it’s about all word’s

Diana L. Eck: Harry Potter fans club

Posted on: February 20, 2008

Nama Diana L. Eck mungkin masih asing dikalangan masyarakat awam Indonesia. Namun bagi peneliti sosial, khususnya tentang pluralisme dan Islam di Amerika, namanya sudah tak asing lagi.

Bagi Amerika, Islam memang fenomena. Di satu sisi merupakan agama yang paling cepat pertumbuhannya, di sisi lain begitu diwaspadai karena dianggap sebagai akar terorisme yang sempat membuat Negeri Adidaya itu pontang-panting.

Nama Diana makin menyeruak sejak A New Religious America diluncurkannya setelah peristiwa runtuhnya WTC 11 September 2001. Buku ini sekaligus mengukuhnya sebagai salah satu pemikir pluralisme di Amerika.

Sebelumnya Encountering God, suatu kajian yang penuh dengan simpati, tetapi juga kritis atas pandangan ketuhanan dalam tradisi Hinduisme dilihat dari sudut pandang teologi Kristiani itu, mampu membuat banyak peneliti keagamaan terpukau.

Tetapi dibalik karya-karyanya yang menjulang dan penuh pemikiran kritis, ternyata Professor of Comparative Religion and Indian Studies di Harvard University itu termasuk penggemar karya J.K. Rowling yaitu Harry Potter.

“J.K. Rowling mampu menyajikan sebuah buku yang penuh dengan fantasi dengan sangat menarik dan di-sajikan dengan cermat,” ujarnya sembari tersenyum saat ditemui usai peluncuran buku Amerika Baru yang Religius di Wisma Antara, Jakarta.

Dia mengaku buku ini tidak pernah ketinggalan untuk dibaca meski saat ini dirinya sedang berkonsentrasi melahap karya Toriq Ramadhan, pengajar Filsafat dan Kajian Islam di Universitas Fryborge, Swiss, dan salah seorang penulis yang terpenting mengenai Islam di Eropa.

Untuk urusan buku meski Diana tergolong kutu buku pasti sangat pilih-pilih. Maka novel Harry Potter sangatlah mengejutkan jika melihat bidang yang ditelitinya itu.

Menurut dia, membaca Harry Potter adalah sisi lain dari seorang peneliti. “Sebagai pengajar, peneliti dan penulis, banyak uang dan waktu habis untuk buku. Beruntung banyak penerbit yang mengirimkan buku-bukunya untuk saya. Tetapi tidak untuk Harry Potter.”

Saat disinggung perihal fatwa harap pluralisme oleh MUI, penerima medali National Humanities dari Presiden Bill Clinton itu berpendapat fatwa bukan menjadi masalah besar. “Bagaimana pun harus diterima kenyataan bahwa Indonesia, seperti halnya Amerika, terdiri dari berbagai agama.”

Justru yang menjadi pertanyaan adalah sulit untuk mengetahui seberapa banyak orang Indonesia yang secara sadar membaca buku dan mengerti tentang pluralisme tersebut.

*Bisnis Indonesia Edisi: 04/09/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: