it’s about all word’s

Dana dan keandalan intelijen nasional

Posted on: February 20, 2008

Pekan lalu, menjelang Pemilu tahap kedua, Kepala BIN A.M. Hendropriyono dalam rapat dengar pendapat BIN dengan Komisi Pertahanan melontarkan sinyalemen tentang beredarnya temuan intelijen asing yang menyusup dalam LSM asing dan bisa mengganggu keamanan pemilu presiden 5 Juli nanti.

Dua bulan sebelumnya menjelang Pemilu legislatif, dalam apel siaga komandan satuan terpusat (Dansat) 3 Maret 2004, KSAD Ryamizard Ryacudu berpesan agar seluruh jajaran TNI-AD mengantisipasi setiap gerakan intelijen asing.

Membicarakan masalah intelejen memang seru dan menarik, ibarat menonon kebolehan James Bond.

Perjalanan sejarah Indonesia pun tidak lepas dari dunia abu-abu ini yang memiliki begitu banyak jalur dan kemungkinan yang sulit dilacak kebenarannya, bahkan oleh otoritas militer sendiri.

Pusat sejarah angkatan darat TNI pun diyakini akan sangat kelabakan jika harus menerangkan tokoh misterius pejabat intelijen Indonesia pendiri lembaga intelejen Indonesia seperti Zulkifli Lubis, Ernest Julius Magenda, Abdul Khaliq Hussein [paman Abdurrahman Wahid], Yoga Sugomo hingga sepak terjang seorang L.B Moerdani.

Meski banyak sejarah yang ditorehkan oleh mereka seperti kemerdekaan RI, pengembalian Irian Jaya hingga perebutan Timor-Timur, namun beberapa di antaranya, entah mengapa, tidak terdaftar dalam buku Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) yang disusun Harsja W. Bachtiar.

Memang tak mudah mengukur keterlibatan dunia intelijen dalam berbagai peristiwa politik penting dalam perjalanan republik ini. Begitu sumir sehingga kemudian pada Pemilu kali ini pun, isu intelijen masih dijadikan komoditas untuk menakut-nakuti anak negeri sendiri.

Entah mungkin karena ada sebagian dari masyarakat Indonesia masih begitu anti dengan kemunculan presiden berlatar belakang militer, atau karena memang intelijen kita ‘lupa’ sejarah.

Dalam biografi Soemitro Dari Pangdam Mulawarwan sampai Pangkopkamtib yang disusun oleh Ramadhan K.H disebutkan bahwa otoritas intelijen Indonesia 1970-an sudah mengadakan hubungan resmi dengan MI6 (Inggris) dan Mossad.

Belum lagi mengenai operasi pemberantasan PGRS/ Paraku yang secara jelas disebutkan dalam buku Catatan Seorang Prajurit-nya Kharis Suhud yang menyebutkan pasukan Kopasandha (sekarang Kopassus) diterjunkan ke Malaysia atas permintaan Kerajaan Malaysia dengan sepengetahuan Kerajaan Inggris.

Pada masa itu intelijen asing begitu menghormati intelejen Indonesia. Bahkan Belanda pun sampai harus melepaskan Irian akibat gencarnya lobi dan ‘manuver’ direktur Intelijen AD sekaligus Komandan G-1 KOTI (Komando Operasi Tertinggi), Ernest Julius Magenda, meskip sampai saat ini Soeharto tidak pernah mengakui hal tersebut.

Pertanyaan selanjutnya, mengapa Angkatan Darat dan BIN yang seharusnya lebih canggih dan lebih profesional dibanding pendahulu-pendahulunya sampai harus membuat pernyataan yang membuat resah masyarakat.

Sudah sedemikan lemahkah kemampuan intelijen Indonesia semenjak Suharto mencopot L.B. Moerdani dari jabatan Panglima ABRI dan membubarkan lembaga Kopkamtib pada September 1988. Beberapa kalangan menyebutkan menyatakan pencopotan tersebut buntut dari rivalitas Suharto-Magenda pasca G30S PKI.

Orientasi intelijen

Apakah benar intelijen Indonesia tidak mampu karena terlalu berorientasi pada kekuasaan, menopang Suharto, dan menakut-nakuti pihak yang bersuara kritis? Pada awal Pemilu kali ini pun sempat tersiar kabar Kepala BIN A.M. Hendropriyono akan menjadi juru kampanye partai tertentu. Nada minor pun berkumandang terhadap intelijen Indonesia.

Sempat pula muncul ide dari Djadja Suparman agar Dewan Keamanan Nasional (DKN) segera dibentuk dengan alasan tanpa Undang-Undang Subversi dan lembaga macam Kopkamtib, intelijen Indonesia lumpuh. Akibatnya mereka tidak pernah benar-benar mampu mendeteksi dan mencegah hal-hal yang bisa mengganggu keselamatan negara.

Lucunya DKN sebenarnya dimaksudkan untuk meniru ISA atau Internal Security Act yang berlaku di Malaysia dan Singapura, dua negara yang pada 1970-an merengek minta bantuan Indonesia.

Tetapi seorang mantan petinggi BIA pada era Abdurrahman Wahid pernah mengatakan kepada penulis, masalah tumpulnya intelejen Indonesia adalah masalah yang maha penting, yaitu dana.

Menurut dia, kedigdayaan intelejen pada 1970-an hingga 1980-an terletak pada pemahaman Suharto mengenai pentingnya kemampuan intelijen yang sangat kuat untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan.

Kopkamtib dibentuk atas desakan Intelejen Staf Angkatan Bersenjata dan ditanda tangani oleh Soekarno tertanggal 1 November 1965. Hingga 5 Mei 1965, Kopkamtib dibawah komando Suharto langsung dan Sekretaris Kopkamtib Asisten Intelijen dan Pengamanan (Asintelpam) Panglima ABRI Sutopo Juwono (1967-1970).

Pengangkatan Sutopo Juwono sebagai wakil Suharto tak lain karena keengganan Magenda diperintah Suharto yang secara pengalaman dan pendidikan, baik infantri dan intelijen, jauh diatas Suharto.

Ada cerita, yang menggambarkan betapa segannya pada Direktur Intelejen Staf Angkatan Bersenjata (SAB) tersebut, konon saat Magenda meninggal 14 Oktober 1972-meski Ketua MPRS Nasution datang-Suharto tidak muncul sampai upacara militer berakhir.

Di bawah Suharto operasional Kopkamtib dilengkapi dengan Badan Koordinasi Intelijen Nasional (BAKIN), Badan Intelijen ABRI (BIA) atau Badan Intelijen Strategis (BAIS), dan Direktorat Jenderal Sosial dan Politik Departemen Dalam Negeri.

Dari besarnya dana yang dikucurkan, Operasi Tertib misalnya mendapat kucuran biaya yang sangat besar, dalam waktu lima tahun menghabiskan dana hingga Rp700 miliar. Itu belum Operasi khusus Ali Moertopo.

Nah, mungkinkah dari sinyalemen terakhir inilah yang sebenarnya sedang dilontarkan otoritas intelijen dan militer Indonesia. Artinya, mereka sebenarnya sedang butuh ‘belaian kasih sayang’ dan perhatian serius pemerintah.

*terbit di Bisnis Indonesia edisi 01/06/2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: