it’s about all word’s

Airlangga Hartarto: on interview

Posted on: February 20, 2008

Perlu insentif bawa perusahaan di panggung gelap ke publik

Kepada wartawan Bisnis Algooth Putranto dan M. Sarwani, Ketua Umum AEI periode 2005-2008 Airlangga Hartarto menuturkan harapan, rencana, dan program-programnya selama dia menjabat. Berikut petikannya:
Menjadi Ketua Umum AEI periode 2005-2008 mempunyai arti strategis karena sejak awal tahun ini kapitalisasi pasar di bursa sudah mencapai hampir Rp700 triliun atau lebih dari 30% produk domestik bruto nasional (PDB) sebesar Rp2.300 triliun. Bagaimana organisasi seperti AEI berperan pada masa mendatang menjadi sangat penting.

Setelah vakum beberapa waktu lamanya karena ditinggal ketua umumnya, Gunadharma Hartarto yang meninggal di Houston, Texas, AS, pada 16 April 2004 akibat penyakit kanker paru-paru, Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) menggelar Musyawarah Anggota VI pada Rabu, 16 Februari 2005.

Musyawarah tersebut digelar untuk memilih ketua umum organisasi perusahaan yang menerbitkan efek seperti saham atau obligasi kepada publik (emiten) untuk periode 2005-2008, disamping mengubah anggaran dasar/anggaran rumah tangga.

Dan yang mengejutkan banyak orang, musyawarah kali ini dihadiri lebih dari duapertiga anggota atau sekitar 73%. Dari total anggota AEI sebanyak 340 emiten, sekitar 250 emiten hadir, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dalam musyawarah tersebut terpilih Airlangga Hartarto yang meraih 126 suara, lebih banyak empat suara dibandingkan pesaingnya Edwin Kawilarang yang meraih 122 suara, sementara dua suara dinyatakan tidak sah.

Anda sudah resmi menjadi Ketua Umum AEI, kira-kira dari 10 program, mana yang paling mendesak untuk dilakukan?

Tentu saja untuk jangka pendek adalah pembentukan kepengurusan. Nanti dari pembentukan kepengurusan, tentu saja saya harus berbicara kembali dengan Pak Ruru [Bacelius Ruru].

Karena dalam hal ini kan kami sudah berjanji dalam satu paket sehingga dari sini kami akan prioritaskan.

Lalu kami mengajak anggota untuk merespons kira-kira menurut mereka [mana yang terbaik]. Kami kan sudah melemparkan program kepada mereka apa yang dianggap penting dan prioritas.

Bagaimana dengan komposisi pengurus?

Komposisi masih dibicarakan, karena ini kan organisasi profesi. Jadi ya tentunya dalam kepengurusan ini akan saya bicarakan juga dengan Pak Ruru, lalu dengan Pak Edwin [Edwin Kawilarang].

Emiten juga terbagi ke beberapa sektor, apakah kepengurusannya akan mengikuti pembagian tersebut?

Organisasi seperti Kadin kan sudah melakukan [penyusunan pengurus] per sektor. Kami kan konsepnya mungkin berbeda dengan itu. Nah, itu tentu akan kami bicarakan dengan rekan-rekan [anggota asosiasi].

Kira-kira ke depan, apa yang menjadi titik tekan pengurus AEI yang baru?

Penekannya tentu, karena kami mempunyai satu suara untuk masalah regulasi dan AEI merupakan telinga dari market ya mau tidak mau yang utama adalah pengkajian. Pengkajian mengenai regulasinya seperti apa? Kemudian, tentu kami melihat international law-nya seperti apa. Dengan demikian kami petakan isu-isu yang kurang kondusif yang bisa didorong [ke arah yang lebih baik].

Apa tanggapan Anda atas sambutan Pjs Ketua Bapepam Darmin Nasution tentang MoU antara Bapepam, BI, dan DJLK untuk mengurangi risiko sistemik industri pasar modal?

Ya, risiko itu kan terkait dengan disclosure. Artinya investor kan memiliki hak untuk memilih dan itu terkait kepada informasi yang dia terima. Nah, itu tentu terkait dengan transparansi tadi. Kalau itu sudah transparan dan semuanya baik maka tentunya akan berjalan normal.

Sebab emiten dan investor kan tidak dipaksa untuk [melakukan] investasi ke salah satu saham. Any time mereka bisa keluar. Karena ini kan namanya pasar modal baik itu untuk investasi saham, maupun obligasi.

Any time mereka bisa keluar. Nah, mengenai exit mechanism ini seberapa jauh mereka memiliki informasi yang cukup sehingga mereka bisa mengambil keputusan, tidak ketinggalan.

Maksudnya?

Contoh kasus Bank Global. Informasi yang ada [tentang perusahaan itu] datang belakangan, sehingga [investor] kecebur. Nah, itu contoh ada lack time antara disclosure apa yang terjadi di perusahaan itu dengan informasi yang masuk ke masyarakat. Nah, ini yang tentunya perlu dipelajari.

Yang ramai dibicarakan saat ini adalah rencana penerapan laporan elektronik (e-reporting) oleh Bursa Efek Jakarta terhadap emiten, sikap AEI bagaimana?

Ya, secara prinsip e-reporting itu baik, artinya ada transparansi. Selain itu, pelaporan secara timely (setiap saat). Namun, tentu perlu dikaji apa yang terjadi.

Nah, itu tentu perlu dikaji lagi, dan saya belum mau berkomentar tentang ini karena harus bicara juga dengan pengurus, karena ini bukan opini saya sendiri. Tetapi opini dari saya, pengurus, dan anggota AEI.

Dalam kurun waktu kepengurusan selama tiga tahun kedepan, bagaimana membuat semua anggota berperan dan tidak hanya bergairah di masa-masa awal?

Mengenai anggota, hari ini [musyawarah] merupakan hal yang baik. Dimana baru pertama kali Munas AEI dihadiri oleh lebih daripada dua pertiga anggota. Ini sebuah hal yang luar biasa.

Artinya,momentumnya ada sehingga anggota juga peduli dengan apa yang terjadi di dalam organisasi dan ingin mengetahui apa yang terjadi, bahkan mereka juga mempelajari aturan organisasi.

Perihal hubungan ke depan antara AEI dan otoritas semacam Bapepam dan BEJ?

Hubungan secara personal sangat baik sebab saya kenal semua. Secara organisasi, kembali kepada kepentingan anggotanya di mana.

Jadi itu senada dengan imbauan Darmin Nasution yang mengharapkan ada komunikasi personal sebelum melempar permasalahan ke luar.

Ya, tepat sekali

Tetapi sebenarnya apa harapan dari anggota?

Harapan dari anggota itu, mesti kita terjemahkan apa? They have come with spesific idea

Apakah sebelumnya sudah pernah ada dialog antara Anda dan anggota ?

Dialog sudah ada dengan beberapa emiten semisal melalui telepon, tetapi tentunya mesti dimasukkan di dalam program, dijabarkan di dalam kepengurusan

Salah satu harapan anggota yang paling mendesak?

Secara teknis, misalnya, ada emiten yang khawatir ada pemain pasar yang melakukan cornering [mempermainkan harga saham untuk mendapatkan untung]. Nah, ini kan suatu hal dimana sahamnya dipegang oleh seseorang kemudian diambil alih oleh satu corporate action [aksi korporasi]. Ada yang mengemukakan hal seperti itu.

Kemudian ada yang merasa kapitalisasinya kecil takut bertemu dengan media, perlu berhati-hati dan perlu [mengetahui] bagamana caranya [menghadapi media]. Tentu ini semua kan membutuhkan advokasi supaya baik untuk semua.

Artinya memang ini adalah panggung yang harus disorot, namanya juga perusahaan terbuka sehingga ada upaya bagaimana mereka nyaman di situ.

Bursa efek Jakarta termasuk yang terbaik di Asia, ke depannya kira-kira bagaimana?

Ke depannya tentu kita lihat anggota AEI hanya 340 perusahaan dan itu dalam dua tahun terakhir relatif stagnan. Ya, langkah ke depan tentu adalah insentif yang akan kami minta kepada pemerintah. Apa yang bisa pemerintah berikan agar perusahaan-perusahaan yang berada dalam panggung gelap (private) tertarik untuk go public.

Saya ilustrasikan jumlah wajib pajak perusahaan kena pajak (WP PKP) sejak 1996 berjumlah 326.191 pada 2000 meningkat menjadi 402.038. Rata-rata 52% dari jumlah itu tidak aktif atau dianggap tidak operasional karena tidak melaporkan SPT ke Kantor Pajak.

Sebaliknya dari jumlah WP PKP terdaftar per tahun yang aktif hanya 48% atau 175.077. Namun jumlah PKP yang memenuhi kewajiban pajaknya sangat kecil. Dari situ yang menjadi anggota emiten hanya 340. Ini kan persentase yang kecil sekali, tetapi ini kan yang menanggung pajak pemasukan bagi negara untuk bujut yang 70%-80%.

Berbicara tentang pengalaman berorganisasi, kalau dilihat Pak Edwin memiliki jam terbang lebih banyak. Bagaimana Anda melihat ini?

Ya, kalau dilihat pak Edwin banyak, dan saya sendiri juga tidak kurang banyak. Hanya saja saya sederhanakan. Yang sudah-sudah tidak saya jabarkan seperti pernah menjadi ketua kompartemen di Kadin. Tetapi karena itu sudah berakhir ya tidak saya tulis.

Kemudian juga hal-hal yang tidak relevan dengan organisasi profesi, apakah itu di organisasi masyarakat, alumni, dan sebagainya itu kan apa urusannya [dengan AEI].

Tetapi itu menjadi background untuk memimpin?

Ya, menurut saya pengalaman organisasi itu menjadi background karena saya kan aktivitasnya dari berbagai sektor sehingga saya banyak bertemu dengan masyarakat dari berbagai lapisan masyarakat di pelosok tanah air, baik dari lapisan masyarakat paling bawah sampai hanya alumni perguruan tingi atau SMA. Kan pola pemikirannya berbeda-bedan, sehingga ini yang mewarnai background saya.

Saya juga katakan dalam organisasi-organisasi tersebut kalau tidak di ketua umum, bendahara umum, kalau tidak menjadi sekjen. Jadi semua sudah saya rasakan dalam tatanan organisasi.

Jadi sebetulnya mempunyai dasar yang cukup kuat untuk memimpin organisasi?

Dan juga saya selalu mengedepankan anggota. Artinya, menjadi ketua kan tidak perlu harus terus-menerus menjalankan fungsi sebagai public relations.

Soal anggota AEI yang mendukung Pak Edwin, bagaimana merangkul mereka supaya bisa bersama-sama membangun organisasi?

Tentu saja nanti kami akan melakukan konsolidasi ke dalam, tidak ada, misalnya, unsur saya dan Pak Edwin. Siapapun kami satu, emiten dan organisasi profesi. Dan bursa ini terlalu kecil untuk kami buat seperti itu. Jadi itu persoalan yang relevan ke depan. Saya tadi sudah berbicara dengan selain kepada Pak Edwin, juga dengan yang lain. Semua kan kawan.

*Bisnis Indonesia Edisi: 20/02/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: