it’s about all word’s

Eddie Lembong

Posted on: February 20, 2008

Sering dapat hadiah buku

Long life study, belajar seumur hidup. Selain memperkaya diri dan memperlambat proses pikun, terus belajar membuat seseorang makin bijaksana memandang kehidupan. Dan membaca merupakan cara efektif untuk belajar.

“Tiap pagi dari jam empat sampai jam tujuh, saya baca buku dulu sebelum pergi ke kantor,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Eddie Lembong.

Pria kelahiran Tinombo, Teluk Tomini, Sulawesi Tengah, dengan nama asli Eddie Ong Joe San ini sejak awal karirnya terkenal sebagai kutu buku sejati. Bahkan Eddie pernah tercatat sebagai anggota Redaksi Suara Farmasi di masa 1965-1967.

Setelah tamat ITB Jurusan Farmasi, Eddie menjabat sebagai Dosen Jurusan Farmasi dan Kepala Perpustakaan Farmasi ITB. Hampir lima tahun dia bertahan di kampus itu.

Setelah itu, dia menjadi direktur PT Wigo di Jakarta, lalu menjadi direktur PT Wellcome Indonesia. Setelah itu, Eddie mendirikan PT Pharos Indonesia pada 1971. Pada tahap pertama, yang dilakukannya ketika itu adalah mendirikan perpustakaan farmasi dan kedokteran yang tergolong sangat lengkap.

Tidak mengherankan jika kemudian kawan-kawan sesama pengusaha dan seprofesinya mengenal Eddie sebagai orang yang suka membaca buku. “Makanya saya sering mendapat hadiah buku dari kawan-kawan. Macam-macamlah.”

Namun sejak tidak aktif lagi di PT Pharos Indonesia, suami dari Melly Saliman ini sekarang mengutamakan bacaan tentang masalah keindonesiaan, termasuk tentang etnis Tionghoa di Indonesia atau di dunia.

Tak tangung-tanggung, dalam lima tahun terakhir, koleksi buku sosial politik Eddie sudah bertambah 500 judul, baik yang dibeli sendiri atau hadiah dari teman. Jika dihitung-hitung, koleksi buku sosial politiknya sudah mencapai 1.000 judul.

“Hampir setiap kali ke luar negeri pasti sekitar empat sampai lima buku saya beli. Saya tidak ada belanja atau hobi lain kecuali beli buku. Jadi sepanjang ada duit, saya beli buku,” ujarnya sembari menepuk-nepuk tas mungilnya yang disesaki buku-buku baru.

Menurut Ketua Bidang Industri Gabungan Pengusaha (GP) Farmasi ini, dunia buku Indonesia sudah berkembang pesat.

Sebagai contoh, buku Pemikiran Politik Etnis Tionghoa Indonesia 1900-2002 sebetulnya sudah pernah muncul di Singapura pada akhir 1970-an dalam versi Bahasa Inggris.

Namun, buku ini baru sekarang bisa diterjemahkan dan beredar dengan bebas di Indonesia. Tentu saja sejak reformasi buku-buku yang muncul tidak hanya buku-buku tentang etnis Tionghoa.

Eddie melihat buku-buku yang membahas masalah PKI, G30S, ketentaraan, ekonomi kini bermunculan dengan lebih pilihan topik yang beragam dan lebih berimbang.

*Bisnis Indonesia Edisi: 02/10/2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2008
M T W T F S S
« Jan   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
2526272829  
%d bloggers like this: