it’s about all word’s

Djoenaedi Joesoef: On interview

Posted on: February 20, 2008

‘Soal keamanan sulitkan pengembangan usaha’

Menjadi wirausahawan besar tidak mudah. Tidak ada sekolahnya, butuh ilmu, banyak taruhan. Wirausahawan besar merupakan orang yang harus siap untuk bertarung setiap saat, memiliki bakat, keberanian dan hoki.

Bukan rahasia kalau dunia memandang Indonesia sebagai surga pengusaha kotor hingga koruptor. Namun, sejak diserahkannya penghargaan bergengsi Entrepreneur Of The Year (EOY) dari kantor akuntan publik Ernst & Young kepada orang Indonesia, paradigma itu mulai berubah.

Tak mudah meraih penghargaan yang diciptakan di AS (1986) itu. Pasalnya EOY diberikan bagi entrepreneur yang dinilai paling berhasil dan inovatif.

Selama 17 tahun terakhir, program penghargaan EOY telah menjangkau lebih dari 30 negara. Dua tahun lalu penghargaan itu diberikan pada Djoenaedi Joesoef, pemilik dan pengelola PT Konimex.

Langkahnya fenomenal dalam dunia bisnis a.l. menjual obat tanpa resep dokter seperti Paramex dan Inza dalam kemasan empat butir sebagai paradigma penjualan obat yang meringankan rakyat kecil. Juga kemasan permen Hexos empat butir dalam bungkus alumunium foil.

Pekan lalu wartawan Bisnis Algooth Putranto berbincang dengan Djoenaedi Joesoef di kantornya di Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo.

Apa yang menjadikan Konimex mampu berkembang sebesar dan sepesat sekarang ?

Pada awalnya, saya banyak bergerak di bidang jual beli obat hingga peralatan kesehatan yang sangat menguntungkan [sejak 1949]. Lama-lama saya pikir susah juga berkutat di banyak produk. Akhirnya, saya putuskan untuk berkonsentrasi di bidang obat-obatan saja.

Pertama-tama Mexaqueen [obat malaria], wah ini kok laris banget. Selanjutnya pada 1972 kegiatan perdagangan, produksi obat generik, resep dokter saya stop. Konsentrasi di obat tanpa resep. Kita ingin fokus!

Mengapa harus menghentikan sumber pendapatan yang besar. Bukankah hal tersebut sangat menguntungkan bahkan kemudian Konimex benar-benar beralih ke bisnis yang lebih mikro?

[Sambil membetulkan letak kaca mata] Saya pikir ini [produksi obat tanpa resep dokter] yang menguntungkan dan untuk fokus! Dan akan memberikan pendapatan yang terbaik bagi saya.

Untuk itu pegawai dan pabrik sudah ada di Ngapeman sejak 1960. Pada 1962 membeli tanah di Mesen. Tiga tahun kemudian pabrik pindah ke Mesen. Terus, berkembang hingga 1980 pindah ke sini [Desa Sanggrahan, Grogol, Sukoharjo]

Dimulai dengan sekitar 70 orang pegawai, kini Konimex didukung oleh 4.000 orang pegawai. Memiliki kantor pusat hampir diseluruh kota besar provinsi [kecuali Aceh dan Papua].

Dengan lebih dari dua ratus produk dan lebih dari seratus merek, kini Konimex merambah dunia internasional dengan mendistribusikan produknya di Singapura, Taiwan, Malaysia, Hong Kong dan Filipina.

Apakah saat Anda memilih untuk fokus pada satu bidang, ada sesama pebisnis yang memilih jalan serupa?

Orang lain ada, tetapi tidak fokus. Ya masih ada bidang bisnis kecil di luar bisnis utama mereka. Lalu ada yang mulai fokus seperti Grup Tempo dan ABC.

Memang mereka yang terlebih dahulu fokus. Tetapi tidak benar-benar fokus. Tempo masih menggarap obat resep dokter, masih menjadi agen perusahaan luar. Selain itu sebetulnya mereka berdiri sejak 1950.

Selain itu ada Bintang Toedjoe. Sejak dulu sudah besar dan fokus di obat tanpa resep dokter, namun belakangan ikut produksi obat dengan resep dokter. Jadinya tidak fokus lagi.

Mereka dulu itu, senior-senior semua, pada jamannya ayah saya [Joe Hong Siang, pemilik obat Eng Thay Hoo di Solo]. Sekarang saya yang menjadi sesepuh [sambil tertawa dan menepuk dahi].

Tetapi, apa yang membuat produk Konimex mampu merebut hati konsumen? Kita tahu produk nasional sering kalah dibanding produk luar negeri?

Lha [kualitas] barang ndak kalah kok. Kualitas kita ndak kalah. Kan kita punya falsafah tiga Mu. Mutu, mudah, murah. Mutu mesti baik, mudah didapat dan murah orang kecil bisa beli.

Untuk kualitas, ya quality control-nya harus ketat. Dan itu harus terus diperbaiki. Sejak bahan baku hingga distribusi produk ke daerah. Setiap daerah memiliki kode tertentu.

Kualitas mesti baik. Sebab bisnis itu adalah jahat, musuh kita banyak! Bisa saja mereka beli produk kita di suatu tempat. Katakanlah di Pacitan, Jawa Timur, lalu di tes di laboratorium. Wah isinya kok ndak sesuai. Lapor pemerintah, masuk koran terus geger.

Memang itu ndak pernah [terjadi]. Kalo kowe [Anda] bilang produk saya ndak baik, ayo kita adu argumentasi sama-sama. Saya tahu produk saya itu dipalsu orang.

Apakah pemalsuan juga merambah produk Konimex?

Sering. Angel [susah] untuk memberantasnya. Lha wong mereka memakai backing oknum pejabat tinggi dari pemerintah.

Untuk mencegahnya kemasannya saya bikin canggih. Yang bonafid. Paling tidak, misalnya, mereka ingin memalsu dan tertangkap petugas, korban [finansial] mereka juga besar.

Pernah suatu kali ada pemalsu. Saya kejar ke Singapura. Pabriknya tutup lalu dijual ke Malaysia. Saya kejar ke Malaysia. Kejar terus.

Bagaimana produk Konimex merambah sampai pelosok?

Saya buka distribusi seluas mungkin. Kalau tentara kan di medan perang punya barak. Ya, meniru bank lah. Semua kota besar. Kecuali Aceh dan Papua. Aceh dulu pernah buka tetapi tutup karena ada pegawai yang tertembak dan harus mengibarkan bendera GAM.

Posisi kita sulit. Di satu sisi kita ditekan GAM, di sisi lain kita warga Indonesia. Padahal bisnis di Aceh itu baik. Tetapi dalam waktu dekat saya akan buka kembali.

Soal keamanan ini memang menyulitkan pebisnis untuk mengembangkan usahanya. Sebagai contoh, tidak hanya Aceh yang harus tutup. Di Poso, kita harus mengeluarkan cost tambahan karena ada kerusuhan di tempat tersebut. Begitu juga di Sampit.

Namun, seperti prinsip orang dagang. Kalau aman dagang, kalau tidak aman ya nanti dulu. Tentu saja untuk dagang di tempat yang baru diperlukan keberanian.

Selain itu, orang dan sarana di daerah harus didayagunakan untuk mendukung usaha kita. Sebagai contoh di Kalimantan, kami menggunakan perahu untuk menyapa konsumen yang tinggal di sepanjang sungai.

Untuk mendukung tiga Mu tersebut, tentu Konimex membutuhkan dukungan SDM yang baik. Di sisi lain banyak orang menilai, SDM Indonesia masih di bawah SDM luar negeri. Bagaimana Konimex menyikapi hal tersebut?

Oh ya, untuk mutu sebetulnya kita ndak kalah dengan luar negeri. Kita pakai orang lokal kok. Ya, kalau mereka belajar cukup seminggu untuk pintar, kita butuh waktu sebulan. Setelah itu kan sama.

Ndak usah minder. Mereka unggul karena menguasai ilmu itu lebih dahulu dari kita. Tetapi kita apa kalah? Ya, tidak. Tetapi karena kita terlalu lama dijajah londo [Belanda] jadinya minder. Toh, sebetulnya orang bule juga banyak yang bodoh, ya kira-kira sama dengan kita.

Untuk menjaga agar bisnis Konimex tetap eksis ?

Tentu saja strategi bisnis yang diperbaharui terus menerus. Memperbanyak produk kan falsafahnya seperti punya kapal perang lalu punya armada perang. Dan untuk itu tidak perlu mempekerjakan orang asing. Orang kita juga ndak kalah, podho [sama] kok

Jalan apa yang ditempuh Konimex untuk tetap bersih dan jujur dalam berusaha?

Ya, ikut saja. Sebagai contoh cari paspor ada travel agent. Lha habis gimana? Jika kemudian ada yang berbuat cara yang tidak benar, ya, kita tidak usah ikut.

Sebagai contoh, saya pun juga meminjam uang ke perbankan tetapi tidak ikut-ikutan ngemplang. Memang, jika kemudian utang itu macet orang akan mengatakan,”kenapa tidak ikut ngemplang.” Tetapi saya punya prinsip, terserah orang mau melakukan apa, prinsip saya ya bayar utang.

Apa yang kamu yakini ya harus dijalankan. Nomor satu ya tanggung jawab ke Tuhan dan hati nurani.

Soal bisnis keluarga, bagaimana Anda menjaga kelangsungan Konimex?

Ya, kita berusaha agar perusahaan ini berjalan seperti perusahaan umum yang profesional. Apa-apa pakai perhitungan. Tetapi apapun usaha dijalankan, Tuhan yang menentukan. Yang penting usaha dijalankan dengan benar, uripe sing genah [hidup yang benar].

Anda adalah salah satu entrepreneur Indonesia yang sukses di dalam maupun di luar negeri. Menurut Anda, bagaimana agar enterpreneur tumbuh pesat di Indonesia?

Sampai saat ini masih banyak orang berpikir wirausahawan itu selalu konglomerat, padahal enterpreneur itu mulai dari tukang bakso hingga jual roti.

Namun, untuk menjadi wirausahawan besar tidak mudah. Tidak ada sekolahnya, butuh ilmu, banyak taruhan. Wirausahawan besar merupakan orang yang harus siap untuk bertarung setiap saat. Harus ada bakat, keberanian dan hoki.

Indonesia memiliki sumber daya yang besar, mengapa Indonesia masih selalu kalah dibanding negara lain?

Sebagai perbandingan. Jaman Jepang kita tak pernah kurang gula dan garam. Sekarang kita impor gula hingga garam. Ya [sambil menghela napas] gobloknya orang Indonesia.

Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Kita keluar jalur. Sejak jaman hebat Bung Karno, kok lemah lagi. Kalau diperbandingkan dengan China berapa tahun mereka baru bisa mencapai kemajuan seperti sekarang? Menderitanya hampir 40 tahun.

Namun yang membangun infrastruktur adalah pemerintah [China] sendiri. Di sini tidak, kebanyakan diborong orang luar. Padahal kalau dihitung-hitung sebetulnya tidak usah.

Untuk mencapai kemajuan seperti China, apa yang harus dilakukan pemerintah?

Pemimpinnya harus jujur. Kesejahteraan pegawai pemerintah harus ditingkatkan hingga sejahtera. Selain itu harus diperjelas tentang pengertian perkembangan ekonomi itu sendiri.

Indonesia ini katanya ekonominya berkembang, tapi apa yang berkembang? Bangunan, real estat, mobil hingga sepeda motor itu kan tidak memberikan nilai tambah.

Selain itu pemerintah jangan mengganggu dunia usaha! Izin dipermudah, meningkatkan produktivitas dan kreativitas masing-masing.

Ya, harus minta izin, memang, harus dikontrol ya memang. Lihat saja mana ada jualan listrik dan air yang rugi. Tapi kita? [sambil menepuk kepala dan menggelengkan kepala]. Kontrol untuk melindungi masyarakat harus dijalankan.

*Bisnis Indonesia Edisi: 15/05/2005

3 Responses to "Djoenaedi Joesoef: On interview"

Do you have the article about Djoenaedi Joesoef in english?

nope…sorry

wonderful job mr.djoen!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: