it’s about all word’s

Dialog tentang realitas hidup

Posted on: February 20, 2008

Judul : Dialog
Penulis: Umar Kayam
Penerbit: Metafor Publishing
Tebal: 325 halaman

Generasi 1970-an hingga 1990-an tentu mengenal Umar Kayam. Ia tidak hanya dikenal melalui artikel-artikel bernasnya yang tersebar di berbagai media massa nasional, tapi juga perannya sebagai Soekarno dalam film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI.

Di setiap artikelnya yang cerdas, kontemplatif, dan kadang ndeso karena penggunaan istilah sinkretis Jawa-Indonesia-nya, Umar secara cerdas mampu menciptakan mitos bahwa dirinya pantas mendapatkan beragam entitas sosial, apakah itu seniman, budayawan, birokrat, atau selebritis.

Dalam kumpulan karangan nonfiksi dari sekitar 30 tahun artikel koran Umar Kayam sejak 1969 hingga 1999, Anda akan menemukan sisi lain Umar. Selama ini karya-karyanya yang njawani dan dialogis itu bagai bumerang, menyelubungi fakta bahwa secara struktural lelaki kelahiran Ngawi, Jawa Timur ini juga seorang ilmuwan birokrat. Dia pernah menjabat Dirjen Radio, Televisi dan Film, Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta, dan Guru Besar Fakultas Sastra UGM.

Dalam kumpulan tulisan ini terbersit jelas kekentalan kadar ilmu dan teori dari Umar yang coba disuntikkannya kepada pembaca. Tentu saja dengan risiko artikelnya terasa berat dan kurang nyaman untuk dibaca.

Tak heran jika buku ini menyertakan indeks lengkap layaknya penerbitan ilmiah. Nampaknya penerbit sadar, pembaca fanatik Umar akan lebih sering menutup buku ini untuk beristirahat, lalu menyimpan buku ini ke dalam lemari untuk beberapa waktu.

Sebaliknya bagi pembaca tanpa emosi fanatisme, justru kenikmatan tersendiri saat mengikuti kelicahan pisau analisis Umar yang berusaha menyayat kondisi sekitarnya.

Relevan dan aktual

Hebatnya, tulisan Umar meski kadang sudah berumur di atas angka puluhan tahun ternyata masih bisa berbicara untuk kondisi saat ini. Sangat relevan dan aktual dan kadang memalukan jika diingat bahwa itu masih merupakan realitas bangsa saat ini.

Coba tengok saat Umar membuka Dialog dengan bertutur tentang kondisi taksi di ibu kota negeri ini yang tak kunjung beres. Mulai dari supir taksi yang ndeso karena tak tahan dinginnya AC hingga supir taksi yang sok gaul.

Atau dalam Di Tengah-tengah Kita Kitsch, saat Umar gusar melihat kondisi industri budaya Indonesia yang entah selalu kalah oleh derasnya serbuan budaya impor yang lebih glamor dan justru diamini pejabat dalam negeri.

Dialog makin tajam dengan ditampilkannya lima artikel Umar, yaitu RRI-TVRI, Ngesti Pandowo, Wayang Orang Sriwedari, Ketemu Sardono dan Film Indonesia Menjadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri.

Umar pun bisa memaki-maki tanpa emosi. Lihat saja saat dia geram pada sistem sosial hingga budaya buas dan kebiasaan maling bangsanya di Budaya Harus Bayar, Dalang Kerusuhan, Korupsi dan Nepotisme Kaliber Teri lalu Peledakan Stupa-Stupa.

Seperti sebuah gelombang, oleh penerbit Dialog ditutup dengan perenungan dengan Naik Haji dan Setahun Yang Lalu di Padang Arafah.

*Bisnis Indonesia Edisi: 02/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: