan pensiun waktu itu namun di partai selanjutnya kalah dari Nadal.

Dari kekalahan tersebut, Tsonga mendapat pelajaran penting yaitu untuk selalu tampil tanpa beban. Satu cara melepas ketegangan itu adalah dengan mendengarkan musik dari komputer jinjingnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: