it’s about all word’s

Andreas Darwis Triadi

Posted on: February 20, 2008

Membaca lewat karya fotografi

Di dunia fotografi, siapa yang tak kenal Andreas Darwis Triadi? Karya-karya legendaris fotografi Indonesia ini sangat inovatif dan telah menyebar ke mana-mana, mulai dari majalah, kalender, poster, iklan, sampai company profile.

Padahal pria kelahiran Solo, 15 Oktober 1954, ini mengawali kariernya hanya dengan berbekal kamera Nikon F pinjaman milik almarhum temannya, Tafi. Itu pun setelah Darwis sempat berkarier sebagai seorang penerbang.

Namun karena kekhawatiran ibunya, dia pun berhenti. Hampir setahun ia menganggur hingga suatu saat dia mulai belajar secara otodidak dengan baca buku literatur dan mengandalkan olahrasa.

“Anehnya saya sekarang malah tidak terlalu suka baca buku. Mungkin karena kebiasaan baca buku kalau butuh saja atau yang saya suka,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Anak keempat dari delapan bersaudara ini mengaku sangat menyukai buku-buku berbau petualangan atau wartawan perang. Maklum dari buku-buku itu biasanya selalu terselip karya fotografi yang indah dan humanis.

Uniknya dalam dua buku fotografinya Kembang Setaman dan Secret Lighting, fotografer kawakan ini justru meluncurkan buku fotografi dengan sedikit tulisan. “Singkat saja, fotografi itu harus dipraktekkan. Teori itu cuma 20% sisanya praktik dan praktik.”

Meski begitu, lanjutnya, harus diakui fotografer generasi muda saat ini punya minat baca yang luar biasa. Sangat jauh dibandingkan fotografer angkatannya yang dinilai malas membaca.

Melukis dengan cahaya

Menurut Darwis, hal itu kemungkinan karena teknologi fotografi digital saat ini menuntut kecepatan dan mempermudah fotografer pemula melakukan praktek secara terus menerus.

“Fotografi itu seperti melukis dengan cahaya. Dengan teknologi digital maka proses yang sebelumnya harus melalui proses cetak yang panjang menjadi sangat singkat,” urai fotografer yang pernah belajar pencahayaan di Swiss ini.

Soal hobi baca justru dimiliki oleh kedua anak penggiat Asosiasi Professional Photographer Indonesia (APPI) ini. “Andanari Yulia Setiasih dan Ambar Hapsari justru yang hobi baca. Macam-macam bacaannya.”

Dengan alasan itu Darwis tidak pernah memberikan batasan dana bagi belanja buku keluarganya. Justru yang dibatasi adalah belanja mainan.

Menurut Darwis, dari kedua putrinya itu, Andari paling getol membaca buku yang memaksa orang untuk berpikir. Sedangkan Ambar yang baru kelas lima sekolah dasar masih terbatas pada buku-buku ringan. “Tapi herannya Ambar tidak suka baca buku pelajaran. Mungkin buku pelajarannya kurang menarik,” ujar sembari tergelak.

Dan tak dapat dipungkiri, lanjut Darwis, generasi saat ini mendapatkan kesempatan yang lebih luas untuk membaca. Pilihan buku makin beragam dan berkualitas.

*Bisnis Indonesia Edisi: 16/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: