it’s about all word’s

Ciputra: idea trader

Posted on: February 20, 2008

Suksesnya bermula dari jualan ide

Bagi Ciputra, memenangi penghargaan Special Award for Entrepreneur Spirit dalam ajang Entrepreneur of the Year 2005 yang diselenggarakan Ernst & Young, pekan lalu, bukanlah sebuah raihan begitu saja.

Maestro properti yang kini menjadi Presiden Komisaris PT Ciputra Development Tbk itu telah melalui berbagai ujian yang menempa dan membuktikannya sebagai entrepreneur sejati.

Dia bukanlah terlahir dari keluarga pengusaha. Alumnus ITB jurusan arsitektur (1960) itu berasal dari keluarga sederhana di desa kecil Parigi, Sulteng. Ketika berusia 12 tahun, Ciputra sudah kehilangan ayahnya yang meninggal di tahanan tentara pendudukan Jepang karena tuduhan palsu dianggap mata-mata Belanda.

Kepahitan masa kecil menimbulkan tekad dan keputusan penting, yaitu memiliki cita-cita bersekolah di Jawa demi hari depan yang lebih baik, bebas kemiskinan dan kemelaratan. Ciputra kecil kembali ke bangku sekolah walau terlambat yaitu masuk kelas 3 SD di usia 12 tahun.

Ketika kuliah di tingkat III ITB, Ciputra mendirikan jasa konsultan perencanaan dengan dua temannya untuk menutup biaya hidup yang tidak dapat disediakan ibunya dan demi persiapan masa depan. Ini adalah keputusan penting bagi Ciputra dalam proses pembentukan dirinya menjadi pengusaha properti.

Selepas ITB pada 1960, Ciputra berhasil meyakinkan Gubernur DKI (ketika itu) Soemarno untuk mendirikan perusahaan patungan dengan dirinya dan pihak swasta lain, yaitu PT Pembangunan Jaya.

Dia menjadi CEO perusahaan tersebut selama 35 tahun hingga 1996 dan menjadi komisaris sampai kini. Ketika berusia 40 tahun (1971) Ciputra mendirikan PT Metropolitan Development dan menjadi Preskomnya hingga kini. Pada 1980, di usia 50 tahun, Ciputra mendirikan Grup Ciputra bersama istri dan keempat anaknya yang baru tamat kuliah di luar negeri.

Ketika Ciputra pertama kali menjadi pengembang (1961) sesungguhnya dia hanya memiliki gagasan. Dia tidak memiliki tanah maupun modal, namun dia berhasil menjual ide pembangunan kota Jakarta kepada para pemilik modal dan Pemda DKI Jakarta. Dengan pendekatan yang sama, Ciputra menggagas Ancol yang pada masa itu dikenal sebagai kawasan ‘jin buang anak’.

Lebarkan sayap

Keputusan historis lain yang dilakukan Ciputra adalah melebarkan sayap ke luar negeri. Sejak 1990 dia melakukan investasi di Singapura dan Hawai melalui Metropolitan Group. Pada 1990 Ciputra Group membangun proyek patungan hotel bintang 5 dan sebuah kota mandiri Ciputra International City di Hanoi, Vietnam sekaligus proyek real estat terbesar di Vietnam.

Belum lama ini Ciputra mulai membangun kota baru di Kalkuta, India. Saat ini terjadi perundingan serius dengan para pemilik tanah, baik swasta maupun pemerintah untuk membangun kota-kota baru di Kamboja, Malaysia, China, Uni Emirat Arab.

Sampai saat ini sudah 22 kota baru di berbagai kota besar mendapat sentuhan tangannya. Perusahaan binaan Ciputra dapat dilihat di pasar dalam bentuk perumahan low rise ataupun high rise, mal, hotel, lapangan golf, perkantoran, RS, rumah ibadah, resor, dll yang tersebar di dalam dan luar negeri.
*Bisnis Indonesia Edisi: 28/11/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: