it’s about all word’s

Hendri Suprapto: Natural Colour Batik Maestro

Posted on: February 5, 2008

Obsesi pak guru untuk batik alami

Dalam sejarah fashion, batik mengalami pasang surut. Seni tradisional serapan dari negeri Tiongkok ini telah mengalami asimilasi budaya yang menghasilkan beragam corak unik Nusantara. Tak heran Malaysia pun berkoar budaya batik asli temuan mereka.

Batik telah berkembang di pesisir hingga pedalaman muara Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB hingga Papua. Secara alamiah, seniman-seniman Nusantara berkreasi turun temurun mengekplorasi pola dan zat pewarna.

Tentu saja karena masih berkutat dengan zat pewarna alami, proses pewarnaannya butuh waktu lama. Untuk pencelupan saja butuh waktu 15-30 kali dengan warna yang monoton antara biru, coklat dan merah.

Meski tradisional dan cenderung itu-itu saja, komoditi ini begitu diminati dan penghasil duit yang tidak sedikit. Tak heran pemerintah Hindia Belanda sejak 22 April 1828 mewajibkan penanaman pohon Bixa orrellana (sumba) dan Indigofera tinctoria (nila) di sepanjang tepi jalan utama Pulau Jawa.

Namun zat pewarna alami ini kemudian tergusur habis sejak William Henry Perkin menemukan zat warna sintetis 48 tahun kemudian. Selain lebih praktis, corak warna pun lebih beragam.

Sejak itu hingga saat ini penjajahan terhadap industri batik terjadi. Para pembatik nrimo kecanduan memakai pewarna buatan. Mulai dari naphtol, direct, rapid, procion, remasol hingga indigosol.

Industri batik Indonesia baru sadar ketika Pemerintah Belanda dan Jerman sejak 1 Agustus 1996 secara resmi melarang masuknya produk pakaian termasuk batik yang memakai zat warna sintesis.

Pembatik kaget dan bingung di saat pemerintah mulai ngos-ngosan diterjang krisis politik dan ekonomi. Pembatik bingung mencari alternatif karena pewarna alami sudah terlalu terpinggirkan.

Pada sisi lain para peneliti di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Kerajinan dan Batik cenderung bekerja tanpa perhatian dan publikasi. Padahal penelitian itu dikerjakan sangat tekun.

Mulai dari Abdul Rachmat sejak 1952 sampai 1962 dilanjutkan SK. Sewan Soesanto hingga 1983 kemudian diteruskan Kun Lestari WF dan Hendri Suprapto. Tugas mereka berat karena dengan dana cekak harus meneliti hingga mengaplikasikan teknologi pewarnaan alami.

Mengelus dada

Saya berhasil menemui Hendri Suprapto di kediamannya yang susah-susah gampang mencapainya. Rumah kecil di dusun Ngentak Pelem, Bantul, Yogyakarta itu merangkap tempat tinggal, studio, pabrik sekaligus tempat kursus batik Bixa orrellana.

“Sampai sekarang juga masih banyak pembatik yang memakai pewarna sintetis. Pertama karena tak tahu. Kedua karena pemerintah juga cenderung diam. Kalau mikir pemerintah saya hanya mengelus dada,” ujar Hendri.

Pengajar di STMA Kusumonegoro, Yogyakarta ini sudah malang melintang ke seluruh Indonesia mengajarkan aplikasi pewarna alami. Dia bahkan diundang pihak Jepang, Australia dan Korsel untuk menjadi pembicara tentang pewarna alami.

Bagi kalangan tekstil dengan pewarna alami internasional, Hendri adalah maestro dari Indonesia. Dia bahkan berhasil mengemas zat pewarna alami dalam bentuk serbuk mirip susu instan atau kopi instan.

Tak heran setiap musim libur panjang tiba para wisatawan mancanegara berduyun-duyun berguru tentang pewarna alami pada Hendri. Mereka rela menggenjot sepeda belasan kilometer atau mondok di rumah-rumah penduduk di sekitar dusun tersebut.

Ketika kami berbincang salah satu murid Hendri, Gilen Tremblay mendekat. Perempuan asal Kanada itu dengan bahasa Indonesia yang medhok jawa itu meminta pendapat untuk membuat pola dan mewarnai selembar kain katun putih itu.

“Wah lebih cepet dibanding Napthol. Warnanya juga ndak kalah keren!” ujar kawan Elizabeth D Inandiak penerjemah sastra Jawa klasik Serat Centhini itu ketika mencelup dengan pewarna jenis indigo atau biru.

Dengan sistem ini zat pewarna alami ciptaan Hendri yang teknologinya tak lebih dari Rp200 juta itu lebih praktis, stabil, variatif serta pencelupan cukup dua sampai tiga kali dengan ketahanan luntur masuk kategori ISO 6330.

Karena alami limbah celupan batik milik Hendri malah digemari bebek-bebek tetangga atau semut penghuni pepohonan di sekeliling halamannya. Pencucinya praktis mulai dari cairan jeruk, asam hingga gula aren.

“Andai saja pemerintah lebih tanggap konflik masyarakat di sekitar sentra batik bakal terselesaikan karena tidak ada lagi sumur atau sungai yang berganti warna dan beracun karena tercemar logam berat,” ujar suami suami dari Sri Setyowati itu.

Dari sisi pendapatan pun, para pembatik akan mendapatkan penawaran harga yang lebih baik karena produsen luar negeri seiring tren back to nature sangat menghargai produk batik pewarna alami.

Artinya berapa pun jumlah atau harga yang ditawarkan sepanjang produk itu ramah lingkungan dan memiliki nilai unik pasti akan diborong para pembeli dari negara-negara makmur.

Menurut bapak dari Yuhad Bagus Purnama, Arif Wicaksono, dan Hana Indah Pertiwi itu, 95% produk yang dijual pada rentang harga Rp100 ribu hingga Rp5 juta tersebut laris diserap pasar Jepang, Amerika Serikat dan Eropa.

Pemerintah Indonesia, bagaimana?

6 Responses to "Hendri Suprapto: Natural Colour Batik Maestro"

pak bisa dekripsikan batik sintesis yang umumnya digunakan mengandung bahan apa aja??
dan logam yg terkandung di dalam zat pewarna tersebut itu apa aj…
kira2 bpk tahu pengolahan untuk meminimalisir zat berbahaya beasal dari pewarna sintesis di lingkungan, selain penggunaan pewarna alami?
trimakasih byk

Maaf mas Yuda,baru kali ini aku iseng-iseng buka blog isi waktu luang,tentang batik sintetis maksudnya batik yang terbuat dari zat pewarna kimia yang konon terbuat dari batu bara dengan proses DI AZOTASI, dan pada konferensi geneva tanggal 21- 23 Agustus 1995 salah satu keputusan adalah Gugus Azo yang terdapat pada zat pewarna kimia dapat menyebabkan penyakit Kanker,penyebarannya melalui epidermis yaitu kontak dengan kulit dapat juga melalui oral dengan cara zat pewarna tersebut untuk mewarnai mainan anak-anak kemudian mainan anak-anak tersebuit di lumat-lumat oleh anak-anak terbawa masuk dan menyebabkan kanker timbulnya pun setelah sekian tahun kemudian minimal kata para pakar carcinogenik adalah setelah 10 tahun,nah gugus Azo tersebut terdapat pada zat warna jenis Naphtol,Rapidogen,direct dan homolog-homolognya,selain napthol pada umumnya perajin batik maupun tekstil kerajinan menggunakan zat warna Indigosol dengan pembangkitnya Asam nitrit dan Asam chlorida maupun Asam sulfat nah dapat di bayangkan oleh mas Yuda dampak lingkungan yang terjadi tentunya sangat membahayakan bagi kehidupan masyarakat sekitar,yang jadi pengamatan saya ketika limbah-limbah tersebut dibuang di sekitar tempat tinggal perajin semakin hari insitasnya semakin terasa dan menumpuk di lingkungan rumah para perajin untuk kemudian terserap di sumur-sumur mereka setelah sekian generasi kira-kira apa yang akan terjadi?nah kalau limbah dibuang ke sungai kemudian mengaliri persawahan,tetumbuhan kira-kira apa yang akan terjadi? ini menjadi renungan kita bersama,maka sangat pas kalau pada tahun 1995 issue global adalah back to nature, he..hee.. ini bukan masalah menumpuk kekayaan kalau jadi perajin atau pengusaha batik zat pewarna alam jadi dapat kaya raya bukan,bukan itu permasalahannya,aakan tetapi menjawab surat pelarangan dari pemerintah belanda cq.deplu perdagangan yang telah melarang produk-produk tekstil yang berbasis menggunakan zat warna kimia jenis Azo?ini yang menjadi substansi kenapa kita mengkampanyekan batik dan tekstil kerajinan dengan menggunakan zat pewarna alam,disamping limbahnya sebagai pupuk untuk tetumbuhan juga tidak akan pernah mencemari lingkungan dan nenek moyang kita dulu sebelum di banjiri zat pewarna kimia ya mereka menggunakan zat pewarna alam cuma ketika itu masih banyak kelemahannya diantaranya pencelupan sampai 20 kali – 30 kali, warnanya monoton,tidak stabil,oleh karena itu bagi siapa saja yang ingin memeperdalam tentang zat pewarna alam silahkan datang ke Balai Besar Kerajinan dan Batik jalan Kusumagera no 7,cari ahlinya zat pewarna alam tentu akan mendapatkan kepuasan tersendiri.cara meminimalkan dampak lingkungan akibat dari penggunan zat pewarna kimia ya tentunya harus diolah dulu limbahnya sehingga tidak akan mengakibatkan masalah di lingkungan secar sederhana ya diuapkan saja artinya limbah ditampung di tempat tersendiri kemudian di uapkan memang kemungkinan pencemaran terhadap udara.tetapi mendingan di banding pencemaran terhadap lingkungan darat,contoh konkrit pencemaran dapat dilihat di Pekalongan dan solo daerah laweyan aduh sungai sudah sangat parah,untuk lebih lanjut mas Yuda dapat datang ke Balai Besar Kerajinan Batik menemui bpk.Sulaeman,S.Teks beliau ahlinya tentang produk bersih dan pengolahan limbah,sementara begitu mas Yuda maaf saya tidak terbiasa buka internet blog jadi baru kali ini dapat menanggapi.terimaksih.Hendri Suprapto

Bisa kaya raya ‘kah jika buat batik warna alam?

anda Ingin produk batik Natural Colour’s Kualitas optimal harga sangat murah bisa untuk jualan kembali dan anda juga butuh pelatihan batik/kursus batik singkat 2 hari anda di jamin bisa produksi batik dengan profesional silahkan hubungi kami

BATIK AKASIA
Email : haerudinagus@yahoo.co.id
Tlp. 081 328 522 537
Blog : batikakasia.blogspot.com
http://www.batikakasia.webs.com

DATANG AJA KE http://www.naturalbatikindonesia.blogspot.com. KALO MAU PESAN BATIK MAUPUN KURSUS

Salam Batik,i

Senang bisa meniemukan banyak Tulisan tentang Batik Tulis warna Alam dari pakar nya yaitu Bapak Hendri, dan mohon bimbingan nya serta bantuan pengembangan market nya untuk product Batik Tulis Warna Alam dari kami Batik canting100 di Bedono,Kab,Semarang ini http://www.facebook.com/pages/Batik-Tulis-Warna-Alam/215737665183257.
Semoga kedepan nya bisa terjalin Sinergi bersama demi lestarinya Batik Tulis Warna Alam di Indonesia tercinta ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: