it’s about all word’s

Belajar diplomasi dari pendiri negeri

Posted on: February 20, 2008

Judul: Sejarah Tokoh Bangsa
Penulis: Yanto Bashri dan Retno Sulfatni (ed)
Penerbit: LkiS Yogyakarta, 2005
Tebal: 486 halaman

Kasus Ambalat yang sedang disengketakan antara Malaysia dan Indonesia adalah salah satu ujian terhadap kepiawaian diplomat Indonesia. Namun, sudah telanjur ada penilaian bahwa kemampuan diplomat Indonesia sangat kurang, sehingga membuat-sebut saja Timor Timur-lepas dari wilayah kesatuan, hingga kekalahan Indonesia dalam meja diplomasi Mahkamah Internasional Den Haag, Belanda, dalam sengketa Sipadan Ligitan.

Kejadian-kejadian itu mencerminkan lemahnya kualitas diplomat yang kita miliki.

Padahal jika kita menengok jauh ke belakang, ke tahun 1940 hingga 1950, para pendiri republik ini telah memiliki kemampuan diplomasi yang tinggi.

Saat itu founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Mohammad Roem hingga Haji Agus Salim mampu mengaum dan menggertak di setiap meja diplomasi.

Kadar intelektualitas dan politik mereka jelas bukan produk karbitan sehingga tak gentar saat menghadapi diplomat dari Belanda, Inggris, Jepang hingga Amerika. Semuanya mampu mereka tundukkan. Sekaligus, di dalamnya kemampuan mendinginkan pertentangan antarfaksi di dalam tubuh badan perjuangan anak-anak negeri ini. Sehingga secara tak langsung sejarah harus berterimakasih, sebab berkat kemampuan diplomasi mereka itulah, kemerdekaan bangsa ini dapat diproklamasikan.

Mungkin jika para pejuang meja perundingan itu hidup kembali, mereka akan menangis kecewa saat menyimak compang-campingnya Indonesia saat ini.

Apa pasal? Negara yang mereka bangunkan dengan susah payah itu kini terseret dari cita-cita kemerdekaan yakni terwujudnya sebuah masyarakat yang adil makmur dan sejahtera.

Penyelewengan kekuasaan yang berujung pada merajalelanya korupsi yang menggerogoti negara, sumber daya alam dikeruk habis-habisan, jurang yang semakin dalam antara si miskin dan yang kaya.

Pejabat yang diserahi tanggung jawab oleh rakyat malah lebih sibuk memperkaya diri dan mengamankan posisi. Mereka lupa terhadap amanah yang diserahkan ditangan mereka.

Mereka terlena dan lupa merawat rakyat dan negerinya, hingga tak sadar Sipadan dan Ligitan sudah dicaplok tetangganya. Lalu apa kerja wakil rakyat kita, yang kemudian dipecundangi di meja perundingan internasional.

Padahal, pendahulu kita yang belum mengenal apa yang disebut sebagai informasi teknologi itu justru seringkali menang di meja perundingan.

Nah, dari buku ini kita akan merasakan sosok para pendiri bangsa ini. Sebuah biografi yang lengkap dan runtut bertutur tentang perjuangan sosok manusia dari masa kecil hingga meninggalkan dunia.

Penulisnya pun, bukan sembarangan sebab biografi 15 tokoh yang dipilih dalam buku ini merupakan karya akademik yang sebagian besar pernah dimuat oleh jurnal Prisma, sebuah jurnal ilmu sosial bergengsi.

Harga perjuangan

Jika dicermati buku ini menghadirkan gagasan-gagasan segar, cerdas, sekaligus kritis tentang arti kemerdekaan dan nilai pembebasan yang telah mereka gelorakan.

Sebuah cita-cita tinggi dan visi yang jauh ke depan meninggalkan jaman saat mereka hidup namun terlupakan oleh generasi saat ini.

Generasi jaman ini mungkin harus malu dengan kegigihan para tokoh dalam buku ini, tengok saja pemuda Hatta yang berikrar tidak akan melepas masa lajangnya sebelum Indonesia merdeka.

Haji Agus Salim yang siap menjalani kehidupan berpindah-pindah dan hidup miskin demi perjuangan negeri ini, atau Syahrir yang siap membela kebenaran meski harus dipenjara dan mati diasingkan justru oleh kawan seperjuangannya Soekarno.

Penulis biografi ini sepakat mengakui bahwa para pendiri Indonesia adalah orang-orang berjiwa besar, rela berkorban tanpa pamrih materi.

Di buku ini akan tercermin kegelisahan mereka terhadap penderitaan rakyat. Mereka meletakkan komitmen itu sebagai harga mati.

Meskipun sejatinya mereka memiliki cara pandang dan konsep yang berbeda-beda tentang nasib generasi masa datang dengan ujud sebuah kemerdekaan, namun mereka mampu menjalani sikap negarawan yang proletar dan jauh dari kesan puritan.

Lihat saja konsep partai politik ala Soekarno bertentangan dengan Hatta maupun Syahrir. Atau sikap fanatik seorang KH Wahid Hasyim terhadap pelaksanaan syariat Islam namun menerima diselenggarakannya sebuah negara Indonesia yang sekuler.

Atau, coba tengok pada kisah penciptaan lagu Indonesia Raya yang sebetulnya terinspirasi dari lagu La Marseilles, lagu kebangsaan Perancis ciptaan Rouget de L’isle.

Diulas pula peran politik, pemikiran politik-ekonomi sampai aksi kongkret para tokoh bangsa ini dengan segala keunikan individu mereka masing-masing, sekaligus sisi kegagalan mereka sebagai manusia baik dalam hal ekonomi, cinta hingga mati sia-sia sebagai pejuang yang kesepian dan frustasi.

Singkat kata, buku ini cocok sebagai referensi dari generasi pendahulu kita.

*Bisnis Indonesia Edisi: 17/04/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: