it’s about all word’s

Budi daya jeruk bisa diharapkan, asalkan…

Posted on: February 20, 2008

Potensi pasar jeruk lokal di dalam negeri, masih terbuka. Pangsa pasarnya cenderung membesar. Pesaingnya, jeruk produksi petani luar negeri terutama dari China. Bahkan, karena kepintaran jaringan pemasaran mereka, posisi jeruk lokal di pasar dalam negeri pun mampu digeser. Ini peluang, sekaligus tantangan, tentu saja.

Sejak lama jeruk dikenal sebagai buah dengan nilai ekonomi tinggi. Bayangkan, berapa banyak industri minuman ringan dalam kemasan yang menawarkan produknya berbahan baku jeruk? Bouvita, CDR, Enervon-C, Fruit Tea atau jika Anda pergi ke foodcourt di swalayan atau restoran, berapa banyak orang memesan es jeruk? Kebutuhan jeruk untuk pasar ekspor dan industri pengolahan dari Indonesia mencapai 866.247 ton/tahun. Kondisi itu hendak menegaskan betapa besar permintaan buah jeruk di pasar.

Anda tidak percaya atau mau bukti soal besarnya potensi pasar jeruk kita? Hitung saja bila kebutuhan konsumsi buah jeruk segar diasumsikan 3,26 kg/kapita/tahun atau 30 buah/kapita/tahun. Dengan tingkat sebesar itu, maka dengan jumlah penduduk 204,4 juta jiwa, Indonesia membutuh jeruk segar sebanyak 866.247 ton.

Sudahkah angka itu dipenuhi? Berdasarkan fakta, produksi jeruk di Indonesia sejak 1995 sampai 1998 belum mampu memenuhi permintaan pasar lokal. Sebab, produksinya, setelah sedikit berlebih yakni pada 1995 dengan jumlah 1 juta ton, hingga kini masih belum mampu dipenuhi jeruk lokal.

Lihat, produksi 1996, misalnya, jumlahnya hanya 730.860 ton. Pada tahun berikutnya (1997) bakan lebih sedikit, 696.422 ton dan 1998 semakin mengecil lagi, jadi 613.759 ton. Bahkan, pada 2001, produksi jeruk kendati naik, tapi masih pada kisaran angka 744.052 ton.

Itu artinya, untuk memenuhi seluruh konsumsi itu, Indonesia masih membutuhkan tambahan buah jeruk ratusan ribu buah lagi. Kira-kira masih diperlukan penambahan lahan kebun jeruk 50.129 ha.

Tentu, bukan hanya menambah luas lahan garapan. Tapi juga produktivitas. Sebab sampai saat ini produktivitas jeruk di Indonesia berkisar 8,6-15 ton/ha/tahun. Padahal potensinya, seperti di daerah tropis lain, bisa mencapai 20 ton/ha. Dan angka produktivitas itu sendiri, sebenarnya masih tergolong rendah. Terutama jika dibandingkan dengan negara produsen utama jeruk dunia di daerah subtropis. Mereka mampu mencapai 40 ton/ha.

Diakui, produktivitas yang rendah ini a.l. disebabkan serangan penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) yang ditularkan oleh serangga vektor Diaphorina citri Kuwayana.

CVPD merupakan penyakit penyebab utama kehilangan hasil perkebunan jeruk di hampir semua negara Asia dan Afrika. Akibat CVPD, Afrika Selatan merugi hingga 30-100%, Filipina lebih dari 60%, Thailand lebih dari 95%, yang terparah jeruk manis dan mandarin di Arab Saudi bagian tenggara, kini punah sudah.

Di Indonesia, penyakit ini menyerang sejak 1940-an. Hampir di seluruh provinsi. Di Tulungagung, misalnya, 62,34% perkebunan jeruk dan di Bali Utara sampai 60%. Untuk penyebaran CVPD di areal pertanaman di Bali saja mencapai 95.564 ha dalam kurun waktu 1988 sampai 1996. Serangan penyakit CVPD di Bali diperkirakan menelan kerugian mencapai Rp36 miliar pada 1984.

Sentra pengembangan jeruk di Bali kemudian dipindahkan ke Kabupaten Bangli. Namun, serangan penyakit CVPD, tak kunjung surut. Hama itu rupanya juga ikut pindah dan sentra jeruk Bali yang baru, kembali diserang hama itu sehingga nilai produksi yang diperkirakan pernah mencapai Rp400 miliar, pada 1998 turun drastis.

Penanganan CVPD

Produksi jeruk yang hilang, rata-rata di atas 50.000 ton buah jeruk/tahun dengan kerugian mencapai puluhan miliar rupiah/tahun, jelas memukul usaha agribisnis jeruk yang (padahal) memiliki potensi keuntungan per tahun Rp100 juta/ha/tahun.

Keganasan CVPD juga menghantam keprok punten di Malang yang sangat terkenal di zaman Belanda hingga sulit ditemukan kembali. Tercatat pada periode sekitar 1938-1950 jenis keprok ini hancur di serang CVPD.

Kondisi buruk itu, juga dirasakan petani di sentra jeruk Malangke di Sulsel. Masa keemasan pada 1995 hingga 1999 dengan produksi jeruk segar sekitar 12 ton/ha, berakhir pada 2000. CVPD menghancurkan 80% tanaman jeruk itu. Akibatnya, produksi menurun drastis, bahkan sebagian besar lahan jeruk itu kini berganti ditanami jagung dan kakao.

Tak berbeda dengan jeruk manis Tulangbawang, Lampung Utara. Pada era 1960-an, ratusan ton jeruk manis dikeluarkan dari Menggala, Tulangbawang. Namun, akibat CVPD pada dekade 1970-an, seluruh tanaman jeruk di daerah itu musnah.

Hal yang sama juga menimpa jeruk Cikoneng yang terkenal di sepanjang jalur Sumedang-Wado, Jabar. Karena penyakit ini, jeruk yang besar dan manis ini punah sekitar 1980-an.

Beberapa petani ada yang memilih untuk terus mempertahankan. Hasilnya jeruk yang dihasilkan jauh di bawah standar. Seorang mantan petani jeruk sukses di sentra Kintamani menuturkan akibat CVPD, kini jeruknya hanya dihargai Rp500/kg!

Tapi, sejak 2004, sudah berhasil dilakukan isolasi gen anti CVPD berkat kerja keras dosen hama dan Penyakit Tanaman, Universitas Udayana, Bali, I Gede Putu Wirawan.

Membanjirnya jeruk impor dengan harga lebih murah, tampilan lebih genit dan cantik, merontokkan jeruk lokal, mungkin yang menjadi ancaman pelaku usaha.

Berdasarkan data BPS, pada 2003, dalam setahun 57.100 ton jeruk diimpor. Setahun berikutnya, meningkat menjadi 94.450 ton. Uang yang berputar sangat menggiurkan, antara US$46,799 juta hingga US$50,320 juta.

Sedangkan ekspor kita pada 2003-2004 hanya mencapai 859 ton-1.405 ton. Nominal rupiahnya pun jauh lebih rendah, US$273.000-US$1,172 juta. Jika dihitung-hitung, maka jeruk lokal hanya menguasai kurang dari 10% dari total pasar jeruk. Kini, jumlah impor ini bukan kunjung surut. Tapi terus meningkat.

Itu dilakukan karena para importir melihat, tingkat konsumsi jeruk di Indonesia saat ini tidak berhasil ditangkap oleh petani jeruk atau oleh pemerintah. Apalagi para importir tahu, konsumsi di Indonesia, masih bisa ditingkatkan. Karena rata-rata konsumsi jeruk per kapita per tahun Indonesia masih rendah. Terutama dibandingkan dengan rata-rata konsumsi di negara-negara berkembang lainnya.

Sampai 2004 konsumsi jeruk di Indonesia hanya 2,7 kg/orang/tahun. Konsumsi ideal sebesar 6,4 kg/orang/tahun. Kalau saja konsumsi ideal itu terjadi, maka Indonesia memerlukan sekitar 1,3 juta ton jeruk per tahun. Dan itulah yang ditangkap oleh para importir. Mereka sudah mengantisipasi sekaligus merangsang permintaan pasar bergerak menuju tingkat konsumsi yang ideal itu.

Apalagi, jika perhitungan dilakukan berdasarkan standar Organisasi Pangan Dunia atau Food Agriculture Organization (FAO), maka dengan jumlah penduduk saat ini (210 juta jiwa), konsumsi jeruk minimal adalah 1,5 juta ton per tahun.

Untuk memenuhi konsumsi sebesar itu, diperlukan luas perkebunan jeruk seluas 115.000 hektare dengan produksi rata-rata 13 ton per hektare per tahun. Sedangkan saat ini luas perkebunan jeruk di Indonesia hanya berkisar 6.000 hektare. Apa artinya?Potensi pasar berpeluang bergeliat.

Hapus tata niaga

Siswono Yodo Husodo, mantan Ketua Umum HKTI, pun mengakui itu. Persoalannya, pemerintah harus membenahi pasarnya. Dia mengatakan menurunnya produksi jeruk terus sejak 1995 juga karena aturan tata niaga yang dibuat pemerintah, yang justru merugikan petani jeruk. “Sejak ada tata niaga, produksi jeruk merosot drastis. Produksi pada 2000, misalnya, hanya sekitar 30% dari produksi 1995,” paparnya.

Tak heran untuk memenuhi kebutuhan itu, jeruk impor pun menyerbu masuk menutupi kekurangan jeruk di pasar Indonesia. Produk itu, tak hanya duduk manis di rak-rak swalayan yang berpendingin. Jeruk impor juga rela berbecek-becek di pasar tradisional.

Beberapa toko buah di Jakarta memasang harga di atas harga rata-rata jeruk lokal a.l Rp18.000/ kg untuk keprok Australia fremont, Rp18.250/kg untuk keprok Afrika Nova, Rp16.750/kg untuk keprok Australia Gaypak, dan Rp11.400/ kg untuk keprok Ponkam Brasil. Khusus jeruk imperial mandarin malahan mencapai harga Rp18.750/ kg.

Bandingkan dengan harga keprok lokal di toko buah seperti keprok siem banjar Rp8.750/ kg, keprok garut tawangmangu Rp9.750/ kg, keprok pacitan Rp5.500/ kg, dan keprok kintamani Rp8.500/ kg.

“Sebetulnya dari segi rasa tak ada bedanya. Malahan jika dibandingkan varietas lokal macam Soe, Nabire, Tejakula, Selayar, Lumajang, Malang jeruk impor kalah manis,” ujar pakar Jeruk, Wirawan.

Menyedihkannya, jeruk-jeruk unggulan itu di pasar-pasar tradisional atau pedagang kaki lima, semuanya bisa dibeli dengan harga antara Rp3.000-Rp6.000/kg tergantung kualitas dan jenisnya.

Itu pun masih dihajar dengan jeruk impor kelas rendah dengan harga yang rata-rata lebih murah, yaitu hanya antara Rp3.000-Rp5.000/kg.

Jelas, jika produktivitas dan luasan lahan dibenahi, tingkat konsumsi dirangsang menuju ukuran ideal, pemerintah membenahi pasar dan mengurangi penetrasi jeruk impor ke pasar dalam negeri, maka besarnya pasar jeruk lokal, akan menjadi lahan pekerjaan dan sumber nafkah bagi bangsa ini. Jeruk siap mensejahterakan siapa saja, Anda dan kita semua. “Jeruk…jeruk…jeruk…”

*Bisnis Indonesia Edisi: 30/08/2005

4 Responses to "Budi daya jeruk bisa diharapkan, asalkan…"

saya jual CD cara budidaya buah jeruk yg benar, hanya dgn harga 50 ribu/CD. jika berminat silahkan hub.saya di 081-911857815 atau email rozi679@gmail.com.

terima kasih

saya jual jeruknya…

Jeruk apa ya ???

tolong tanya Bapak/Ibu;
bagaimana cara mengetahui jeruk dipohon sudah matang???
terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: